Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
miss you


__ADS_3

Malam itu, Saat orang Aditya datang ke apartemenya memberi kabar keadaan rumah ifa yang Aditya minta, Dengan langkah kaki yang pelan...begitu pelan hingga tidak terdengar sama sekali. Aditya sengaja melakukan itu saat di intipnya dari pintu kamar yang ifa tempati, Ternyata calon istrinya itu tengah terlelap dengan pulasnya di atas ranjangnya. Aditya tidak ingin membangunkanya.


Setelah ia selesai menerima laporan yang ia minta dari orang suruhanya, Aditya pun langsung menuju kamarnya yang tadi ia tempati kembali, Lebih baik baginya untuk memberi kabar pada ifa saat ia sudah bangun nanti saja, Karena memang Aditya tidak ingin mengganggu tidur calon istrinya tersebut. Karena malam itu pun sudah begitu larut untuk keduanya jika mengobrol.


Tepat pukul sebelas malam saat Arga berada di bandara dan sudah mengantarkan kekasihnya untuk pulang ke rumahnya. Tak lupa ia pun berpamitan dengan kedua orang tua Nindi sebelum pergi. Bahkan bagi Arga Kediaman Rendi adalah rumah kedua baginya, Dan kedua orang tua kekasihnya itu sudah seperti kedua orang tuanya sendiri, Dimana Arga jarang sekali bertemu dengan bundanya dan juga hanya bisa bercakap cakap dengan bundanya lewat ponsel saja. Kini kepergian Arga ke luar Negeri juga berniat untuk singgah di kediaman bundanya dan meminta restu pada bundanya tersebut. Di tambah lagi...utamanya mengambil cincin yang akan Arga pasangkan kelak saat ia melamar Nindi dengan persiapanya sendiri, Ia berharap apa yang Nindi idamkan selama sekali dalam hidupnya terjadi seperti apa yang ia harapkan. Dan Arga ingin berusaha mewujudkanya.


Lima jam perjalanan Arga tempuh menuju Negara tempat bundanya berada, Ia sengaja kediaman bundanya lah yang pertama kalinya ia tuju, Dari Negara Asal Arga sampai Negara bundanya berada, Berselisih waktu dua jam. Jika pukul empat dini hari di Negara Arga, Pukul enam pagi di Negara bundanya.


Sampai Bandara, Arga sudah di jemput orangnya untuk mengantarkan kemanapun yang Arga tuju.


Hingga sampai kediaman bundanya, Terlihat bundanya sudah menungguinya,Menyambutnya di depan teras rumah dengan senyum merekah bahagia.


"Bunda...." Sapa Arga saat ia sudah sampai di depan bundanya dan berhambur memeluk bundanya yang ada di hadapanya. Dengan sambutan pelukan hangatnya bundanya membalas pelukan puteranya tersebut.

__ADS_1


"Sayang...kamu sudah lupa masih punya bunda ya? sampai sering...sering...keseringan banget jengukin bundanya..." Ucap bunda dengan sungutnya, Bunda memasang ekspresi ngambek diwajahnya. Hingga Arga lagi lagi mengulangi pelukanya lagi pada bundanya.


"Maaf bunda...Arga begitu sibuk...dan Arga juga mau nikah...!" Ucap Arga yang seketika membuat bundanya kegirangan dan melepas pelukanya. Dimana bundanya sudah menantikan kata kata tersebut terucap dari bibir puteranya. Meski bundanya tahu sejarah masa lalu puteranya, Namun sekali saja Arga belum pernah mengajak satu gadispun atau mengenalkan satu gadispun padanya kecuali Nindi Wijaya. Dan untungnya lagi bundanya mengenal baik keluarga kekasih puteranya tersebut.


"Dengan Nindi? puterinya om Rendi?" Tanya bundanya bersungguh sungguh. Dan Arga menyahutnya dengan anggukan mantapnya. Tanda ia benar benar sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua kekasihnya itu.


"Baiklah sayang...ayo masuk...bunda udah nyiapin sarapan kesukaan kamu..." Ucap bunda sambil mengajak Arga masuk menuju ke meja makan,


"Aiiissshhh...bunda...Arga pingin makan nasi uduk...campur empal daging plus telor rebus sama krupuk...anget anget...nah ini...sereal sama susu anget...di tambah roti selai dengan telor setengah mateng...darimananya Arga suka coba?" Ucap dalam hati Arga saat ia sampai di depan meja makan bundanya.


"Bund...bisakah Arga istirahat? Arga capek bunda..." Ucap Arga dengan wajah memelasnya, Di sela sela bundanya yang masih kangen padanya. Dan bundanyapun seketika mengerti dan mengangguk mempersilakan puteranya untuk istirahat. Bundanya baru sadar bahwa ia sudah menawan puteranya satujam lebih di meja makan dengan curhatan dan pertanyaan pertanyaanya.


Arga menjatuhkan tubuhnya yang kelelahan ke atas pembaringan setelah ia sampai ke dalam kamarnya. Tanganya mengambil ponsel di kantongnya dan mulai menghubungi Nindi, Jika di tempat Arga saat itu pukul delapan pagi, Pastilah di tempat Nindi masih pukul enam pagi, Dan tepat sekali saat itu Nindi masih meringkuk di atas ranjangnya dengan nyaman.

__ADS_1


"Sayang...aku udah sampai tempat bunda...kamu ngantor hari ini?" Tanya Arga yang hanya mendengar dengusan nafas Nindi disana.


"Emmmmbz...ga...syukurlah....udah nyampein salam aku buat bunda kan ga? aku masih ngantuk ga..." Ucap Nindi dengan jujurnya.


"Tapi sekarang sudah pukul enam sayang...nanti kamu kesiangan...iya...udah aku sampein lah...salam dari calon menantunya", Ucap Arga yang langsung membuat mata Nindi terbuka lebar, Karena kaget dan juga ia tersadar, Bahwa hari ini adalah terakhir Nindi menyerahkan kerjaanya pada ketua divisinya.


"Astaga Arga...aku kesiangan...." Ucap Nindi seraya bangun dari tidurnya dan menyahut satu handuknya yang ada di dalam lemari, Bertumpuk disana. Namun ia enggan menyudahi panggilanya dengan Arga. Tanpa sadar ia masih merindukan Arga.


"Baiklah sayang...nanti aku telephone lagi ya...sekarang kamu siap siap dulu ya sayang..." Ucap Arga dengan halusnya, Dimana kata katanya membuat Nindi menurutinya.


"Baiklah ga...miss you..." Ucap Nindi lalu menyudahi panggilanya, Ia segera bergegas lari menuju kamar mandi dan memulai aktivitas mandinya.


"Akh...sayang...kalau jauh gini kenapa kamu berasa manis banget ya...hemz...ini sehari aja belom terlewati...udah kangen kamu kayak gini..." Ucap Arga yang membayangkan semalam ciumanya dengan sang kekasih sebelum ia pergi. Hingga membuat wajahnya merona merah.

__ADS_1


"Tunggu aku pulang sayang...!" Ucap Arga lalu memejamkan matanya. Ia benar benar kurang istirahat semalam.


__ADS_2