Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Selesai dengan pindahan


__ADS_3

Siang yang cerah dan cenderung panas, Membuat Nindi betah berlama lama mandi di dalam kamar mandi, Kamar mandi yang terletak di dalam ruang kantor Arga, Sudah hampir setengah jam Nindi di dalam sana, Dan masih terdengar guyuran air yang jatuh berbenturan, Sampai...tibalah asisten Arga yang mengantarkan beberapa stel pakaian untuk calon istri bosnya tersebut.


"Ini pak Arga pakaian yang anda minta", Ucap asisten Arga. Lalu tanpa sepatah katapun, Arga mengambil pakaian pakaian yang masih terbungkus oleh plastik tebal yang menyeluruh itu dari tangan asistenya, Menjajarnya di atas sandaran sandaran sofa, Dan Arga segera saja melihat lihat mana yang cocok buat calon istrinya itu.


Hingga pilihanya jatuh pada pakaian berbahan kaos lengan pendek, namun bawahanya panjang sampai atas lutus dengan warna grey, Sedangkan celananya polo shirt legging warna coklat tua. Terkesan nyaman, Adem dan tidak gerah pastinya, Karena Arga sudah mengira, Pasti nanti bakalan repot, Dan jika Arga memilihkan dress pasti nggak nyaman saat di buat Nindi beraktivitas.


"Tok tok tok, Sayang...ini pakaian ganti kamu...aku taruh di knop pintu ya..." Ucap Arga sekaligus ketukan jari tanganya di luar pintu kamar mandi. Dan tidak berapa lama, Saat Arga berpaling memunggungi pintunya, Terlihat tangan Nindi keluar dari dalam dan meraihnya.


"Makasih sayang..." Ucap Nindi sebelum menutup pintu kamar mandinya,


"Wow...Arga punya selera yang bagus..." Ucap Nindi sembari mengenakan pakaian baru yang baru saja ia ambil barusan. Dan tidak butuh waktu lama, Saat ia keluar dari dalam kamar mandi dan sudah mengenakan pakaian yang Arga pilihkan untuknya.


"Ga...aku tadi bilang ambil di rumah aja kan? kok ini sepertinya baru ya?" Ucap Nindi sembari mencium bau pakaian baru yang ia kenakan.


"Nggak apa sayang...nanti kelamaan kalau ngambil pakaian kamu di rumah...udah jam segini pula, Nih...pilih lagi...buat acara ntar malam...masak iya nggak mau ganti?" Ucap Arga sambil memperlihatkan pakaian pakaian yang sengaja ia tunjukan pada Nindi, Terlihat tanganya tengah memilih milih disana, Namun ia bingung.


"Akh...aku nggak ganti aja deh ga...pakai ini aja...kan cuma nyantai aja sayang...nggak apa ya..." Ucap Nindi sembari merangkul lengan Arga dan mengajaknya segera pergi, Dimana perutnya sudah keroncongan karena lapar.


"Sayang kamu mau ini semua? Aku masukin mobil kamu ya..." Ucap Arga sambil menunjuk empat stel pakaian yang ada di sandaran sofa.

__ADS_1


"Kalau aku nggak mau ga?" Tanya Nindi balik,


"Aku buang lah...aku beli kan khusus untuk kamu...mana bisa aku memberikanya pada orang lain." Ucap balasan Arga dengan senyumnya.


"Jangan lah ga...kenapa di buang? kan sayang...buat aku aja...kita ke rumah kakak pakai mobil kamu aja ya..." Ucap Nindi yang di sambut senyum senang oleh Arga, Dengan tangan yang menyahut satu dress warna biru tua tanpa lengan, Dan bagian bawah yang panjang sampai mata kakinya. Sedangkan sisanya ia menyuruh asistenya untuk memasukanya ke dalam mobil Nindi.


Dan keduanya putuskan untuk pergi menunu ke rumah Aditya saat itu, Di sepanjang perjalanan, Nampak Nindi sedikit tak nyaman, Ia merasa perutnya keroncongan, Karena lapar.


