Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Lagi lagi dejavu


__ADS_3

Subuh waktu setempat tampak beberapa orang suruhan Aditya tengah berdiri mematung di depan rumah paman dan bibi ifa, Dan karena semua sudah janjian sedari kemarin...akhirnya tiga mobil yang di kirim Aditya penuh dengan penumpang dari keluarga ifa. Semua menuju ke tempat acara, Meski bibi dan pamanya belum siap apa apa, Mereka harus memastikan paman dan bibi calon nyonya besarnya itu selamat sampai tujuan.


"Kami siap siap dulu ya...tunggu...!" Ucap paman dan bibi ifa yang sudah begitu gemetaran karena was was, Padahal baru subuh saja namun sudah di jemput dua mobil.


"Silahkan naik ke mobil tuan...nyonya...tuan besar berpesan bahwa nyonya dan tuan harus sampai disana sebelum para tamu tiba...dan pakaian anda sudah di persiapkan di sana...silahkan...!" Ucap salah seorang yang Aditya percayai dalam hal itu. Hingga paman dan bibi serta keponakan keponakan sanak saudara yang ada semua di angkut sekalian ke tempat acara. Hingga tiba di tempat riasan pun keduanya di persilahkan masuk. Keduanya menunggu giliran mereka untuk di dandani, Jadi paman dan bibinya itu memutuskan bergantian membersihkan diri karena tadi belum sempat mandi.


Pagi itu, Terlihat begitu riyuh ceria di wajah kedua mempelai saat sudah dalam riasan delapan puluh persenya. Sesekali Aditya melirik ke arah calon istrinya yang duduk bersebelahan denganya. Wajahnya tampak luar biasa cantiknya saat itu menurut Aditya. Hingga ifa malu ketika mendapati calin suaminya yang ketahuan tengah menatapnya sedari tadi tanpa kedip.


"Drrrrtt....dddrrrttt...." Getaran ponsel ifa yang terasa di meja rias depanya membuatnya harus menengok siapakah gerangan yang mengirim pesan padanya.


"Sepertinya aku akan khilaf saat menatapmu seperti ini...bisakah aku menggigitmu secuil saja?" Isi pesan Aditya yang terkesan jahil pada ifa, Memang Aditya begitu gemas menatap calon istrinya itu. Hingga membuatnya malu dan merona merah di pipinya yang sudah di poles cantik.


"Sabar bby...jangan buat aku salah tingkah...nggak lucu tahu...!" Ucap balasan ifa yang ia kirim pada calon suaminya itu, Namun Aditya hanya membalasnya dengan gambar hati di pesan yang ia kirimkan.


Dan di kediam Rendi Wijaya, Nampak Nindi tengah mondar mandir dan belum mengganti pakaianya dengan pakaian yang akan ia gunakan untuk menghadiri acara pernikahan kakak dari kekasihnya.


Di tanganya terlihat membawa serta ponsel yang ia sesekali tatap layarnya. Dimana disana tidak ada satupun balasan yang Arga kirim untuknya, Apalagi panggilan masuk yang sudah ia ingin dengar.


"Arga...kamu kemana sih? apa mungkin kamu nggak datang? kamu nggak jemput aku? terus...acara nikahan kakak kamu gimana kalau aku sendiri tanpa pasangan? sedangkan yura jadi pendamping berpasangan dengan Satria...masak kamu tega sih ga....!" Ucap Nindi dengan omelan omelan lirihnya yang hanya dia sendiri yang bisa mendengarkanya.

__ADS_1


"Loh sayang....masak belum ganti baju sih? mama aja yang bawa perut besar gini udah jadi...tinggal berangkat noh sama papa...kok anak gadis mama malah belum apa apa ya? mau mama dandanin?" Ucap Anin yang baru masuk ke kamar Nindi, Anin tengah menggoda putrinya itu. Namun Nindi malah mengerucutkan bibirnya, Tatapanya sembab seperti kepingin nangis. Lalu datang berhambur menuju mamanya, Nindi memeluk mamanya.


"Mah...Arga nggak ada kabarnya mah...Arga kemana mah? Nindi nggak mau sendirian ntar nggak ada pasanganya..."


Ucap Nindi yang kambuh sifat manjanya, Dan Anin hanya membalas pelukan Nindi dan menepuk nepuk pundak putrinya.


