Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Hidup mati bergantung si sepatu


__ADS_3

Aditya dengan perasaan campur aduknya...antara sedih karena kehilangan sepatu ber merk nya atau karena ia tidak mampu mengusir perasaan khawatirnya terhadap ifa, Ia ingat betul saat sepatu itu tinggal satu satunya dan ia rebutan dengan Arga, Hingga Arga mengalah dan merelakan sepatu itu menjadi miliknya. Ia sedih...saat mengetahui sepatunya hilang karena ulahnya sendiri yang main copot lempar saja saat ia akan lompat ke air, Dan ia tersadar saat semua sudah terjadi. Namun ia juga lega...dimana ternyata ifa tidak kenapa napa seperti yang ia pikirkan tadi.


Lalu ia pun putuskan untuk pergi ke tempat mobilnya, Ia berniat akan meninggalkan ifa begitu saja. Meski masih dalam pengawasanya, Karena orang suruhanya yang selalu mengawasi.


"Bodoh...bodoh...." Gerutunya di sepanjang langkah kakinya. Namun ifa yang sadar bahwa bos nya sangat marah...bahkan ifa tahu jika ia kerja seumur hidup untuknya pun tidak akan bisa menggantikan sepatu kesayangan bos nya tersebut. Entah apa yang ifa pikirkan saat itu...ia kehilangan sepatunya yang sebelah...juga kehilangan sepatu bos nya yang mahal sepasang.


"Harusnya aku tadi nggak usah main main di tepi pantai...harusnya aku tadi nungguin bos pulang saja...kalau sudah seperti ini kejadianya...aku bisa apa...mau nangis sampai mata bengkak juga nggak ada gunanya...mau nyari ke tengah laut? jelas nyari mati!" Gerutunya sambil terus berjalan hingga kakinya pegal dan ia memutuskan untuk duduk di tepian pantai.


Ia tidak menghiraukan apakah ia bisa pulang atau tidak...di rumahnya sudah tidak ada siapapun yang menunggui kepulanganya. Di tempat kerjanya juga bos nya sudah begitu marah padanya hingga mungkin ketika pak Aditya itu melihatnya, Malah akan membuatnya teringat kembali akan hal yang ia lakukan padanya.


"Tuhan...aku hanya bisa pasrah padamu...untuk hidup dan matiku...jodoh mungkin aku nggak mau mikirin...siapa juga yang mau nikahin aku dengan hutang yang aku bayar sampai mati pun belum tentu lunas...aku nggak kepikiran ingin di sayang orang. Tuhan...aku ingin kau saja yang menyayangiku...kalau rizqi, Aku sudah sangat berusaha tuhan...aku masih terus berharap keajaibanmu...meski aku tahu...pasti datangnya juga dari pak Aditya...namun apa salahnya aku berharap lebih...agar bisa lunasi semua hutangku pada pak Aditya dan hidupku terbebas darinya selamanya." Ucap ifa yang sudah buntu otaknya dan tidak bisa mikir apa apa lagi selain pasrah pada sang kuasa.


Hingga tanpa terasa ia pun tertidur di sana bersandar batu besar di sampingnya. Dengan kepala yang menyender di atas batu. Dan sedangkan Aditya sudah sampai ke hotel tempatnya menginap, Ia memutuskan untuk pergi dari sana esok hari. Dimana ia selalu memantau ifa dari kejauhan. Terlihat Aditya tengah sibuk menelephone seseorang yang tengah mengawasi ifa di sana, Dan Aditya begitu lega saat ifa masih di tempatnya dan tidak melakukan hal hal yang konyol lagi. Aditya hanya menyuruh orang untuk mengawasinya saja tanpa melakukan apapun. Jujur di hatinya masih mendongkol karena sepatu kesayanganya yang hilang. Hingga ia berniat menghukum ifa agar tidak pulang kembali ke hotel tempatnya menginap malam itu.


Udara kian dingin, Hingga terasa menusuk ke tulang dan persendian. ifa semakin meringkuk menangkupkan kedua tanganya sendiri memeluk tubuhnya di pesisir pantai. suara desiran ombak makin kencang yang menelan semua suara yang ada. Angin yang mulanya semilir ia rasakan seakan membuatnya nyaman itu kini makin terasa seperti kipasan besar dan kencang menerpa tubuhnya. Hingga kenyamananya pun sudah tidak ia rasakan seperti semula, Membuatnya terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Perlahan ia mengerjapkan matanya sambil mengucek uceknya. Ia merasakan udara di sekitarnya makin kencang hembusanya. Lalu ia pun menatap sekeliling dimana cahaya oren itu keluar dari persembunyianya...tanpa sadar matanya pun menatapnya tanpa kedip.