Dan Arga yang sesekali melirik ke arahnya itu pun mengerti, Karena saat itu pula Arga merasakan hal yang sama, Sama sama lapar. Sampai ia pun mencoba menghubungi kakaknya, Dan ingin bertanya langsung padanya.


"Halo kak...maaf ya...kami agak telat...aku ketiduran tadi...sekarang sedang perjalanan", Ucap Arga saat panggilan telephoneya sudah tersambung pada kakaknya.


"Eh kak...jangan di matikan dulu...disana ada makanan nggak? kami lapar...belum makan nih kak...!" Ucap Arga dengan jujurnya, Dan ia tidak merasa malu atas kejujuranya.


"Ada dong...mau apa? panggang ayam? empal daging? ada lah...cepet kesini..." Ucap jujur Aditya, Lalu ia pun mematikan panggilan telephonenya, Sampai beberapa saat, Tibalah mobil keduanya di area pelataran luar rumah Aditya, Nampak di dalam rumah sudah banyak orang, Para tetangga Aditya, Dan kelak juga akan menjadi tetangganya, Arga memutuskan masuk dari pintu utama, Memberi salam pada semuanya, Sedangkan Nindi berjalan menuju ke arah belakang lewat samping rumah, Pas sekali saat itu acara sudah selesai, Hingga waktunya menyantap hidangan, Semua menikmati jamuan makanan dari tuan rumah, Tidak terkecuali Arga, Sedangkan Nindi pun langsung ikut turut makan di ruang makan.


Dari ruang tamu, Nampak Arga membawa piring kosong dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Mau nambah lagi?" Tanya Nindi sembari menyodorkan lauk yang ada di atas meja makan, Dan Arga hanya mengambil beberapa lauk saja untuk di makanya, Karena untuk nasi, Ia sudah terlalu kenyang.

__ADS_1


Sesekali nampak Arga menyuapi Nindi dengan makanan dari piringnya, Dan Nindi pun sama, Saling bertukar suapan satu sama lain, Sampai si bibi yang ikut membantu pun ikut tersipu malu saat tanpa sengaja menatap ke arahnya. Bibi yang sengaja Aditya dan ifa pekerjaan lepas, Berangkat pagi pulang sore, Dan itu pun berlaku untuk seterusnya,


"Tuh kalian...buat bibi malu aja..." Ucap Ifa sembari memberikan jus kemasan botol di depan keduanya.


"Akh...bibi...maklum ya...kami masih calon pengantin..." Ucap Arga yang tengah memberi tahu si bibi agar tidak salah paham.


"Silahkan tuan...bibi juga pernah muda..." Canda bibi ganti yang membuat Arga dan Nindi ikut tersenyum karenanya.


Hingga acara sore itu selesai, Dan Nindi serta Arga yang di bantu bibi, Juga ifa dan sang suami yang turut membagi bagikan bingkisan untuk para tetangga, Akhirnya selesai juga.


"Akh...capek..." Ucap Nindi sambil menyelonjorkan kedua kakinya ke depan dan memijitnya, Ia tengah duduk di sofa samping Arga, Dan seketika Arga pun mengambil kedua kaki Nindi dan menaruhnya diatas pangkuanya, Tangan Arga mulai memijitnya tanpa aba aba, Dan Nindi merasa sangat nyaman.


"Akh...romantisnya kalian terlalu menginspirasiku...benar kan sayang?" Ucap Aditya seketika, Dan ifa hanya tersenyum menanggapinya.


"Sayang...sini kakinya aku pijitin...ikutan capek kan pastinya?"


Ucap Aditya sambil akan mengambil kedua kaki istrinya, Namun ifa menolaknya karena merasa ia tidak lelah.


Ia tadi hanya mengirim ke dua rumah saja, Sedangkan Nindi ke empat rumah, Arga pula. Hingga tawa semuanya yang terlihat gembira sore itu.

__ADS_1


__ADS_2