
"aku memang percaya....sangat percaya melebihi diriku sendiri sayang...tapi kok bisa ada gosip gak kelas gitu",
kata rendi.
anin berhenti tertawa saat mendengar suaminya berkata seperti itu,
lalu ia merebahkan tubuhnya,
wajahnya mendongak ke atas...matanya menatap ujung paling atas kamarnya.
"itu bermula...saat pagi2 subuh itu layaknya"
anin sambil mengingat2,saat tatapan dan cibiran ibu2 yg di rasa aneh.
"saat....aku berjalan2 di sekitar rumah,lalu kamu telfon kak rend...pake video call yg kamu bilang masih petang itu lo",
sambil terus mengingat ingat.
"gak tau ibu2 itu mikirnya apa...tapi seingatku aku bilang kalau suamiku jahaat...yah seperti itu lah",
ucap anin.
rendi pun lalu mengingat2 ingat...
"oooh...pas itu..."
rendi baru ingat.
sambil mangguk2 ia menuju samping istrinya terlentang tadi yg lalu miring menghadap rendi.
"lalu...kau mau hukuman seperti apa yg harus ku berikan pada ibu2 jahannam itu?"
kata rendi sambil mengelus perut istrinya.
"berani2nya mereka menggosipkan nyonya rendi wijaya,"
ucapnya lagi.
"kok membalas si kak...nanti gak akan ada habisnya...toh salahku juga si...bukan salah mereka..."
kata anin.
"mereka hanya dengar saat aku memaki suamiku...tidak melihat saat aku memanggil mu sayang",
ucapnya lagi.
"baiklah2...nanti kita fikirkan cara...gimana agar mereka bisa menghilangkan prasangka buruk padamu",
kata rendi lagi.
"baiklah sayang...mari kita istirahat...kamu pasti capek seharian di luar rumah panas panasan."
rendi pun ikut berbaring di sisi istrinya lalu ia memeluknya hingga keduanya tertidur,
__ADS_1
cukup lama mereka tertidur...hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 5 sore,
rendi terbangun dari tidurnya,
ia melihat anin sudah tidak ada di sampingnya,
lalu rendi melihat ke kamar mandi,
"sayang apa kamu di sini?"
tanya rendi aambil mengetuk2 pintu kamar mandi.
namun tak ada sahutan sama sekali.
lalu rendi berjalan menuju pintu kamar,
tiba2 rendi terkejut,
istrinya masuk dengan membawa secangkir kopi hitam kesukaannya,
"aku sendiri lo yang ngracik kak rend..."
kata anin dengan senyum manianya,
"kenapa manis sekali sayang?"
kata rendi...
"ini kopi pahit...tidak aku kasi gula lho...tau manis dari mana...belum di cicipi kok",
sahut anin.
kecupan mendarat di bibir anin.
"tuh...manis kan...gak percaya",
jawab rendi.
anin hanya tersipu dengan tingkah suaminya,
"heeemz...kak rend..."
dengus anin.
"rendi membawa cangkir beserta tatakannya ke luar jendela kamar nya,
menikmati sore di sana,
di temani anin dan kopi hitamnya,
keduanya menatap lurus kedepan berderet banyak rumah...agak jauh dari lalu lalang mobil dan motor lewat.
katena rendi punya jalan sendiri untuk masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
__ADS_1
"kak...gimana proyeknya sudah bereskah?atau...kak rendi berniat meninggalkan kita lagi?"
tanya anin.
"kenapa sayang?sebegitu takutnya kau ku tinggal..."
canda rendi.
"aku beneran tanya kak..."
sahut anin.
"udah beres sayang...tenang aja...aku akan slalu di sampingmu kok"
balas rendi.
tiba2 terdengar hp rendi berbunyi di dalam kamar,
tepatnya...di atas kasur nya,
anin bergegas berdiri dari kursi santainya,
namun...dengan cepat...tangan rendi mencekalnya,
"kamu tunggu sini aja sayang...biar aku yg ambil sekalian",
kata rendi,
anin hanya membalas ucapan suaminya dengan senyuman.
rendi bergegas menuju tempat tidurnya,
namun sesampainya di sana telfon rendi sudah berhenti berdering.
lalu rendi melihat layar hp nya..."kakek"
gumam nya.
lalu rendi menelfon balik kakeknya,
terdengar suara nada tersambung namun...belum di angkat...
"halo...kakek...ada apa??"
tanya rendi...
"memangnya...aku menelfon cucuku...harus ada apa apa dulu ya?"
sahut kakek.
"bukan begitu kek..."
sahut rendi dengan senyum cengir nya.
__ADS_1
"kakek belum bisa pulang nak..."
kata kakek.