"Sayang...siapa tahu Arganya lagi perjalanan...naik pesawat...pastilah ia datang...kan acara nikahan kakaknya..." Ucap Anin yang mencoba menenangkan.


"Yaudah ma...Nindi ganti pakaian dulu ya ma..." Ucap Nindi yang menyudahi pelukan sang mama. Dan Anin pun meninggalkan putrinya sendiri di kamarnya lagi.


Hampir satu jam Nindi dikamarnya namun belum keluar juga.


"Nindi...ayo...udah hampir waktunya nih...kamu lagi ngapain? mama papa tinggal ya sayang..." Ucap Rendi dari luar pintu kamar puterinya.


"Papa...Nindi udah siap kok pah...Nindi cuma lagi nungguin pesan Arga...namun kayaknya dia nggak datang pah...ayo berangkat..." Ucap Nindi dengan setelan kebaya khas pendamping yang sama warnanya dengan yang di kenakan yura, Namun beda model. Kebaya yang Nindi kenakan saat itu adalah warna pink shoft lengan panjang namun terkesan transparan di bagian dada sampai lehernya, Membuat kulit putih bersihnya nampak terlihat nyata, Dengan rok lilit batik. Rambut yang dililit di kedua sampingnya dan berakhir di satukan ke belakang, Terlihat menawan yang Nindi pakai untuk ke acara nanti. Tidak ketinggalan jam tangan bermerk terkenalnya dan sepatu heals tinggi senada dengan warna kebayanya yang menunjang penampilanya pagi itu.


"Kok lama sih sayang?" Tanya Anin pada puterinya, Saat ia lihat suami dan puterinya yang baru turun dari anak tangga menuju ke arahnya.


"Nindi kan masih dandan mah..." Ucap bohongnya agar mamanya tidak ikut sedih. Hingga ketiganya pergi meninggalkan rumah, Dan menuju ke acara yang akan di hadiri ketiganya. Perjalanan cukup menempuh waktu setengah jam lebih sedikit. Saat Rendi turun dari dalam mobilnya yang di ikuti oleh istri dan puterinya.

__ADS_1


Terlihat acara sudah akan di mulai dan tampak semua tempat duduk sudah terisi oleh para undangan Aditya dan ifa. Hampir penuh...namun tempat keluarga Wijaya sudah di khususkan untuk acara tetsebut. Berada di deretan paling depan, Berjajar dengan keluarga mempelai.


Nindi meminta izin papa dan mamanya untuk menuju ke arah ruangan ifa berada. Ia sedikit lari dengan rok lilit yang lumayan merepotkan baginya, Dimana ia ingin memastikan apakah Arga sudah berada di dalam sana dengan kakaknya hingga lupa memberi kabar padanya.


Sedangkan yura dan satria sudah berada di tempatnya setelah menyapanya tadi.


"Aaaakh.....brugk!" Suara Nindi yang terjatuh namun tidak sakit, Matanya memejam takut baju kebaya yang ia kenakan kotor berantakan. Namun saat ia membuka mata...alangkah terkejutnya ia saat ia dapati Arga tengah menopangnya dengan pelukanya.


"Arga...!" Sontak teriakanya yang membuat beberapa orang menoleh ke arahnya, Tanpa terkecuali kedua orang tuanya. Rendi dan Anin. Rasanya saat itu Rendi ingin sekali menjewer telinga putrinya tersebut karena malu dengan tingkah konyol Nindi barusan. Namun kata kata istrinya itu selalu bisa menenangkan perasaanya.


"Sabar pah...namanya juga anak muda..." Ucap Anin yang membuat Rendi menoleh menatap kembali ke arahnya memandang semula. Kedepan.


"Iya sayang...masak baru di tinggal Arga aja dua hari kelakuanya udah kayak gitu coba...sekalian aja nikahin disini mah..." Celoteh gergetan Rendi saat tanpa ia sadari beberapa orang menatapnya pula, Meski dengan tersenyum.


"Aaakh...sekarang aku yang bikin malu!" Dengus Rendi dalam hatinya.


"Kayak papa nggak pernah muda aja sih? kan dulu..." Ucap Anin terhenti saat jari telunjuk Rendi menempel tegak di depan bibirnya. Hingga tanpa sadar membuat keduanya malah tersenyum yang hanya bisa keduanya artikan sendiri senyumanya itu.


"Dejavu", Ucap bisik lirih Rendi di sebelah pipi sang istri.

__ADS_1


__ADS_2