Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Bak Cinderela dalam negeri dongeng


__ADS_3

Petang kian memudar dan yang tersisa tinggalah


bias bias cahaya oren kecoklatan yang kian memudar dan hampir hilang di balik awan. Tanda hari sudah gelap, Petang hampir hilang dan mulai masuk malam.


Terlihat Arga masih setia duduk di atas batu besar di tepi pantai yang tidak begitu jauh dari tempat acara.


Sebelah kakinya tertekuk ke atas dan sebelah lagi selonjoran lurus. Kedua tangannya bersandar pada lututnya yang sedang ia tekuk, Pandangan matanya menatap lurus ke depan, Dimana buih buih yang ada di lautan begitu banyak hingga tidak terhitung jumlahnya.


Dibenaknya hanya ada pertanyaan "Mengapa?" Pertanyaan itulah yang mulai memenuhi isi otaknya. Hingga ia mengabaikan semuanya. Bahkan seharian ia lupa akan mengisi perutnya yang sudah berontak dari siang tadi dan tidak ia hiraukan. Pandanganya masih betah menyaksikan ombak yang bergulung gulung bergantian dengan indahnya. Dalam hatinya hanya ada bayangan Nindi, Ya...Nindi yang selalu menolaknya dan menganggapnya hanya main main belaka.


Andai Nindi tahu perasaanya saat ini...belum lagi pikiranya pun menjadi kacau saat ia merasa belum sepenuhnya jujur pada kekasihnya itu siapa dia yang sebenarnya, Sungguh Arga tidak ingin penolakan...ia tidak akan sanggup.


"Bos...sudah waktunya..." Ucap anak buah Arga yang tadi sudah ia kadih tahu untuk mengingatkanya jika waktunya pesta Audry sudah tiba.


"iya...biarkan sebentar lagi!" Ucap Arga dengan nada suara datarnya dan pandangan masih lurus tanpa menoleh pada orang yang sedang berbicara padanya.


Dan dengan anggukan patuhnya, Anak buah Arga itu pun mundur untuk pergi meninggalkan tempat Arga.


Anin dan Rendi sudah sampai di tempat pesta beberapa saat yang lalu, Begitu meriah namun tanpa sesak tamu undangan, Karena...yang di undang pada malam itu adalah orang orang terdekatnya si mempelai dan yang punya hajat.

__ADS_1


Sedangkan di pojok kamar hotel yang Nindi tempati.


Terlihat Nindi mondar mandir dengan pakaian pestanya,


Perasaanya sangat cemas, Namun ia sudah memantapkan hati untuk menunggu Arga, Mempercayainya dengan segenap jiwa raga dan juga hatinya. Ia sudah nenunggu Arga hampir satu jam lamanya, Pakaian yang ia kenakan sudah mulai kusut karena genggaman jemari tanganyq.


Ia bahkan hampir menyerah, Ia marah...Bahkan Tanpa alasan pasti Arga memperlakukanya demikian.


"bukgh!" Ia melempar tas tanganya ke atas sofa, Dan ia juga melempar sepatu heals nya ke segala arah tanpa memperhatikan kemana heals nya melayang.


"Tok tok tok!" Tiba tiba suara ketokan dari luar pintu kamar hotelnya, Sontak membuatnya terkejut. Namun yang pasti ia tidak menyangka dan sudah tidak ingin mengharap kehadiran Arga, Meski di dalam hatinya ia begitu menginginkan jika yang mengetuk itu adalah Arga.


"ya...ada apa?" Tanya Nindi saat ia baru saja membuka pintu kamarnya yang ia kira adalah petugas hotel.


"Apa aku perlu mencarimu saat ada apa apa saja?" Ucap lelaki yang masih mematung di luar pintu kamarnya.


Kini pandangan mata Nindi menatap tajam ke arah lelaki tampan tersebut, Lepalanya yang mulanya tertunduk kini menengadah menatap lurus lelaki yang ada di hadapanya dengan tinggi yang beberapa jengkal darinya.


Matanya berkaca kaca tanpa sebab, Hingga ia tanoa sadar berhambur ke pelukan sang lelaki tersebut.

__ADS_1


"Apa maksudmu? kenapa kamu baru datang? aku sudah menungguimu cukup lama hingga aku bosan...!" Ucap Nindi sambil terisak di pelukan Arga.


"Kamu nangis hanya gara gara aku datang telat sayang?"


Ucap Arga sambil menarik mundur tubuh kekasihnya dari pelukanya dan menatap manik hitam di mata Nindi untuk beberapa saat. Kedua tangan kekarnya memegang kedua pundak Nindi sambil mengguncangnya perlahan.


"Maaf...Arga...aku tahu aku salah...kamu patut marah padaku...aku nggak akan menolakmu lagi kok...tapi nggak juga pakai tangan kosong kan Arga?" Ucap Nindi yang berbinar senang dan begitu bahagianya karena Arganya telah kembali lagi padanya. Apa yang ia takutkan tidaklah terjadi, Dan ia patut bersyukur karena dicintai orang se hebat Arga. Di sisi lain...Arga pun begitu terkejutnya hingga mematung cukup lama. Ia mendengar apa yang ingin ia dengar, Namun ada sedikit khawatir pula disana.


"Hya...kenapa malah bengong...sini...!!" Ucap Nindi sambil menarik lengan Arga.


"Sini...ayo bantu aku ngumpulin sepatu aku yang aku buang tadi...! kita udah telat Arga!!" Ucap Nindi lagi.


"Aaah....iya iya...." Sahut balasan Arga yang ikut serta Nindi masuk ke dalam kamar hotelnya. Keduanya celingukan mencari keberadaan sepatu merah menyala milik Nindi.


Arga menemukan terlebih dahulu sebelah sepatu yang sedang Nindi cari, Dan sebelah lagi sudah Nindi pakai.


"Sayang...kalau aku yang nemuin duluan...kamu mau kan aku lamar ntar?" Ucap Arga dengan seriusnya.


"Iya iya...aku mau Ga...tapi nunggu paling nggak tiga bulan apa empat bulang lagi ya...sungguh aku baru masuk ke kantor papa Ga...nggak enak kan kalau tiba tiba terdengar kabar aku lamaran..." Ucap Nindi dengan seriusnya. Dan terlihat Arga manggut manggut mengerti dengan apa yang di katakan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Baiklah sayang...aku akan lakukan sesuai apa yang kamu inginkan ya...nih sepatu kamu...sini...!" Ucap Arga yang mengeluarkan sepatu Nindi dari belakang tubuhnya dan menyerahkannya pada sang kekasih. Tidak hanya cukup di situ...Arga pun turut jongkok untuk memasangkanya ke telapak kaki Nindi. Jemarinya dengan terampil mengambil telapak tersebut sambil mengibas ngibaskanya, Membuang debu yang menempel disana, Kemudian memasangkan sepatu tersebut tepat di kaki sang kekasih. Kini kedua kaki Nindi yang terlihat jenjang tersebut makin sempurnalah saat di pandang. Dimana Nindi tersipu saat mendapati Arga yang begitu perhatian padanya. Bak Cinderela dalam negeri dongeng.


__ADS_2