
"Woe...hey...berhenti...mobil hitam berhenti!" terdengar teriakan suara seorang wanita di kejauhan yang berusaha menyetop mobil yang baru menyerempet laki-laki itu. Namun rupanya mobil itu tidak berhenti.
"Kamu tidak apa-apa hey cowok?" tanya perempuan itu pada Arga.
"Terimakasih...aku tidak apa-apa...aku baik-baik saja." Ucap Arga lagi, namun sepertinya perempuan itu begitu teliti.
Ia melihat-lihat dari ujung kaki sampai kepala Arga disana.
"Tidak ada goresan...tidak ada memar...dan sakit...jangan-jangan otakmu yang bergeser ya?" tanya wanita itu sambil menggoyang-goyangkan kepala Arga saat itu.
"Hey...stop! bisa-bisa aku beneran gagar otak ini kalau kamu goyang-goyangkan sampai sebegitunya!" ucap Arga dengan sewotnya. Membuat gadus itu tersadar.
"Oh...oke-oke...kelihatannya kamu baik-baik saja...ya sudah aku tinggal kalau begitu." Ucap gadis itu sambil merogoh uang lima puluh ribuan di kantongnya dan menyumpalkanya ke tangan Arga.
"Hey kau! aku tidak butuh uang!"
teriak Arga saat wanita itu beranjak pergi.
"Haaaiiiizzz cowok ini..." ucap gumam wanita itu sambil merogoh kantongnya lagi dan mengambil uang seratus ribuan dan menyerahkan kembali ke Arga lagi.
"Ini bisa kamu buat makan untuk sehari,
jika tubuhmu sakit semua karena jatuh tadi...jadi terima saja, jangan protes." Ucap wanita itu lagi.
"Tapi...." ucap Arga tertahan karena wanita cantik itu berlalu pergi begitu saja.
"Udah jangan tapi-tapi, da..." ucap gadis itu yang lalu pergi begitu saja.
"Dari tubuhnya sepertinya ia tidak kekurangan gizi apa lagi kekurangan makan." Gumam wanita itu sambil berjalan.
Satu jam sudah Nindi bermain ponsel yang ia bawa tadi dan barusan ia menutup video callnya dengan sahabatnya. Yaitu "Satria," putra dari tante Neta yang ada di luar negri, tante Neta adalah sahabat baik mamanya. Usianya terpaut hanya lima bulan saja dengan Nindi. Tiba-tiba...terdengar telephonenya berbunyi.
"Sayang kamu dimana?" tanya mama Anin pada Nindi.
"Ma...aku sedang di taman dekat pasar...Nindi tadi kan sudah bilang sama mama...masak lupa sih?" ucap Nindi.
"Iya mama tahu sayang...mama tanya apa kamu sudah mau pulang atau perjalanan pulang? kan mama tidak tahu..." ucap mama Anin lagi.
"Terus ma? ada apa?" tanya Nindi balik pada mamanya.
__ADS_1
"Mama minta tolong...papamu ingin makan ayam bakar...tapi seladanya lagi habis...kamu bisa tolong mama belikan tidak?" tanya mama pada Nindi.
"Iya mama...sebentar ya mama sayang...mau apa lagi? nitip apa lagi sekalian..." tanya Nindi lagi.
"Hemmmmz...." gumam mama masih teekesan mikir-mikir saat itu.
"Tapi tidak lebih dari seratus ribu ya ma..." ucap Nindi lagi. Yang saat itu membuat mamanya sedikit terkejur.
"Sejak kapan anak mama jadi perhitungan gitu masalah uang sayang?" tanya mama Anin.
"Tadi itu ma...ada cowok cakep...tapi pakaiannya belel gitu...kasihan dia ke srempet mobil ma...Nindi kasih deh uang biar buat makan, jadi uang saku Nindi tinggal seratus ribu ma...Nindi males ambil di atm lagi...jadi kalau nitip jangan sampai lebih dari itu...nindi juga butuh buat ojek pulang ma..." ucap Nindi pada mamanya yang terkesan memelas.
"Kamu sih...ada mobil kado ulang tahun dari papa dan mama juga nggak di pakai...sukanya naik ojol...gimana sih...motor juga ada...nggak kamu pakai...makanya cepat cari pacar sonoh...biar ada yang antar jemput!"
ucap mama dengan antusiasnya, karena selama ini mama tidak pernah dengar cerita putrinya itu dekat dengan laki-laki di usianya yang sudah dua puluh dua tahun itu. Karena menurut Nindi, laki-laki hanya akan mendekati keluarganya buka tulus mencintainya.
"Mama...di kira bikin adonan bakwan apa cepet-cepet...pokok jodoh sudah ada yang ngatur ma...sudah deh...jangan bahas lagi, Nindi tutup ya telephone nya." Ucap Nindi. Gadis itu merasa sedikit sensitif jika menyangkut laki-laki.
"Iya, iya, iya sayang...jangan lupa belikan seladanya ya...sama kalau masih ada uang...sekalian apelnya juga ya..." ucap mama Anin. Lalu Nindi menutup telephonenya.
Nindi memasukkan kembali pinselnya ke dalam tas rangselnya, lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia menuju penjual teh tarik susu yang ada di pinggir taman itu. Ia membelinya lalu menikmati minumannya sambil masuk ke dalam mini market. Nindi memilih apel fuji dengan teliti.
