
Hingga pagi menjelang, samar samar terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar hotel yang tengah di tempati Adirya dan juga Ifa, dengan segera Aditya terbangun dari tidurnya, seakan meloncat dari tempatnya, karena ia ingin secepatnya menuju ke arah pintu dan menggapainya.
"Akh...bunda...bikin jantungan aja! aku kaget bund..." Ucap Aditya saat ia dapati bundanya sudah berdiri di depan pintu kamar hotel yang baru di bukanya.
"Kenapa kaget sayang? bunda mau bangunin kalian untuk sarapan...udah pukul tujuh lebih...tumben biasanya istrimu sudah bangun duluan kok belum bangun sayang?" Ucap Bunda pada Aditya.
"Bund...masalahnya...Ifa semalam begadang dan baru tidur pagi menjelang subuh tadi, Aditya lekas buka pintu juga biar Ifa nggak kebangun bunda...maaf ya..." Ucap Aditya dengan raut wajah yang masih mengantuknya.
"Biar nanti aja kita nyusul sarapanya bund, bunda dan semua duluan aja ya bund..." Ucap Aditya yang membuat bundanya manggut manggut mengerti.
"Ya sudah...nanti setelah sarapan bunda langsung balik dulu ya..." Ucap bunda yang memberi tahu, agar Aditya dan juga Ifa tidak mencarinya, dan terlihat Aditya manggut manggut pula tanda ia mengerti.
"Beneran bunda nggak ikutan sekalian sama kami bund?" Tanya Aditya yang memastikan lagi.
__ADS_1
"Iya Ditya...bunda kan sudah panggil supir nak...udah kamu tungguin istrimu aja...dan pastikan ia nggak telat sarapanya ya! bunda jewer kalau sampai bunda tahu, kalian makan sarapan sampai telat." Ucap ancaman bunda yang hanya di balas anggukan oleh Aditya.
Lalu bunda pun pergi meninggalkan kamar Aditya, meninggalkan Aditya yang masih mematung di depan pintu kamar hotelnya, ia pun lalu segera masuk ke dalam lagi dan merangkak naik lagi ke atas tempat tidurnya dengan perlahan lahan dan hati hati, lalu tidur lagi di samping sang istri.
Sedangkan di kamar hotel yang di tempati sang pengantin, yang masih terlihat sepi, dan juga belum terlihat keduanya keluar dari dalam kamar hotel, namun tidak ada yang berani menggedor pintu kamar, atau pun membangunkanya, semua membiarkanya karena tahu bagaimana sepasang pengantin baru biasanya, namun kenyataanya Arga dan Nindi hanya tertidur dengan pulasnya saja tanpa melakukan apapun, hanya mungkin sekali dua kali ciuman mesra dan hangat saja yang keduanya lakukan.
Hingga terlihat Arga memgerjap ngerjapkan matanya, karena sesuatu yang terang tengah menusuk dan membuat silau matanya, cahaya sinar mentari pagi yang tengah masuk ke dalam ruang kamarnya dan menerangi sebagian ruanganya.
Ia pun menoleh ke sampingnya, nampak rambut lebat yang hitam lekat yang tengah menutupi sebagian wajah cantik yang tengah meringkuk di bawah dagunya, Arga pun kemudian mengeratkan pelukan tanganya yang masih tertindih sosok di pelukanya dan semakin mendekapnya dalam pelukanya.
Hingga terlihat Nindi mengusap usap matanya, ia pun ikut membuka matanya, menatap wajah tampan sang suami di sampingnya.
"Pagi sayang...!" Ucap Nindi sembari mengecup pipi sang suami.
__ADS_1
"Pagi juga sayang...mau bangun?" Tanya Arga sembari mengecup balik, namun kini ia mengecup bibir sang istri, dengan tangan yang memegangi pipinya, dan Nindi hanya manggut manggut mengiyakanya saja.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Nindi sembari merapikan rambutnya.
"Hampir pukul sembilan sayang..." Ucap Arga sembari meraih ponsel di samping bantalnya dan menatap pada layar ponselnya.
"Akh...apa? aduh kesiangan sayang...kenapa nggak bangunin aku dari tadi sih? gimana kalau semua orang sudah pada pulang? akh...kamu sih ga!" Ucap Nindi dengan dengusanya dan meloncat dari atas ranjanghnya yang langsung terlepas dari pelukan suaminya.
"Ya ampun sayang...ada ponsel...ada telephone kalau memang mereka sudah pulang sayang...nggak sampai sebegitunya juga kali!" Ucap Arga yang ikut terduduk pula di tepian ranjangnya, dan memandang punggung sang istri yang semakin menjauh dan tak terlihat di balik pintu kamar mandi, namum sebelum masuk, Nindi sempat melepas pakaianya dan melemparkanya asal asalan di lantai.
"Huuuuh...istriku...aslimu seperti ini kah? sabar Arga...sabar...!" Ucap gerutu Arga sembari beranjak dari atas ranjangnya dan turun dari sana, terlihat kedua tanganya mulai memungut satu persatu pakaian sang istri yang berceceran di lantai.
"Sayang...tolong ambilin handuk sama pakaian ganti aku ya...tak lupa dalemanya juga ya sayang...aku mau yang warna pink!" Ucap Nindi yang menyembulkan kepalanya saja dari dalam kamar mandi, lalu menutup lagi pintu kamar mandi itu rapat rapat setelah usai berbicara, tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut sang suami.
__ADS_1
"Akh...apa disini hanya aku yang merasa tertindas oleh istri?" Ucap Arga dengan bengongnya, dan satu tanganya terangkat, menggaruk garuk kasar tak beraturan tengkuknya yang tidak gatal.