
Aditya masih mematung di tempatnya ditepian ranjang samping istrinya yang terduduk dengan mata yang menatap kedua tangan nya yang menangkup menyatu, namun disana tidak ada apa apa sama sekali.
"Sayang...kamu mimpi ya? semoga itu pertanda baik." Ucap Aditya yang mengerti mimpi apa yang istrinya uraikan tadi, lalu menaikan satu tangannya dan mengelus lembut kepala sang istri, hingga membuat Ifa menatap ke arahnya dengan sedikit kecewa.
"Ternyata hanya mimpi...aku kira nangkap burung jatoh beneran bby...akh..." Dengus Ifa yang membuat Aditya sedikit tidak mengerti.
"Sejak kapan istriku menjadi pecinta burung? masak iya se kecewa itu jika burungnya tidak nyata." Ucap Aditya dalam hatinya.
Ifa hanya beringsut dari samping suaminya ia meringkuk kembali ke tempatnya semula, dan Aditya yang merasa istrinya sedang sedih itu pun hanya bisa menarikan selimut untuknya dan menutupinya sampai ke pundaknya, Ifa memunggungi Aditya disana.
__ADS_1
"Nanti saat pulang kita mampir ke pasar burung ya sayang, mau?" Tanya Adirya yang mencoba menghibur sang istri, namun Ifa hanya menggeleng tanda ia tidak menginginkan burung lain selain burung yang ada di dalam mimpinya. Disana Aditya langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan meninggalkan sang istri sendiri di tempatnya, tak lupa sebelum pergi ia pun mengecup kepala Ifa meski tidak ada sambutan dari gadis itu.
***
Nindi melongo dari dalam mobil yang membawanya, menyaksikan keindahan alam terdekat dari Resort Arga karena keduanya sudah hamlir sampai, mungkin setengah jam smpai empat puluh menitan lagi, dia merasa alam ciptaan tuhan itu benar benar memukau hatinya, membuatnya betah berlama lama menatap keindahanya.
"Sayang...kamu bangun Resort disini beneran?" Tanya Nindi pada Arga yang berada disampingnya, dan Arga hanya mengangguk sembari menyandarkan kepalanya kepundak sang istri, karena memang saat itu Arga benar benar sedang sangat mengantuk. Sampai..."Tuk." Kepala Arga terjatuh karena sandarannya telah beralih menghindar cepat mepet ke jendela kaca mobil, menurunkan kacanya dan menatap keluar jendela, dimana pemandangan sawah yang bertingkat banyak terdapat di kanan kiri nya, dan masih banyak di tumbuhi pohon pohon kelapa yang menjulang tinggi di sepanjang jalanan sawah, batu batuan besar menghiasi di setiap tingkatannya, bak lukisan alam yang menakjubkan saat mata Nindi memandangnya. Dan Arga yang sengsara ternyata.
"Oke Arga, kamu mgomong sendiri!" Ucap Arga yang tanpa sadar pak supirnya sesekali mengintip dari kaca depan mobil, meski pak supir sedikit takut mengintipnya, namun pak supir tahu tuan mudanya itu tengah menggerutu.
__ADS_1
"Oh iya aku lupa, ada kamu ya pak supir, berarti aku nggak lagi ngomong sendirian kan?!" Ucap Arga yang langsung di angguki pak supirnya dengan senyum malu malu.
Arga tidak tahu apa yang di alaminya kala itu adalah hal yang wajar wajar saja, ia tidak tahu apa yang tengah di alami Aditya yang sudah terlebih dahulu sampai di Resortnya, bahkan ia sudah mendatangkan hampir semua baju yang barada di dalam butik yang di tunjukan Arga padanya, namun semua tidak ada artinya bagi sang istri yang memang tengah di pengaruhi hormon kehamilannya.
Meskipun kedua orang yang paling menginginkan buah hati tersebut lah yang sangat mendambakan anak, namun keduanya pun yang nantinya akan tahu, meski bukan yang pertama kali menyadarinya, menyadari perubahan besar istrinya yang benar benar langka bagi Aditya.
***
Jangan lupa ya semua ikuti Ig Qolbie.
__ADS_1
@Qolbie90. Terimakasih bnyak semua...tunggu kelanjutannya...🙏🙏🥰🥰