"Eh...itu kan cowok yang tadi...kenapa berkeliaran di minimarket ya?" tanya dalam hati Nindi. Setelah ia membayar dan menerima apel fujinya, ia bergegas menghampiri cowok yang kesrempet mobil tadi.
"Hey...kamu..." kata Nindi sambil menarik kerah belakang baju Arga, Arga sedikit terhuyung dan sempoyongan karena yang menarik kerahnya lebih pendek dari dia.
"Hey apa yang kamu lakukan? urus saja urusanmu sendiri!" ucap Arga seketika dengan langkah terhenti dan menarik tangan Nindi agar ikut berhenti menariknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?celingak-celinguk dari tadi aku lihat, mau maling ya kamu?" ucap Nindi seketika.
"Hey kau!" suara serak Arga yang tertahan dan ia hampir marah oleh perkataan Nindi barusan.
"Aku tidak kenal kamu...jadi tolong jangan ikut campur urusanku." Ucap Arga dengan tegasnya, dan berlalu pergi begitu saja.
"Gimana aku tidak urus...aku lihat kamu celingukan dari tadi." Dengus Nindi kesal dan berlalu pergi begitu saja dari minimarket.
"Ugh...dasar cewek...heran juga ya...dua kali aku sudah ketemu dia, kalau dia tidak simpati padaku dalam keadaan kondisi ku seperti ini...mungkin aku akan mengabaikannya...karena semua wanita itu sama. Mata duitan." Ucap Arga yang tanpa sadar sudah memasukkan Nindi kedalam hatinya. Sedangkan lelaki itu hanya tahu...wanita suka yang mapan dan punya segalanya. Tapi saat itu keadaannya berbeda...pakaian kucel belel yang Arga kenakan...tapi gadis itu masih mau bersimpati dan menentang jika akan mencuri.
Arga memang tergolong playboy...di luar Negri ia berkencan tidak hanya dengan satu wanita saja...tapi berbagai jenis wanita sudah ia coba kencani, namun hubungannya hanya sebatas nonton, makan dan jalan-jalan itupun yang paling lama hanya bertahan satu bulan saja, baginya wanita itu membosankan...hanya tahu caranya menghabiskan uang.
__ADS_1
Nindi berjalan di atas teriknya matahari menuju pasar yang tidak kumuh bagi orang memengah kebawah, karena Nindi sudah terbiasa dari kecil selalu ikut atau di ajak bi Ani dan bi Ana bahkan mamanya untuk masuk ke dalam pasar-pasar tersebut.
Nindi tiba di penjual sayuran, ia memilih-milih selada yang masih sangat segar saat itu.
"Aku mau seladanya sekilo bu..." ucap Nindi lalu ia pun memberi sejumlah uang pada penjual tersebut dan membawa bungkusan selada itu menuju keluar pasar.
"Hah....aku ketemu cewek itu lagi!?gila...benar-benar gila!" ucap Arga yang berada di dalam pasar itu juga.
"Ada apa Ga?" tanya Johan teman Arga yang berada di sampingnya saat itu.
"Gila nggak sih jo...belum ada sehari aku sudah ketemu cewek itu tiga kali! bayangin aja! tiga kali! bukan hanta sekali." Ucap Arga tiba-tiba dengan nerocosnya.
"Katanya ya Ga...kalau ketemu sampai tiga kali itu namanya jodoh Ga...!" ucap Johan yang mencoba memberitahu.
"Jodoh apanya...dia ketemu aku pertama kali saja aku di sumpal uang seratus lima puluh ribu tahu nggak! ketemu kedua kalinya dikira aku mau maling...dan ke tiga kalinya ini tadi." Ucap Arga yang menerangkan. Dan seketika itu juga suara tawa Johan pecah, baru kali ini ia melihat wanita yang tidak langsung jatuh hati pada sahabatnya itu.
"Eh tunggu sini jo...aku tinggal sebentar." Ucap Arga sekerika.
"Ya...kalau ketemu wanita cantik langsung ngibrit deh si Arga." sahut Johan dan melaksanakan perkataan Arga. Lelaki itu menunggu disana.
"Tunggu!" sergah Arga saat Nindi akan keluar pasar. Rupanya lelaki itu tengah mengejar Nindi disana.
"Ada apa?" sahut Nindi tanpa menoleh, suaranya sedikit ketus, karena ia tahu bahwa suara itu adalah milik lelaki yang tadi tersrempet mobil dan ada di mini market.
"Eh kamu lagi...si baju belel..." ucap Nindi asal-asalan.
"Sembarangan saja kalau ngomong...baju belel-baju belel...! ganteng gini di katain." Ucap Arga sewot.
"Hey, sudah deh jangan kepedean lagi...ada apa kamu nyetop aku?" tanya Nindi pada Arga.
"Kamu tadi kan sudah dari minimarket...kenapa tidak sekalian beli di sana saja?" tanya Arga ingin tahu.
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi kepo gini ya?" sergah Nindi.
"Aku beneran ingin tahu nih...ayo jawab!"
tanya Arga dengan mendesak memaksa.
"Aku nggak mau jawab ah..." kata Nindi yang disengaja, lalu bergegas dan berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1