Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Kamar yang berubah dari monoton menjadi manis


__ADS_3

Hingga hari pun tanpa terasa sudah malam, Saat pesta pernikahan di gedung itu terlihat sepi dari para tamu undangan, Yang tersisa hanya para keluarga dan kerabat dekat saja yang masih ikut berjaga di tempat.


"Pah...mah...kami capek...bisakah kami pulang? Nindi mau nginap di apartemen Arga ya mah...boleh?" Ucap Nindi pada kedua orang tuanya.


"Tentu sayang...boleh dong...iya...kalian pulang dulu ya...mama masih nungguin papa kamu tuh..." Ucap mama yang di sambut senyum senang Nindi.


Hingga Arga pun berpamitan pada semuanya, Untuk mengajak pengantinya pulang ke apartemenya, Dimana disana sudah Arga siapkan dekorasi kamar pengantin yang indah, Tentunya di bantu oleh kakak dan kakak iparnya, Serta Satria dan Yura yang mebantunya pula.


"Bund...ingat ya...malam ini pulang sama kakak ya...Arga mau berdua aja sama Nindi, Bisa kan bund?" Tanya Arga dengan bisikanya, Dan bundanya pun mengiyakan permintaan puteranya tersebut.


Hingga keduanya pun akhirnya memutuskan untuk bergegas menuju ke mobil yang telah di siapkan di luar gedung. Mobil khas yang sudah di hiasi dengan bunga bunga, Menandakan mobil pengantin baru, Saat semua mata melihatnya.


"Loh...pah...Nindi sudah pergi ya pah?" Tanya Anin pada suaminya yang tengah menggendong Evan dalam pelukanya.


"Iya...barusan aja sayang...mungkin juga mobilnya baru jalan...ada apa? perlu papa susulin kah?" Tanya Rendi yang sedikit penasaran dengan kata kata sang istri.


"Akh...nggak usah pah...nggak apa apa kok...cuma mau ngasih pembalut aja...Nindi kan ceroboh...masak iya dia ingat kalau dia mau datang bulan sih pah..." Ucap Anin dengan sedikit cemasnya, Sesaat tadi Anin sempat meminta tolong bibi untuk membelikan pembalut yang biasa Nindi pakai setiap bulanya, Dan bibi juga baru kembali, Ternyata tidak keburu, Kedua pengantin baru itu telah pergi meninggalkan tempatnya.

__ADS_1


"Sayang...Nindi sekarang sudah bukan milik kita...ia sudah jadi milik suaminya, Dan lagi...keduanya udah dewasa...masak nggak bisa nangani istri yang sedang datang bulan sih?," Ucap Rendi yang membuat lega hati Anin, Walau bagaimanapun kan selama ini Anin selalu memantau perkembangan puterinya, Setiap bulan selalu ia yang ingat terlebih dahulu tentang masalah kewanitaan itu, Namun kini sepertinya ia sudah bisa melepas puterinya dengan rasa aman.


Hingga beberapa saat, Mobil keduanya terlihat memecah kemacetan malam itu, Sampai tidak begitu lama, Mobil yang di kendarai keduanya masuk kedalam area parkir apartemen.


"Aduh...kenapa saking antusiasnya sampai lupa bawa makan malam sih," Ucap Arga dengan dengusanya yang tengah merasa bersalah padanya dan juga istrinya. Namun Nindi hanya tersenyum sambil menatapnya saja.


"Sayang...haruskah kita keluar lagi dengan pakaian seperti ini untuk beli makanan? sedangkan di apartemen hanya ada mie instan." Ucap Arga yang di balas gelengan di kepala sang istri.


"Thada....aku tadi udah sempat di kasih bungkusan bunda loh...untuk di bawa pulang...jadi...pasti kita makan malam enak lah sayang...udah ayo turun...mau sampai kapan debat di dalam mobil sih?" Ucap Nindi sambil meraih bingkisan yang bundanya berikan tadi dan ia taruh di kursi jok belakang.


