
Pagi yang cerah dengan suasana hati yang melegakan bagi pasangan Nindi dan Arga, Dimana keduanya telah menyelesaikan semua kesalah pahaman pada mama dan papa nya, Hingga setelah usai sarapan, Ke empatnya terlihat tengah bersantai menikmati sinar mata hari pagi yang terasa hangat saat menembus kulit, Menatap kolam renang yang airnya menyilaukan, Rendi tengah berolah raga di temani Arga yang tengah berjalan jalan bersama Nindi dan mamanya, Anin hanya berjalan jalan santai di area pekarangan rumahnya, Karena untuk berjalan jauh rasanya perutnya seakan akan melorot turun ia rasakan.
"Mah...pah...kami sudah menetapkan tanggal dan hari pernikahan", Ucap Arga tiba tiba, Hingga Nindi pun kaget mendengarnya.
"Benarkah? kapan ga? mama harus nyiapain semua ini...akh...tapi mama nggak bisa gerak bebas...biar Nindi saja yang mulai bertanggung jawab mengurus semuanya...ya kan sayang? kalau nggak ngerti bisa tanya mama!" Ucap Anin yang mulai memberi tanggung jawab puterinya untuk persiapan pernikahanya sendiri. Dan Nindi pun langsung mengangguk mengiyakanya.
"Tenang sayang...kan ada aku..." Ucap Arga dengan bangganya. Dan Nindi hanya bisa tersipu malu di buatnya.
"Mama sama papa hanya bisa mendukungnya saja sayang...asal kalian bahagia...kami juga akan bahagia..."
Ucap Anin yang sudah mulai di papah sang suami untuk kembali ke teras rumahnya.
"Ga...aku sekalian nebeng ke kantor ya..." Ucap Nindi yang langsung lari kedalam untuk bersiap siap akan ke kantor.
"Ga...om mau ngomong sesuatu sama kamu..." Ucap Rendi yang langsung di angguki Arga dan ia pun lalu mengikutinya. Keduanya terlihat bincang bincang serius antara lelaki, Dimana Rendi sepertinya tengah membahas sesuatu yang begitu penting dengan Arga, Anin hanya bisa melihatnya dari kursi santai teras rumahnya yang tengah ia duduki disana.
Sampai Nindi keluar dari dalam rumahnya dan menuju pada mama nya yang tengah duduk sendirian, Sedangkan para lelaki jagoanya tidak ada di sana semua.
"Loh...mah...papa sama Arga mana mah?" Tanya Nindi dengan heranya, Dan mama nya hanya menunjuk memberi tahu pada puterinya bahwa kedua orang yang tengah Nindi cari sedang berduaan di pelataran rumahnya.
"Sayang...kamu sama calon suami kamu memang manggilnya kayak gitu ya? emangnya Arga nggak keberatan sayang?" Tanya Anin pada puterinya, Karena ia mendengar Nindi memanggil calon suaminya itu dengan hanya panggilan namanya dan tidak ada manis manisnya.
"Emmmb....emang nggak boleh ya mah? Arga aja nggak keberatan? kadang kadang sih...Nindi manggil manis ke dia...cuman...rasanya kalau nggak ada event tertentu tuh kayaknya geli mah manggil Arga manis gitu..." Ucap Nindi dengan jujurnya, Dimana dahulu ia malah memanggilnya si belel, Nindi tidak tahu jika yang ia juluki sebagai si belel tersebut kini tengah menjadi pujaan hatinya, Dan akan menjadi suaminya.
__ADS_1
Hingga Arga dan papanya kembali menuju ke arahnya dan mamanya, Keduanya berpamitan bersiap siap untuk berangkat menuju ke kantor bersama.
"Ga...tadi bahas apaan sama papa?" Tanya Nindi yang ingin tahu, Dan begitu penasaranya.
"Emmmb....rahasia lelaki dong sayang..." Ucap Arga dengan kerlingan menggodanya.
"Oh ya sayang...pagi ini aku sudah meluruskan semua kesalah pahaman yang terjadi antara kita dan mama papa, Masak iya aku nggak di kasih hadiah sih?" Tanya Arga yang mengharapkan sebuah ciuman dari kekasihnya pagi itu, Dan Nindi pun langsung mengerti akan keinginan Arga tersebut.
"Nanti ga...kalau udah berhenti lah...kamu aja masih nyetir masak iya aku sosor sih!" Ucap Nindi dengan dengusan yang menyembunyikan malu nya. Segera saja Arga meminggirkan mobilnya, Menepi ke tepian jalan raya.
"Tuh...udah berhenti nih sayang..." Ucap Arga dengan senyuman yang mengharap. Baginya ciuman Nindi sudah seperti candu untuknya , Dan ingin selalu mendapatkanya.
