Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
di balik cemoohan yang menjatuhkan


__ADS_3

"minggiiiir!!"...


kata anin sedikit berteriak,rasa di dadanya sesak karena terlalu banyak orang berdesakan..anin mencoba membuka jalan agar dia bisa keluar,


sesampainya di dekat ruang kuliahnya tadi,


"bruuuuukk",


tiba-tiba tubuh anin ambruk....tak sadarkan diri.


cepat-cepat bu desi yang melihat langsung menghampiri dengan berlari,


"anak ini siapa namanya?"


teriak bu desi yang belum mengenal anin.


neta berlari mendengar ada yang berteriak,


"anin bu,"sontak ucap neta dari kejauhan.


neta menyusup masuk kerumunan,lalu bu desi meminta bantuan dosen lelaki yang terlihat,dan pas nya lagi...rendi yang melangkah mendekat.


"ada apa ini?"


tanyanya pada kerumunan yang masih belum tahu istrinyalah yang tengah pingsan.


"anin pak...."


kata bu desi.


seketika rendi terkejut matanya terbelalak,jantungnya seakan meloncat,ia tidak percaya...baru beberapa menit yang lalu ia membalas pesannya.lalu rendi pun buru-buru masuk kedalam kerumunan itu.


"minggir!!!"


triaknya.


tanpa pikir panjang rendi pun langsung membopong tubuh istrinya ke tempat kesehatan kampus.


terus berlalu pergi tanpa memikirkan apapun lagi.


"ada apa sebenarnya??"


tanya bu desi pada mahasiswa dan mahasiswi yang belum pergi,


"ada yang bilang anin hamil bu,"

__ADS_1


kata salah seorang.


lalu bu desi pergi meninggalkan kerumunan bergegas menghampiri di ruang kesehatan kampus.


di dalam ruang kesehatan,


"dok...bagaimana keadaannya?"


tanya rendi pada dokter.


"saya belum bisa memastikannya pak...tapi sejauh ini semuanya normal saja,"


kata dokter kampus yang menyembunyikan kehamilan anin yang belum pasti itu.karena dia tahu itu privasi pasien.


"baiklah dok terimakasih,"ucap rendi,


rendi duduk di samping tempat anin berbaring,di genggamnya tangan istrinya itu dan sesekali mengusap usap nya.


"bangun sayang...jangan buat aku khawatir setengah mati,"


bisik lirih rendi sambil mengecup punggung tangan anin.


rendi tidak tahu kalau sedari tadi bu desi melihat tingkah rendi,dan ia merasa tidak senang.


bu desi mengetok pintu lalu masuk.


"pak..."


ucapnya.


"kenapa bisa seperti ini bu?"


tanya rendi ingin tahu kejadiannya.


"tadi saya hanya lewat pak...dan kebetulan melihat anin ambruk,jadi saya menghampirinya,tapi...kata teman-teman nya...sebelum dia ambruk...dia mual-mual dan muntah dulu pak...pikir temannya ia hamil,"


ucap bu desi yang membuat mata rendi terbelalak tak percaya,


"jika itu benar...aku akan sangat bahagia,"


pikir rendi yang tegangnya sedikit mengendur mengetahui kabar yang belum pasti itu.


"dengar-dengar anin wanita yang gak bener pak,sering di jemput om-om jauh dari gerbang kampus,mungkin ia tak ingin orang melihatnya,makanya seperti itu,"


ucap bu desi karena kesal dan cemburu melihat dari tadi rendi menggenggam tangan anin.

__ADS_1


"jaga ucapanmu,"


bentak rendi benar-benar marah pada bu desi.


lalu dokter yang memeriksa anin pun mendekat,mendengar teriakan rendi.


"aku tak ingin melihatmu lagi besok.pergi dari hadapanku,jangan lupa serahkan surat pengunduran dirimu,"


ucap rendi lagi,namun matanya tetap menatap lekat wajah istrinya itu.


mata bu desi berkaca-kaca mendengar bentakan dan usiran dari mulut rendi.dokter hanya terdiam melihatnya.


"aku seperti ini agar kau membuka mata pak..."


kata bu desi lagi,dengan suara yang parau.


"wanita ini terlalu banyak gosip...apa lagi gosip tak baik...kenapa anda membelanya,"isak bu desi.


dan rendi benar-benar sudah tidak peduli lagi.


"karena aku tahu siapa dia sebenarnya..."


ucap rendi seketika.


"aku yang selalu menjemputnya setiap pulang kuliah,aku yang mengantarnya setiap ia berangkat kuliah,karena dia tidak mau orang lain tahu hubungan kami,


dan aku pula orang yang begitu khawatir jika sesuatu terjadi padanya,jadi aku tahu gosip murahan itu semua tidak benar,"ucap rendi dengan masih bernada marah.


"kenapa kau rela mengantar jemputnya??"


tanya bu desi ingin tahu...


"karena aku adalah orang yang setiap hari tinggal bersamanya!aku yang setiap hari berbagi ranjang yang sama dengannya."


"aku suaminya"


kata rendi yang membuat semua mata di dalam ruangan terbelalak.apa lagi bu desi.


termasuk dokter jaga,lalu dokter yang memeriksa anin pun mendekat.


"maaf pak...bisa saya bicara sebentar berdua saja??"


ucap dokter tersebut.


bu desi seperti di sambar petir seakan tak percaya atas apa yang baru di dengarnya,ia lalu berlalu pergi berlari...sambil terus mengusap matanya yang tak hentinya meneteskan air mata karena kebodohannya.

__ADS_1


__ADS_2