"Sayang...ayo ikut aku ke kamar, Cepet lihat..." Ucap Arga yang tengah mendorong pelan punggung sang istri agar menuju kamarnya, Setelah keduanya sudah masuk kedalam apartemenya, Seketika mata Nindi terbelalak takjub dengan apa yang di lihatnya, Kamar suaminya yang biasanya polos serba putih dan biru tua itu kini tampak manis dengan warna yang serba ungu muda, Warna kesukaan Nindi. Hingga dari selimut, Serta tirainya pun semua ungu muda, Terkecuali seprei putih yang masih tetap sama.


Sampai Arga menuntunya hingga ke kursi depan cermin rias besar yang ada di samping tempat tidurnya, Arga mendudukan Nindi disana, Lalu ia pun mengambil satu kursi lagi dan ikut duduk di belakang kursi sang istri.


"Sini...aku bantuin lepas mahkotanya, Pasti pusing ya...memakai seperti ini di kepala?" Tanya Arga yang tanpa aba aba sudah memulai melepas satu persatu pernak pernik di kepala sang istri. Dan Nindi tampak begitu senang dengan perhatian sepele sang suami, Sampai...tanpa pemberitahuan, Arga melepas kebawah resleting gaun yang sang istri kenakan, Dan terpampanglah punggung mulus itu hingga di bagian atas pinggangnya, Dan yang menyangkut di kedua pundaknya itu pun salah satunya sudah melorot sampai lenganya.


Arga pun tanpa sadar tak bisa mengalihkan pandanganya dari sana lalu menutupkan kedua matanya saking takjubnya, Hingga tanpa kuasa, Arga pun yang mulanya menutup semua matanya, Kini menatapnya dengan sebelah mata yang ia buka, Dan sebelah lagi masih ia tutup, Pemandangan langka baginya yang mungkin tak mampu ia nikmati begitu saja dengan kedua matanya.

__ADS_1


Namun Nindi menahanya, Menghadangnya hingga tanganya ke depan dadanya.


"Sayang...aku mau mandi dulu...sabar ya...kita makan malam dulu...oke?" Ucap Nindi seketika dengan nada suara gugupnya, Saat merasakan kecupan kecupan lembut Arga sudah mulai mengecup disana, Hampir rata.


Dan seketika itu pula Arga terjaga dari aktivitasnya, Menatap wajah cantik sang istri di dalam kaca cermin depanya, Pikirnya memang ada benarnya, Waktunya masih panjang daripada nafsu yang memburunya, Ia pun tersadar, Bahwa seharian itu belum mandi sama sekali, Hanya berganti pakaian dua kali saja saat pesta tadi.


"Mau mandi bareng?" Tanya Arga yang menarik ke atas lagi resleting gaun yang tadi ia buka.


"Nggak apa apakan jika aku sendirian saja?" Tanya Nindi balik, Dan Arga pun segera menganggukinya,


"Baiklah...kamu mandi duluan ya sayang...aku akan siapkan makananya tadi, Biar aku angetin dulu, Dan kita makan sama sama setelah mandi nanti," Ucap Arga sembari mengecup pipi sang istri. Ia pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke arah almari, Tanganya mengambil satu handuk dari tumpukan handuk baru di sana.


"Ini handuk barunya sayang...kamu pakai gih, Dan untuk pasta gigi dan semua keperluan kamu, Ada di laci atas wastafel kamar mandi ya..." Ucap Arga yang langsung di angguki sang istri. Nindi pun dengan segera membawa handuknya menuju ke arah kamar mandi, Dan sebentar saja terdengar guyuran air yang menyapu tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, Saat Nindi usai mandi, Dan sekarang bergiliran Arga yang masuk kedalam kamar mandi, Namun sebelum masuk, Ia sempat mencium bibir sang istri kala melewatinya.


Nindi pun hanya tersenyum saat melihat makanan yang sudah suaminya hangatkan, Dan sudah tertata di atas meja makan, Segera saja ia menuju ke lemari pakaian, Dimana tidak ada satupun pakaian yang ia bawa, Terpaksa ia pun mengambil kemeja warna biru muda sang suami lalu di kenakanya, Hanya kemeja saja, Tanpa bawahan.

__ADS_1


__ADS_2