Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Rasa cemburu yang ikut menyisip hati


__ADS_3

Hingga menjelang siang itu pun, terlihat mama mendekat ke arah Arga dan Nindi yang masih bermain di ayunan taman hotel.


"Sayang...udah jam segini nih...mama sama papa pulang dulu ya..." Ucap Anin setelah sampai di dekat sang puteri dan menantunya.


"Iya mah...hati hati di jalan ya...eh mah...bentar deh..." Ucap Nindi yang beranjak dari tempatnya dan berjalan cepat menuju sang mama yang sudah berjalan hampir jauh meninggalkan tempat Arga dan Nindi berada.


"Iya sayang...ada apa?" Tanya Anin pada puterinya, setelah Nindi berada dekat di sebelahnya.


"Itu mah...Arga ngajak ke tempat acara setelah dari sini...tapi itu berangkatnya masih besok sekalian...kami nggak pulang ke rumah mah...Nindi bisa minta tolong nggak?" Tanya Nindi pada sang mama.


"Iya...dari tadi mama nungguin kamu ngomong ini sayang...mau minta tolong apa sih?" Tanya Anin sedikit gemas pada sang puteri.


"Itu mah...tolong...bawain gaun pengantin Nindi ya mah ke tempat acara...Nindi biar langsung aja gitu kesananya...bisa kan mah?" Ucap Nindi dengan senyum merekah senangnya, dan kedua tangan yang mengalung memeluk lengan sang mama yang terlihat manja, dan Anin hanya mengangguk mengiyakanya saja, dengan jemari menepuk nepuk tangan puterinya dengan halus.

__ADS_1


"Sayang...tuh lihat suamimu melotot menatap kemari." Ucap Anin yang ingin bercanda pada sang puteri.


"Kenapa mah? aku sudah bilang kok pada dia mah...!" Ucap Nindi yang belum sadar pada apa yang mamanya ucapkan.


"Kamu manja gini sama mama, dia pasti cemburu tuh sayang...!" Ucap Anin pada sang puteri.


"Akh...tahu tuh mah...Arga semua orang di cemburuin tuh...nggak terkecuali si Evan," Ucap Nindi dengan seriusnya. Dan membuat Anin seketika melotot tak percaya pada apa yang telah Nindi ucapkan, tawa Anin pecah seketika, ia tertawa lepas, apa yang ia katakan tadi hanyalah sebuah candaan saja, namun kenyataanya apa yang ia lontarkan tadi di tanggapi serius oleh sang puteri, yang pastinya adalah kenyataan, menantu laki lakinya terlalu mencintai puterinya, hingga sedemikian besarnya.


"Nindi bilang beneran mah...kok malah ketawa sih?" Ucap Nindi dengan heranya.


"Yaudah yaudah sayang...cepat sana kembali...nanti suamimu makin cemburu lo sayang...iya ntar mama bawain gaunya dan semuanya sayang..." Ucap mama yang kemudian pergi berlalu meninggalkan puterinya di tempatnya yang masih mematung sendirian disana.


Lalu terlihat Nindi kemudian berlalu pergi dan berjalan menuju ke arah sang suami lagi yang masih setia menungguinya di tempatnya tadi, di ayunan taman yang tadi Nindi tempati.

__ADS_1


Hingga ia sampai di tempatnya dan terlihat duduk di ayunan yang sama dengan sang suami, Nindi duduk di ayunan depan Arga, Ayunana menyatu yang Arga tempati, berhadapan dengan sang suami.


"Sudah?" Tanya Arga pada sang istri, dan Nindi hanya mengangguk perlahan tanda ia sudah bilang semua pada sang mama.


Hingga beberapa saat keduanya saling berbincang bincang, lalu nampak ponsel Arga berdering, segera saja ia mengambil ponsepnya dari saku celananya, dan menatap pada layar ponselnya, ternyata sang kakak yang tengah menghubunginya.


"Halo kakak...ada apa lagi sih? jangan bilang orang yang aku kirim nggak bisa manjat ya!" Ucap Arga seketika menebak terlebih dahulu apa yang akan kakaknya bilang.


"Bukan...bukan nggak bisa manjat ga...ini dia ngambilnya kebanyakan! ntar di marahin pemilik hotel loh!" Ucap Aditya yang merasa orang Arga kelebihan mengambil buah kelapanya, dan saat Aditya meneriakinya dan memberitahunya, orang tersebut seakan tidak mendengarnya, hingga terkumpul lima buah kelapa hijau yang sudah orang Arga itu jatuh jatuhkan dari atas pohon.


"Udah kakak jangan khawatir, biar aku yang urus kak...kakak dengan tenang bawa aja semua kelapanya, bawa ke dapur hotel, minta orang dapur buat ngupasin deh." Ucap Arga yang menerangkan, dan terlihat Aditya hanya mengiyakanya saja, lalu menutup panggilan telephonenya.


"Sayang...aku ada urusan sebentar ya...kamu aku tinggal sebentar nggak apa apa kan?" Ucap tanya Arga pada sang istri, dan Nindi hanya mengangguk mengiyakan, serta menatap sang suami pergi, sampai punggung datar milik Arga tak terlihat oleh pandangan matanya dan hilang masuk ke dalam hotel.

__ADS_1


Hingga cukup lama Arga meninggalkan sang istri dan belum kembali juga, sampai Nindi bosan menungguinya lagi, dengan rasa sedikit kesal, Nindi beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan tempatnya, ia berusaha mencari cari keberadaan sang suami, dan betapa senangnya Nindi saat ia dapati sang suami terlihat di depan matanya, ia tersenyum di ujung lorong yang Nindi akan lewati, namun langkah kakinya tiba tiba terhenti seketika, saat ia dapati sesosok cantik di depan sang suami yang tengah berbincang bincang, dan nampak pula sesekali tawa keduanya terlihat menghiasi bibir yang terus berbincang.


"Apa ini? kenapa tadi ia bilang hanya pergi sebentar? nyatanya sudah satu jam lebih ia pergi, kenapa? kenapa harus menemui wanita? dan kenapa harus di belakangku? di tempat ini? tempat pesta pernikahan kita? siapa wanita itu?" Ucap bertubi tubi di benak Nindi, dan ia langsung membalikan tubuhnya, pergi berlalu meninggalkan suaminya dan seakan tak ingin tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya, ia terlalu takut mengetahui kenyataan, namun ia berusaha menepis rasa cemburunya, karena selama ini sang suami sudah teruji kesetiaanya.


__ADS_2