Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Ke khawatiran yang menggoda


__ADS_3

beberapa saat akhirnya sampailah mereka di kamarnya,


"sayang...kamu tidur dulu ya...aku masih mau nyoba sambal yang katamu masih kamu sisakan untukku tadi,"


ucap rendi dengan nada lembutnya pada sang istri.


namun tangan anin dengan cepat menarik suaminya, hingga hampir menubruknya,


"Sayang...jangan menggodaku...kumohon..." Kata rendi lagi,


Pikiran rendi masih sedikit takut atau lebih tepatnya khawatir dengan awal kehamilan sang istri, Yang bagi keduanya sangat amat berharga kala itu.


"aku tak apa-apa kak rend...aku sehat...dan aku bisa melakukanya...malam ini," Goda Anin dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya, Serta pelykan hangat di lengan suaminya.


"Tapi aku tidak bisa sayang...sebelum aku tahu...benar-benar tidak membahayakanmu dan calon anak kita, Aku akan menahannya sebisaku, Mari kita lewati malam ini oke," Ucap rendi lagi masih dengan nada halusnya.


Ia menolak ajakan sang istri dengan tujuan kesehatanya,


Lalu Anin mengendurkan rangkulannya yang melingkar di leher suaminya,dengan bersungut dan tidak suka ia memunggungi sang suami, Mencoba memejamkan matanya.


Rendi mengerti istrinya pasti sedih saat itu,


"Boleh lah ya asal pelan-pelan,"


Ucapnya yang langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Mengusap-usap wajahnya ke rambut sang istri, Lalu mencium telinganya,


"Aku baru kali ini melihatmu begitu manja seperti ini sayang, Kau yang lebih berinisiatif, Mana mungkin aku bisa menolaknya," Bisiknya di telinga Anin.


"Kau tahu...karena ulahmu...aku tidak bisa menolak apa lagi menahannya sekarang, Dan kau sudah tidak bisa lagi mundur,"


Ucap Rendi yang membuat hati Anin bahagia,


lalu di rebahkannya tubuh istrinya dengan perlahan..., Dengan ke dua tangan rendi bertumpu di ke dua sisi istrinya,

__ADS_1


"Kau benar-benar sudah tidak bisa mundur sayang..."


Ucap Rendi lagi. Lalu keduanya melakukannya...Hingga anin beberapa kali terlihat lemas, Setelah itu Rendi pun berhenti.


Meski dia sendiri belum sampai puncaknya, Di kecupnya kening Anin yang sudah mulai basah dengan keringat dan tertidur, Tak lupa di selimutinya tubuh istrinya itu.Lalu pelan-pelan ia turun dari ranjangnya, Mengambil pakaian untuk di kenakan, Tak lupa ia membawa ponsel dan laptopnya ke ruang kerja yang ada di sebelah kamarnya.


Sesampainya di sana, Rendi teringat bahwa dia punya teman yang sudah menikah, Pasti ia tahu sesuatu tentang awal kehamilan,


"aslan,"


tepat sekali pikirnya.


di carinya nomor telephone aslan dengan seketika, Lalu di hubunginya segera,


"halo lan..."


kata rendi dengan ponsel yang ia tempelkan di telinganya.


"halo rend...tumben...ada apa??" Tanya aslan.


"lan...istrimu saat hamil muda...kamu ajak gituan nggak, Sampai berapa bulan kehamilannya kamu puasa??"


"ya aku ajak lah rend...emang kenapa??"


tanya aslan ingin tahu balik.


"apa berhubungan saat hamil muda itu bisa mengganggu kehamilan lan?" Tanya rendi lebih menyeluruh.


"tergantung kamu lah ngelakuinnya kasar apa tidak, kalau kasar ya bisa mempengaruhi tentunya," jawab aslan dengan setahunya.


"oooh oke-oke makasih infonya ya lan,"


kata rendi lalu menutup telephone nya.


ia masih mondar mandir di dalam ruang kerjanya, Perasaannya memang belum puas belum mencapai klimaks nya.

__ADS_1


namun...istrinya pasti sudah tertidur,


Rendi pun memutuskan mengerjakan tugas nya dari kantor untuk mengalihkan perhatian.


tiba-tiba pintu terbuka,


"kak....apa kau disana??"


anin pun langsung masuk dengan pakaian tidur kesukaan rendi yang membuat rendi benar-benar ingin memakannya.


"ada apa sayang??"


tanya rendi sambil menghampiri sang istri.


"aku tidak bisa tidur tanpamu kak...kenapa kamu tidak kembali ke kamar??" Tanya anin pada suaminya,


"aku sedang mengerjakan tugas kantor sayang, kalau aku disana nanti kamu terbangun...aku tidak tahu yang ternyata kau malah menungguku, maaf ya sayang..."


ucap rendi sambil mengecup ngecup bibir istrinya yang lalu kecupannya menjadi ciuman panas mereka,


mungkin keduanya masih saling merindukan,


rendi menuntun istrinya sampai sofa ruangan itu,


ia sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya lagi, Hingga keduanya melakukanya beberapa kali.


kini rendi memangku istrinya menghadap nya,


"apa kamu baik-baik saja??" bisik rendi di telinga istrinya,


aninpun hanya tersenyum membalas ucapan suaminya,


"sayang...kau tidak apa-apa beneran??" tanya rendi sambil berusaha membangunkan istrinya dari pangkuanya.


anin hanya menggelengkan kepalanya yang bersandar di dada suaminya, Lalu anin turun dari pangkuan suaminya,

__ADS_1


dan rendi meraih baju-baju nya,kemudian memakainya,tidak lupa baju istrinya pula,


lalu rendi membopong tubuh istrinya, Sambil bersusah payah membuka pintu ruang kerjanya dan beralih ke pintu kamarnya. akhirnya sampai di tempat yang di tuju keduanya, Tempat tidur, keduanya pun terlelap sambil saling memeluk di atas tempat tidur yang nyaman di dalam kamar mereka.


__ADS_2