
"Aduh...anak muda zaman sekarang kelakuanya suka alay."
Ucap Nindi tiba tiba dan tatapanya masih menatap ke arah dua sosok yang tengah berlarian, dan saat itu pula Arga, Satria, dan Yura langsung beralih seketika menatap ke arahnya.
"Apa aku salah bicara?" Tanya Nindi saat ia sadari tatapan ke tiga orang di sampingnya yang tengah sejurus menusuk ke arahnya.
"Yang kamu bilang alay itu bukanya Aditya ya?" Ucap Yura yang membuat Nindi melotot sembari mengatupkan bibirnya namun ia tersenyum dengan paksaan.
"Akh...maaf sayang...asal nyeplos aja tadi...habisnya mereka tuh manis banget...kayak anak muda gitu lo...akh...aku kan jadi pingin ikutan kalau lihatnya tadi." Ucap Nindi agar sang suami tidak marah padanya.
"Tapi aneh juga ya...Ifa yang biasanya pendiam dan paling kalem di antara kita...paling anteng juga...bisa kayak gitu juga ya...!" Ucap Yura yang turut memperhatikan sahabatnya itu.
"Akh...namanya juga istri Aditya...pasti sudah terkontaminasi tingkah Aditya lah..." Ucap Arga yang membela kakak iparnya.
__ADS_1
"Bukanya Aditya juga kalem ya ga? lebih terkontaminasinya ke kamu sih!" Ucap Satria yang membela Aditya.
"Gimana bisa aku coba? Nindi kali!" Ucap sanggahan Arga pada apa yang di ucap Satria barusan.
"Kok jadi aku sih ujung ujung nya? aku nggak gitu ya...nggak banyak!" Ucap jujur Nindi dengan sewotnya, dan seketika dengan gemasnya Arga meraih kepala sang istri lalu mengecup puncaknya.
"Selalu aja kamu tuh...bisa buat aku senyum sayang..." Ucap Arga yang membuat Satria dan Yura yang mendengarnya mendengus geli.
Di ujung pandangan ke empatnya, nampak Aditya yang menunduk ngos ngosan, dengan kedua tangan menyangga tubuhnya dan bertumpu pada kedua lututnya.
"Ayo dong bby...masak gitu aja udah nyerah?" Ucap Ifa yang masih mencoba menyemangati sang suami.
"Aku capek sayang...istirahat sebentar ya...oke?" Ucap Aditya yang masih mencoba mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Ayo lah bby...lagi seru serunya nih...apa lagi nggak panas gini...redup...udara pantai pun kian sejuk...akh...masa mudaku yang belum pernah se bahagia ini...senang rasanya bisa kejar kejaran dan ada orang tersayang yang ngejar aku bby..." Ucap jujur Ifa, yang entah mengapa ia terinspirasi dari film anak muda yang kemarin ia tonton di televisi, dan waktunya pun pas sekali, di tepian pantai, hingga Ifa pun ingin merasakan sensasinya.
"Jadi...kalau ketangkap...terserah aku kan mau aku apainya sayang?" Tanya Aditya pada sang istri yang masih mengawasi tepian pantai dan belum menatap ke arahnya, Ifa hanya mengangguk mengiyakanya saja tanpa menyadari Aditya perlahan lahan tanpa sepengetahuanya sudah beranjak dari tempatnya dan mendekat ke arah sang istri.
"Nah kan...ketangkap juga akhirnya sayang...!" Ucap Aditya dengan senangnya, dimana kedua tanganya tengah mengurung sang istri dalam pelukanya, Aditya memeluk sang istri dari belakang.
"Akh...curang bby...aku aja belum lari kok udah main tangkap aja, ulangi bby..." Ucap Ifa sembari berusaha meronta ronta namun Aditya tidak melepaskanya juga.
"Dari tadi sudah lari kan sayang...sekarang kan permainanya kalau kamu ketangkap...aku akan sesukanya loh...jadi sekarang udah ketangkap...nggak boleh lari lagi lah sayang...mau apa?" Ucap Aditya yang kini tengah membalikan tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya dan menatapnya, keduanya saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat, hingga kedua tangan Aditya menyentuh kedua pipi Ifa di kanan kirinya, mengelusnya perlahan lahan agar sang istri sedikit bisa tenang.
"Kenapa kamu akhir akhir ini suka menguji kesabaranku sayang? apa yang salah? kau tahu aku tak bisa menolak satupun keinginanmu, kau terus terusan seakan membuatku frustasi sayang...apa aku berbuat salah padamu?" Ucap tanya Aditya dari hati ke hati.
"Maaf bby...aku tak sadar jika tingkahku mulai kelewatan untukmu...aku tak tahu apa yang telah aku lakukan, aku...hanya merasa apa yang telah aku lakukan itu begitu menyenangkan bby...aku nggak bisa mikir apakah tingkahku melelahkan untukmu atau bahkan menjengkelkan." Ucap jujur Ifa yang membuat Aditya tersenyum dengan lembutnya, Aditya merasa sang istri hanya minta perhatianya tidak lebih.
__ADS_1
"Maaf sayang...!" Satu kata yang Aditya ucap sembari menarik tubuh sang istri dalam pelukanya, dan mendekapnya sangat erat.
Dan yang pasti, tanpa keduanya sadari, empat orang yang sedari tadi tengah menatapnya hanya merasa ikut terharu bahkan terpesona oleh tingkah Aditya dan Ifa yang begitu manis menurut mereka.