
anin keluar dari dalam kamarnya,
ia menuju dimana kakeknya sudah duduk menunggunya untuk sarapan bersama...
"lhoh nak...rendi mana?apa masih berantem dari semalam?"
tanya kakek saat melihat anin turun dari tangga sendirian.
"dari semalem apa kek...anin dan kak rendi biasa aja...tidak ada marah atau ngambek kok kek...
kak rendi nya masih habis mandi kek tadi...ya anin turun duluan deh...."
tiba-tiba dari belakang muncul lah rendi dengan bau wanginya yang sudah sampai bawah duluan.
"apa sih yang di bahas ini...?"
tanya rendi yang langsung melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.
"ayow duduk lah kalian..."
ucap kakek mempersilakan cucu cucunya untuk ikut duduk dan sarapan.
anin dan rendi pun lalu turut duduk di samping kakek.
di sela-sela makan...
"kek...tadi pagi...aku minta ita buat ngurus keperluan ambil alih saham grup A.
mumpung saham mereka sedang anjlok...
tapi sepertinya ita keteteran kek...butuh partner...ita juga mau ambil cuti...suaminya mau operasi usus buntu katanya kek,
jadi mau tidak mau...aku harus mencari sekertaris cadangan.
apa kakek punya kandidat untuk menggantikan ita sesaat selama dia cuti mengurus suaminya?"
tanya rendi pada kakeknya.
anin hanya melirik sesaat pada suami dan kakek nya.
"kelihatannya serius sekali...pura-pura tidak dengar ah..."
kata hati anin.
"sayang...kamu tidak mau nambah?"
tanya rendi tiba-tiba yang membuat anin tersedak.
"ouh maaf sayang...apa aku mengagetkanmu?"
tanya rendi pada istrinya.
anin hanya tersenyum dan menggeleng menerima air dalam gelas yang di ulurkan suaminya.
__ADS_1
"kakek tidak ada rekomendasi rend...gimana kalau kamu coba cari sekertaris sendiri...cari yang kompeten cekatan.yang pasti yang bisa mengatur jadwalmu dengan lebih rinci agar tidak membuatmu kelelahan."
ucap kakek pada rendi.
"baiklah kek...siyap...!"
ucap rendi pada kakeknya.
lalu rendi dan kakek melanjutkan makannya.
"pasti yang dipilih nanti juga yang tercantik...mana ada sekertaris jelek goblok...kagak ada....ceritanya...yang ada cantik seksi bahenol...udah pasti itu."
gumam dalam hati anin.
tanpa sadar bibir anin pun monyong...
rendi yang melihatnya pun sangat penasaran...apa yang membuat istrinya seperti itu.
"sayang....kamu tidak apa-apa kan?"
tanya rendi pada istrinya.
anin hanya menggeleng-geleng saja dengan lesunya.
"aneh sekali istrinya ini.apa dia masih marah karena gigitanku tadi?"
tanya dalam hati rendi.
"nanti kalian jadi ke villa jam berapa berangkatnya?"
"nanti mungkin jam sepuluh siang kek...soalnya rendi masih ngajak anin belanja dulu kek..."
kata rendi.
lalu setelah selesi sarapan...rendi dan kakek berada di ruang keluwarga.
mereka sedang mendiskusikan sesuatu.
lagi-lagi anin tak enak ati saat teringat kata-kata suaminya harus mencari sekertaris baru.
"aaahhh...kenapa aku jadi gini sih...masak ia aku tidak percaya suamiku...tapi semua laki itu sama...kalau ada yang beninh juga pasti di pandang..."
pikiran anin mulai kalut.
"sayang...kamu kenapasih...bengong aja dari tadi...kenapa?"
tanya rendi yang ternyata sudah mondar mandir di hadapan istrinya itu tapi tidak dilihat oleh anin.
anin pun sedikit gelagapan karena terkaget suara suaminya.
"kak...apa sudah waktunya berangkat?"
tanya anin pada suaminya.
__ADS_1
"sudah dong...gimana kamu sudah siap-siap kan?"
tanya rendi pada istrinya.
"siap-siap apa kak rend?"
tanyanya lagi kebingungan.
"tuk",
sentilan ringan mendarat di kening anin.
"sakit kak..."
sahut anin sambil mengusap usap keningnya.
"makanya jangan bengong terus..."
ucap rendi.
"kak...ada apa sih?"
tanya anin masih kebingungan.
"apa kamu tidak menyiapkan pakaian atau apa gitu yank setelah dari villa kita pulang loh..."
ucap rendi yang baru membuat anin tersadar.
"oh tuhaaan...aku lupa...belum siap apa-apa kak rend.. "
ucap anin seketika meloncat dari duduknya dan akan berdiri mengambil tas bajunya.
namun tangan rendi langsung mencekalnya.
"biar aku saja...kamu nikmati suasana disini...kita mungkin bulan depan belum tentu bisa kesini lagi...jika aku sudah mulai sibuk,"
ucap rendi.
namun entah kenapa...hati anin benar-benar tidak enak.
"apa itu tandanya ia akan menghabiskan waktunya di kantor dengan sekertatis barunya itu?"
dalam hati anin bertanya-tanya.
"ah sudahlah...cinta kak rendi sudah teruji kok...kak rendi dulu menolak semua siswi kampus yang mengungkapkan hati pada nya...apa lagi hanya sekertaris?"
gumam nya lagi.
dan ternyata suaminya sudah pergi dari hadapannya.
"tapi...dia akan berada di temapt dan ruangan yang sama dengan suaminya...apakah laki-laki yang sudah terujipun akan tahan dengan godaan?"
ucapnya lagi dalam hati.
__ADS_1
"aaaaakkkh..."
teriak dalam batin anin.