"Dasaaar...kalau ada maunya nggak mau di pending!"
"Tuh...banyak kendaraan lewat ga...apa kamu nggak kelewatan ini? di tempat umum loh ga...!" Dengus Nindi lagi dengan malunya,
"Emb...kalau kita cepat...mungkin nggak ada yang lihat...toh mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri...mana mungkin mempedulikan kita disini sih sayang..."
Ucap bisikan Arga yang wajahnya sudah begitu sangat dekat dengan wajah sang kekasih dan perlahan mendekatkanya dan hampir menyentuh.
"Ddddrrrrt....dddddrrrt...." Tiba tiba bunyi ponsel Nindi membuatnya harus mendorong dada Arga agar sedikit menjauh darinya.
"Papah...." Bisik Nindi yang memberi tahu Arga agar kembali ke posisinya. Dan seketika saja Arga terlihat celingukan mengamati sekitar mobilnya, Perasaanya seperti sedang di awasi saja kala itu.
__ADS_1
"Masak afa CCTV papa Rendi disini?" Dengus kesalnya lagi.
"Akkkh...apa jangan jangan papa nyuruh orang buat ngikutin ya? kenapa papa tahu banget niat ku sih?." Dengus kesal Arga saat ciumanya belum bisa mendarat.
"Iya papa...ada apa pah?" Ucap Nindi saat menerima panggilan telephone papanya.
"Sayang...berkas yang papa suruh bawa kenapa ketinggalan di meja kerja papa...yasudah papa cuma ngasih tahu aja...nanti kamu nyariin...nanti biar papa minta sekretaris buat ngambil ke rumah." Ucap Rendi yang lalu mematikan panggilanya. Dan Arga langsung menjalankan mobilnya dengan muka masam karena belum mendapatkan hadiahnya dari sang kekasih.
Di tempat Aditya dan juga ifa, Terlihat keduanya tengah menikmati bulan madunya yang penuh syahdu hingga seminggu penuh di Negara lain.
Keduanya tengah menikmati hari terakhirnya berjalan jalan disana, Karena sore harus balik ke Negaranya. Di sebuah jalanan yang begitu rindang dengan di kelilingi pepohonan yang begitu hijau, Suasana menyejukan, Aditya selalu menggenggam jemari sang istri, Membuatnya senyaman mungkin.
Bayanganya teringat beberapa waktu yang telah lalu, Dimana sebelum bertemu dengan sang istri, Di matanya sudah begitu banyak bentuk tubuh wanita yang telah ia pandangi, Namun anehnya tak satupun dari mereka yang bisa menggerakan hatinya untuk menyentuhnya, Bahkan Aditya terkesan membatasi interaksinya dengan mereka dan menjaga jarak. Namun...saat ia di hadapkan dengan gadis polos berbalut pakaian tertutup dan ia hanya bisa memandang wajahnya saja, Ia malah begitu penasaran dengan semua tentangnya, Bahkan saat Aditya yang tidak percaya akan namanya cinta itu...dan cinta mulai menjangkitnya...saat itu pula hatinya menolak sekuatnya kehadiranya, Dan semakin ia tolak...semakin ia merasa tercekik dan tidak bisa bernafas. Hingga gadis yang biasa ia permainkan sesukanya itu...kini tengah menguasai seluruh hatinya.
"Akkkh...semua ini sungguh serasa seperti mimpi!" Ucap Aditya yang merasa kini tidak bisa jauh dari sang istri.
"Bby...ada apa? kenapa seperti mimpi? memang tempat ini sangat indah...aku senang ada di sini denganmu bby..." Ucap Ifa dengan senyuman yang hangat.
"Akh sayang...aku ingin cepat pulang ke hotel...!" Ucap Aditya sembari memeluk tubuh sang istri di tengah tengah jalan setapak di bawah pohon rindang yang tengah keduanya lewati. Aditya tidak menghiraukan orang yang tengah lalu lalang di sana.
"Kenapa sudah ingin balik bby? bukankah waktu jalan jalan kita masih banyak?" Ucap Ifa yang tidak tahu akan keinginan sang suami, Meski semua yang akan di buat oleh oleh sudah terbeli dan sudah berada di kamar hotelnya, Tinggalah keduanya untuk jalan jalan menikmati suasana sebelum sore kembali.
"Kenapa musti tanya sayang....jelas aku ingin menikmatinya...rasanya ber puluh puluh ribu kali pun aku tak akan pernah puas dengan apa yang aku lakukan bersamau...aku ingin selalu menikmatinya bersamamu."
__ADS_1
Ucap Aditya dengan dekapan penuh sayangnya. Dan di sambut sang istri dengan wajah memerah karena malunya.