
Nampak Ifa beranjak kasar dari duduknya, menepis tangan sang suami lalu berlalu pergi menuju ke arah mama dan papa Nindi, nampak Ifa ikut serta nimbrung dengan mereka.
"Duh...tuhan...istri aku kenapa jadi keras kepala gini sih?" Ucap Aditya dengan tangan yang mengacak acak rambutnya.
"Mah...pah..." Sapa Ifa saat sudah berada di dekat Anin dan Rendi.
"Iya sayang...ada apa? kenapa nampak kesal begitu? apa karena Aditya?" Tanya Anin pada Ifa, sembari memperhatikan wajah sendu wanita yang sudah di anggapnya puterinya sendiri itu, dan Ifa pun hanya mengangguk sekali saja, membuat Anin dan Rendi sudah mengerti akan hal itu.
"Kenapa memangnya Aditya? sampai bisa buat istrinya terlihat sebal begini?" Tanya Anin lagi yang lebih mendalam.
"Mah...Ifa jarang berada di tempat indah kayak gini kan...apa lagi sama keluarga rame gini, nah...suami Ifa pingin ngajak pulang terus mah...tapi Ifa menolaknya, apa Ifa salah mah?" Ucap Ifa yang menjabarkan apa yang di tangkapnya tadi, awal mula ia dan sang suami cek cok.
"Oh...iya iya sayang...tenang...nanti biar mama yang bilangin Aditya biar pulangnya belakangan aja...istrinya ini masih suka suasanya sejuknya pantai...!" Ucap Anin yang menenangkan, dan saat itu, Anin sudah mencium kemauan kuat seorang calon ibu.
__ADS_1
"Mah...pah...!" Sapa Aditya saat ia baru tiba disana, dan terlihat Ifa malah memeluk erat lengan Anin yang di gendengnya.
"Iya Aditya...sini mari kita bincang ngobrol sama sama Ditya..." Ucap Anin pada Aditya, dengan tangan yang menepuk nepuk ringan jemari Ifa yang memeluk lenganya, Anin hanya mencoba menenangkanya saja.
"Akh...kenapa perasaan disini aku berasa mau nyulik istri aku sendiri sih?" Ucap Aditya dalam hatinya, saat ia melihat kedekatan sang istri dengan mama ketemu gedenya, alias mama barunya.
"Aditya mau ajak pulang Ifa sekarang?" Tanya Anin seketika pada Aditya, lagi lagi Anin hanya ingin memastikan kebenaran yang mungkin akan membuat Ifa lega, dan jika kebenaranya itu membuat Ifa tak suka, Anin bisa mengulur waktu untuk Ifa sedikit lebih lama agar Ifa puas disana.
"Begini mah...pah...tadi Aditya lihat kalau Ifa tengah pusing...jangankan buat jalan jalan, buat bangun aja kesusahan tadi pagi, bahkan saat dari kamar dan menuju kesini saja dia sedikit sempoyongan mah...pah...Ditya hanya ingin mengajaknya segera pulang, Ditya takut Ifa kenapa napa...kan kalau ada apa apa lebih baik kalau sudah sampai rumah...ya maunya Ditya nggak terjadi apa apa mah...tapi Ifa malah salah paham...lalu lari kesini." Ucap Aditya yang mencoba menerangkan apa yang terjadi sesungguhnya, dan saat itu...Anin serta Rendi tahu...betapa khawatirnya Aditya pada sang istri.
"Tapi kan mah...Ifa sekarang nggak apa apa...Ifa masih belum mau pulang...suami Ifa sibuk terus mah...nggak ada waktu buat ngajak jalan jalan atau liburan." Ucap Ifa yang menurutnya jujur itu baik, namun seketika membuat Aditya terbengong bengong mendengarnya.
"Astaga...istri aku!" Dengusan dalam hati Aditya.
__ADS_1
"Iya sayang...maaf...jujur aku akhir akhir ini terlalu sibuk...jadi maaf ya...aku pastikan kok...pulang dari sini...setelah acara pesta terakhir Arga dan Nindi lusa...aku akan cuti sebulan penuh buat kamu...mau?" Ucap Aditya dengan rayuanya, dan ia baru sadar kemauan sang istri yang hanya di simpanya dalam hati dan baru di utarakanya.
"Aku nggak mau...aku masih mau disini dulu bby...ngertilah..." Ucap Ifa sembari menatap kearah sang suami dengan kerlingan manisnya.
"Iya...iya...kita nggak pulang...sekalian kita pulang besok aja deh nggak apa apa kalau itu mau kamu sayang...gitu aja kok repot!" Ucap Aditya yang membuat Ifa menyunggingkan senyumanya dan melonggarkan pelukan tanganya yang tengah memeluk lengan Anin.
Sedangkan Aditya sengan senangnya mengulurkan satu tanganya dan menyambut sang istri agar mendekat ke arahnya, dan benar saja, dengan segera Ifa pun menyambut uluran tangan sang suami dan datang ke arah uluran tanganya.
"Nah...akhirnya masalahnya sudah selesaikan sayang?" Ucap Anin dengan bahagianya, dan Aditya segera berpamitan untuk mengajak sang istri jalan jalan.
Sedangkan di area taman yang berjarak tidak jauh dari mama papanya, nampak Nindi tengah menikmati ayunan yang tengah di dorong sang suami di belakangnya, nampak Nindi sangat antusias dan sangat menikmatinya, tak jarang tawa keduanya yang mengisi di sela sela ayunan yang tengah di ayun sang suami di belakangnya, nampak bahagia dan ceria, meski tadi keduanya sempat heboh dan terlihat nggak ada romantis romantisnya, namun kenyataanya cinta keduanya tidak bisa di ukur hanya dengan penglihatan mata atau pandangan orang terhadap nya.
Nyatanya keduanya setelah sempat lari lari kejar kejaran tadi kini nampak akur akur saja, bahkan terkesan bikin iri pada setiap orang yang menatapnya, tanpa terkecuali mama dan papanya, yang sengaja dari tadi telah mengawasinya.
__ADS_1
"Akh...nggak tahu lagi mah...nggak bisa ngomong apa apa papa kalau lihat tingkah mereka, papa bayanginya ntar kalau mereka punya anak...trus gimana mah kalau masih saja kayak gitu? pasti buat bingung anaknya, kalau papa sama mama nya kadang kayak tom and jerry yang nggak bisa akur, dan kadang kayak Romeo dan juliet, yang manisnya kebangetan!" Ucap Rendi tiba tiba, dengan tangan yang merangkul pundak sang istri dan mendekapnya erat, tatapan keduanya tertuju pada sepasang pengantin baru yang terlihat sangat akur dan akrab, bahkan cuek pada orang di sekitarnya yang melihat tingkah keduanya, namun hati Rendi dan Anin begitu bahagia atas bersatunya Arga dan puteri mereka.