Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Memantapkan hati


__ADS_3

"Loh ga...mana Nindinya? kok turun sendirian?" Tanya Anin saat Arga keluar dari dalam kamar puterinya dan turun seorang diri menghampirinya yang tengah duduk bersantai di tepi jendela besar tembus pandang yang menghadap ke arah kolam renang dan taman samping kediamanya.


"Itu mah...Nindi katanya masih mau mandi dulu baru nyusul turun mah..." Ucap Arga sembari ikut duduk di kursi samping mama Anin disana, Anin pun langsung memberikan sebotol jus orange yang masih tersegel utuh di meja sampingnya untuk calon menantunya, Yang tadinya memang bibi siapkan untuk Arga.


"Nih minum jusnya dulu ga...sambil nunggu Nindi, Anak itu suka heboh sendiri kalau dandananya nggak sesuai dengan yang ia inginkan." Ucap Anin dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Keduanya berbincang bincang soal keluarga dan kerabat dekat yang masih bisa di hubungi, Serta kesiapan keduanya untuk segera melangkah ke jenjang pernikahan. Dan Anin begitu bahagia saat mendapat jawaban yang melegakan dari calon menantunya tersebut. Hingga satu jam sudah waktu berlalu begitu saja.


Karena perbincangan hangat yang menyenangkan itupun Anin sampai sampai lupa bahwa ia sudah duduk terlalu lama disana. Ia pun merasakan cukup pegal dan kencang di bagian pinggangnya, Hingga ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan ingin beristirahat siang itu.


Anin meninggalkan calon menantunya sendiri di tempatnya semula.


"Maaf ga...nunggu lama ya?" Ucap Nindi yang baru turun dan menghampiri Arga, Ia kemudian duduk di bekas tempat yang di tempati mamanya tadi. Terlihat Nindi begitu sangat segar dengan jumpsuit rose pink dengan lengan pendek dan bagian kaki panjang sampai mata kaki, Terlihat nyaman saat ia kenakan, Begitu senada dengan kulit putih bersih milik Nindi. Dengan rambut yang di gulung asal asalanya, Membuat Nindi makin terlihat mempesona meski sedang dalam keadaan bersantai.


"Sayang...kau cantik sekali hari ini...mau keluar jalan jalan?" Ucap Arga dengan nada lembutnya, Dan membuat Nindi tersenyum dengan malunya.


"Aku kan lagi bolos kerja ga...bagaimana kalau ketahuan papa ntar?" Tanya Nindi yang sebenarnya ia ingin sekali pergi jalan jalan dengan Arga, Namun ia ingin tahu pendapat Arga bahwa ia tengah bolos kerja hari itu.

__ADS_1


"Sama sayang...hari ini aku juga lagi bolos kerja sayang...hemmmz...mungkin nongkrong ke cafe yang berada di atas pegunungan sangat nyaman dengan melihat pemandangan alam yang hijau...atau...cafe yang ada di tepi pantai sambil menikmati ikan segar bakar dan kelapa muda," Ucap Arga yang membuat tersenyum senang Nindi. Dimana Arga berniat menebus kesalahan yang ia lakukan semalam padanya.


"Tapi ga...ini kan udah hampir siang...pasti perjalananya memakan waktu...apa tidak apa apa ga?" Tanya Nindi yang ingin tahu.


"Mending pamit mama Anin dulu deh...di kasih izin apa nggak...kalau enggak...ya udah...kita di rumah aja ngabisin waktunya...nggak usah keluar sayang..." Ucap Arga yang membuat Nindi manggut manggut lalu berpikir seperti apa yang Arga bicarakan barusan.


Langsung saja ia menuju ke kamar mamanya, Dimana Anin memang sedang beristirahat, Namun belum tertidur kala itu.


"Mah...mama udah tidur?" Tanya Nindi dengan perlahan, Ia khawatir jikalau mamanya sudah tertidur dan akan mengganggunya.


"Mah...Nindi boleh nggak jalan jalan sama Arga? Janji kok...pulangnya nggak akan kemalaman...di usahain deh mah..." Ucap Nindi yang terlihat memijit mijit lengan mamanya, Tanda Anin harus mengizinkan apa yang Nindi inginkan.


"Kamu ngerayu mama sayang?" Tanya Anin lagi yang merasakan tingkah sang putri minta di beri izin.


"Masak mama nggak tahu sih...izinin ya mah..." Ucap Nindi yang membuat mamanya menampakan cemberut di bibirnya dan mata menyipitnya. Hingga membuat getir di hati Nindi, Ia khawatir tidak dapat izin saat itu.

__ADS_1


"Lalu...kenapa nggak segera berangkat? masak iya punya cowok tampan dan tajir masih nungguin uang saku dari mama sih sayang?" Ucap canda Anin yang membuat Nindi tertawa senang kegirangan, Karena ternyata mamanya memberinya izin.


"Baiklah mama ku sayang...Nindi pamit dulu ya...halo dedek...jangan nakal sama mama yang super duper pengertian ini ya...nanti kakak bawain mainan..." Ucap lucu Nindi dengan elusan di perut mamanya. Dan di sambut tendangan sang jagoan dari dalam perut mamanya,


Lalu Nindi pun berpamitan pergi meninggalkan kamar mamanya.


"Di bolehin sama mama ga...bentar ya...aku ambil jaket sama tas dulu di kamar..." Ucap Nindi yang langsung di angguki Arga dan membuatnya tersenyum senang.


"Tuhan...bisakah aku hari ini membahas pernikahan kami? apakah waktunya pas untuk membahas itu? aku benar benar tidak bisa jauh darinya apa lagi berlama lama." Ucap Arga sambil menatap punggung kekasihnya yang sedang naik tangga ke atas menuju kamarnya. Niat Arga sudah kuat untuk menikahi Nindi, Arga sudah siap lahir dan batin saat itu, Namun ia khawatir Nindi akan belum siap dengan pertanyaan serta apa yang akan keduanya bahas malah membuat Nindi tak nyaman dan sedikit canggung, Yang bisa bisa keduanya rasakan setelah pulang jalan jalan. Hatinya seperti serba salah saat ingin bicara atau menunggu Nindi yang terlebih dahulu membahasnya. Dan sebagai seorang lelaki...ia harus berani mengambil resiko, Dan ia memilih untuk maju dan bertanya terlebih dahulu pada sang kekasih.


"Akh...sudahlah...mau canggung atau pun nggak enak ati nantinya pikir belakangan...yang pinting di coba dulu baru tahu gimana reaksinya." Ucap Arga dengan mantapnya, Dimana ia tadi sekilas menatap cincin yang ia berikan tengah melingkar di jari manis sang kekasih. Pastilah tanda Nindi menyukainya. Memberinya lampu hijau untuk segera melangsungkan acara pernikahan keduanya.


Sedangkan saat itu pula, Rendi sudah berhasil menghubungi bundanya Arga untuk membahas masalah yang lebih serius tentang hubungan puterinya dan juga Arga. Hingga Bunda Arga memutuskan untuk minggu depan akan berkunjung ke Negara puteranya dan memberikan surprise dadakan pada sang putera dan calon menantunya, Ia teramat bahagia saat Rendi antusias membahas masalah kedepanya hubungan kedua keluarga.


Apa lagi Bunda sudah sangat merindukan Nindi dan ingin sekali melihat calon menantunya itu, Karena sudah teramat lama mereka tidak berjumpa.

__ADS_1


__ADS_2