
saat mobil hampir memasuki jalanan menuju villa...rendi menatap istrinya yang masih terlelap di samping kemudinya.
"jika rendi memasukan mobil ke jalan ke vila sekarang...pastilah istrinya itu akan terbangun...sedangkan seharian ini...dia melewatkan tidur siangnya,
dan jika dia sudah terbangun...dan takjub melihat pemandangan di sekitar villa...pastilah nanti ia tidak akan mau di suruh lanjut tidur siangnya,"
guman rendi dalam hatinya,
dan akhirnya...ia meneruskan jalannya dan tidak membelokkannya menuju villa dahulu,
"mungkin satu kali putaran lagi ia akan lebih pulas...,"
gumam rendi yang melajukan mobilnya pelan sangat pelan ke jalan yang baru saja ia lewati.
hingga terhitung tiga kali putaran anin baru terbangun.
"lhoh kak...katanya setengah jam an...kok belum nyampe-nyampe si kak?"
tanya anin pada suaminya..
namun rendi hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepala istrinya itu.
dan anin masih dengan mengerjap-ngerjapkan matanya yang belum terbuka sempurna.
akhirnya mobil pun masuk ke jalanan yang hanya se arah menuju villa...jalanan yang hanya muat di lalui dua mobil saja jika berjajar itu.
jalan yang terawat dengan kanan kiri di tumbuhi bunga dan pohon yang rindang...namun tidak banyak daun kering yang berjatuhan...karena setiap hari ada yang merawat villa keluwarga rendi ini.
dan villa ini pun tidak jauh dari rumah penduduk...mungkin hanya seratus meteran dari rumah dan villa yang lainnya.
meski baru masuk pukul tiga sore...namun udara sudah terasa dingin...dan menjadi sejuk...tidak ada cuaca panas yang seperti di rasakannya tadi.
mata anin memandang sekeliling begitu sejuk dan segar...benar-benar membuatnya tidak bisa memalingkan mata meski hanya menatap sekilas suaminya.
"bener kan apa kataku...udah lupa sama suaminya saking asyiknya dia,"
ucap rendi dalam hatinya namun tidak dengan kekecewaan,melainkan rasa senang dan bahagia bisa melihat istrinya tersenyum ceria.
dan terlihatlah villa keluwarga rendi dari tempat anin berada sekarang...sebuat bangunan yang tidak begitu besar namun cukup nyaman...bertingkat namun terkesan tidak terlalu tinggi...
dengan cat yang dominan hijau di sana.
rendi segera mengajak turun istrinya untuk masuk kedalam.
di depan villan banyak pohon cemara yang menghiasi dan dengan kebun bunga yang tertata indah.
terlihat seorang tukang kebun sekaligus yang biasa membersihkan villa...yang tinggal tidak jauh dari villa ini.
__ADS_1
ia tahu rendi dan anin sudah sampai...lalu ia menghampiri nya.
"tuan...nyonya..."
sapanya pada rendi dan anin.
lalu membukakan pintu dan mempersilakan mereka.
"pak malam ini kami menginap disini.."
ucap rendi yang lalu penjaga villa itu pun mengerti dan menyerahkan kuncinya.
"tuan...saya ada di kebun dekat sini jika anda membutuhkan sesuatu..."
ucap penjaga villa.
lalu meninggalkan rendi dan anin.
anin menunggu suaminya itu di teras depan villa...suaminya sedang mengeluwarkan barang belanjaan dari bagasi mobil nya satu persatu dan di bawanya ke dalam.
anin hanya menungguinya...karena suaminya sudah melarangnya terlebih dahulu.
dan akhirnya semua barang belanjaannya pun sudah masuk ke dalam.
"sayang...mau disini saja atau masuk ke dalam?"
anin dengan senang menerimanya dan meneguknya,
"yuk kak...kita masuk..."
ajak anin.
lalu rendi mengajaknya naik ke lantai dua...tangga naiknya pun tidak selebar di rumah rendi dak kakek...disini hanya muat untuk dua orang yang beriringan saja.
setelah sampai di bagian atas villa...anin mulai mengajak suaminya melihat satu persatu kamar,
terdapat tiga kamar yang masing-masing sudah ada kamar mandi di dalamnya.
sedangkan bagian bawah...hanya ruangan besar yang berisi dapur.. ruang keluwarga saja.serta satu kamar mandi di bagian bawah.
"kak rend biasanya suka dimana?"
tanya anin.
"aku...suka dimanapun asal ada kamu,"
ucap rendi sambil memeluk dari belakang istrinya.
__ADS_1
mengecup leher jenjang istrinya itu dengan gemasnya.
"kak...aku tanya beneran nie..."
ucap istrinya yang lagi-lagi ia harus menyudahi aktivitasnya,
lalu rendi mengajak anin ke kamar bagian tangah,diman saat matahari terbit terlihat jelas disana.
anin pun menyetujui usulan suaminya itu dan menjatuhkan pilihan di kamar tersebut.
"apa kau suka?"
bisik rendi di telinga istrinya,
namun anin hanya membalas nya dengan senyum senang di bibir tipisnya.
hingga...rendi tidak bisa menahannya lagi.
bibir istrinya yang selalu manis menurutnya itu.
yang selalu memabukkan di ciuminya dengan lembut.
keduanya saling beradu hingga telephone anin berbunyi,
anin ingin meraihnya dan melihatnya,
namun kekuatan suaminya lebih kuat darinya,
rendi pun terus melancarkan aksinya,hingga kepuasan keduanya.
anin meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa benang,
lalu melihat ponselnya,
neta.
"ada apa lagi anak itu!'
gumamnya.
lalu anin menelphone balik neta.
sambil menunggu nada tersambung,sesekali anin melirik suaminya yang ada di sampingnya dengan masih bertelanjang dada.
"dasar kak rendi...tidak di rumah tidak disini sama saja stamina seperti tidak ada habisnya...padahal perjalanan cukup jauh...,huuufff..."
gerutu anin.
__ADS_1