"Begitu indah..." Gumamnya sambil mengawasi sekitar yang masih remang remang namun sedikit terang...Ia lupa akan apa yang kemarin ia lakukan...hingga menunggu sekitar terang. Terlihat Seorang pemulung tengah mengumpulkan puing puing botol sisa minuman pengunjung pantai, Terlihat di tanganya ada satu sepatu yang penuh dengan lumpur yang ia kenal meski dalam keadaan seperti itu.


"Haaaaachu.....haaaaachu...." Ifa sudah bersin untuk beberapa kali setelah ia bangun.


"Aaah itu sepatu pak Aditya...!" Ucapnya dalam hati sambil beranjak berdiri dari tempatnya dan berlari mengejar bapak pemulung yang ada benerapa meter darinya.


"Pak...tunggu pak...tunggu...!" Teriak ifa saat ia hampir kehilangan bapak pemulung tersebut, Karena si bapak berjalan begitu cepatnya. Dengan langkah ngos ngosanya...ifa pun berhasil mendekat ke arah si bapak pemulung.


"Iya non...ada apa?"Tanya si bapak dengan keherananya.


"Non...kenapa anda ingin sekali sepatu ini? bukankah ini sepatu orang orang yang biasanya mesum disini ya non...non masih minat sepatu ini?" Tanya si bapak dengan penasaranya, karena memang si bapak punya sepasang yang baru saja ia temukan tadi.


"Iya pak...saya mau pak...nggak apa apa pak...boleh ya saya beli...gini deh pak..." Ucap ifa sambil mengeluarkan uang di kantongnya limaratus ribu rupiah.

__ADS_1


"pak...saya hanya bawa uang segini pak...saya beli empat ratus ribu ya pak? soalnya...saya nggak punya ongkos pulang nanti kalau saya kasih bapak semua..." Ucap ifa sambil menyodorka uangnya empat ratus ribu rupiah.


"Aaah non...itu kebanyakan non...saya nggak perlu banyak banyak non."Ucap si bapak sambil mengeluarkan pasangan sepatu yang satunya lagi dari kantong yang ia bawa di punggungnya.


"Bapak punya yang satunya lagi?" Ucap ifa yang begitu terkejutnya, Melihat si bapak tersebut mengeluarkan satu pasanganya lagi. Dan bapak itu pun tersenyum sambil menyerahkan sepasang sepatu pada ifa, Namun si bapak hanya mengambil seratus ribu saja dari tangan ifa.


"Pak...ini untuk bapak semua...ifa beneran pak...!" Ucap nya namun sudah tidak di hiraukan oleh si bapak dan pergi meninggalkan ifa disana dengan senyum bahagia.


Ifa pun dengan senang membawa sepatu sepatu itu ke tempat laundry sepatu, ifa dengan sabar menungguinya sampai sepatu itu kering. Meski...petugas laundry tahu sepatu itu adalah sepatu ber merk dan limited edotion...ia tidak mematok harga lebih tinggi dari sepatu sepatu biasanya. petugas laundry melihat ifa begitu melasnya, ia pikir seorang karyawan tengah membuat marah bos nya hingga membuang sepatu bermerk nya.


"Nih mbak udah sepatunya...." Ucap petugas laundry sambil menyerahkan sepatu tersebut.


"Mbak...makasi ya...kalau mau naik angkot dari sini ke hotel X kita naik darimana mbak?"Tanya ifa tanpa malu malu.


lalu si mbak nya pun memberitahu pada ifa...jika ia harus menyeberang jalan sampai ujung jalan...ia harus menyetop angkot warna kuning...nanti akan se arah ke hotel yang ifa maksud. Dan benar saja...ifa menurutinya hingga pukul sepuluh pagi saat ifa sampai le hotel yang di tujunya.

__ADS_1


Ifa dengan perasaan senang bergegas menuju kamar hotel bosnya, Ia berharap...semoga bosnya tidak marah lagi, Karena sepatunya telah pulih dengan semula...meski petugas laundry tidak mencucinya dengan sabun pada umumnya hanya dengan air putih yang mengalir saja.


Dimana si petugas sudah mengerti sepatu bermerk tersebut. Ifa mengenang saat tadi ia menyodorkan sepatu tersebut pada petugas laundry...petugas tersebut langsung menolak karena merk dari sepatu. Namun saat ifa menangis disana karena hidup matinya bergantung si sepatu...alhasil si petugaspun akhirnya mau mencucikanya.


__ADS_2