Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Dan lagi lagi heboh


__ADS_3

Mata hari sudah menyilaukan saat Aditya masih tertidur di atas pembaringanya. Tanganya mulai beringsut bergerak gerak mencari sesuatu yang ternyata tak ia dapati, Segera saja ia membuka matanya dengan cepat, Nafasnya makin memburu ketika ia sadari sang istri tidak di sampingnya,


"Apakah semalam hanya mimpi? tidak....itu tidak mungkin...jelas jelas aku masih belum mengenakan pakaianku." Ucap Aditya sembari menarik pakaian handuk di sampingnya dan mengenakanya.


"Bby...udah bangun?" Ucap lembut sosok cantik dari balik pintu kamar yang baru terbuka, Ifa tengah membawa secangkir kopi jahe untuk suaminya di tanganya.


"Aaahhh....syukurlah...ini bukan mimpi..." Ucap Aditya yang nampak sangat lega saat itu. Dan ifa pun mendekat, Meletakan kopi jahe suaminya di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Sontak Aditya langsung menarik ifa dalam pelukanya, "Aku kira semua ini hanya mimpi sayang...aku masih ingin memelukmu..." Ucap Aditya dengan pelukan hangatnya.


"Loh...udah harum banget...udah mandi ya? kok nggak nungguin aku sih?" Ucap Aditya saat bau harum dari rambut yang sudah hampir kering milik ifa menguar memenuhi penciumanya.


"Aku bangun subuh tadi bby...pinginya mau masak juga...tapi...di kulkas nggak ada apa apa selain telur dan mie instan...maaf ya...aku tinggal mandi sendiri tadi..."


Ucap ifa dengan nada lembutnya, Sontak membuat Aditya gemas dan mencium bibir mungil yang tengah berbicara barusan. Menikmatinya dan melanjutkan aksinya seperti semalam yang sudah keduanya lewati bersama, Tanpa aba aba tanpa pertanyaan terlebih dahulu Aditya melakukanya. Lagi.


Di kediaman Rendi Wijaya, Di dalam kamar Nindi, Ia masih terbaring di atas ranjangnya, Namun matanya mulai membuka, Menatap sekeliling dan mencari cari Arga disana. Namun tidak ia temukan, Segara saja ia meraih ponselnya dan mencoba menghubunginya, Matanya nampak menatap tajam ke arah jemarinya yang terdapat cahaya berkilauan dari sana,


"Cincin? Arga kah yang memakaikanya?" Tanya dalam hati Nindi dengan degupan didadanya yang teramat kencang, Ia begitu bahagia dan juga bercampur terkejut disana.

__ADS_1


Sontak membuatnya melonjak dari atas pembaringan dan berlari sekuatnya menuju ke lantai bawah, Dimana mama dan papa nya tengah habis jalan jalan dan sedang bersantai di depan teras rumahnya, Menikmati sinar mentari pagi dan di temani segelas susu untuk ibu hamil milik Anin, Dan secangkir kopi hitam milik Rendi.


"Mama....papa...lihat mah...Arga memberikan Nindi cincin...bagus banget pah...mah..." Ucap Nindi seraya memeluk mamanya dan papanya bergantian. Tanpa ia sadari nyeri perutnya yang hilang timbul dan kini tidak di hiraukanya.


"Sayang...kamu sudah nggak sakit perut lagi?" Ucap Anin yang langsung membuat Nindi teringat bahwa ia belum mengenakan pembalut.


"Astaga...mama...aku lupa...aku ke kamar dulu ya pah...ma..." Ucap Nindi yang berlalu pergi begitu saja, Membuat kedua orang tuanya saling menatap satu sama lain dan tersenyum bersamaan.


"Sayang...apa kamu se ceria itu saat dulu aku menyematkan cincin di jari kamu?" Tanya Rendi yang mengenang perjalanan cintanya sampai mempunyai puteri yang sudah tumbuh dewasa dan akan segera menikah pula, Ditambah jagoan yang sebentar lagi akan melihat dunia. Dan Anin pun mengingat saat dahulu ia di ajak sang suami membeli sepasang cincin di galeri seperti sedang main petak umpet,


Dimana neta muncul disana dan membuatnya harus bersembunyi ke toilet sampai neta pergi. Hingga Anin tersadar saat jemarinya di genggam sang suami.


"Ah...aku teringat saat dulu...jangankan aku jingkrak jingkrak senang kaya Nindi pah...tapi aku malah kaya maling yang takut ketahuan kala itu...aku ngumpet...sampai neta pergi..." Ucap Anin dengan nada sendunya, Tanpa terasa senyumnya berubah menjadi raut yang sedikit haru bercampur sedih.


"Ada apa sayang? kamu mau makan sesuatu?" Tanya Rendi pada istrinya.


"Aku tiba tiba merindukan neta pah...apa kabarnya dia disana? aku dengar dari satria...mamanya itu jadi pebisnis kuliner yang sukses...sampai lupa sama aku..." Dengus Anin dengan sedikit kesalnya.

__ADS_1


"Biarlah sayang...kelak kalau Nindi atau Satria nikah...pastilah kita akan bertemu lagi...yang penting sekarang kamu sehat terus ya..." Ucapnya sambil berlalu mendekat ke arah tempat duduk sang istri dan berjongkok di depanya.


"Apakabarnya jagoan papa mama? yang sehat terus ya...jangan buat mama kecapekan..." Ucap Rendi di depan perut buncit istrinya, Telinganya menempel disana dan jemarinya mengelus lembut, Rendi serta Anin tampak bahagia saat tendangan tendangan kecil dari dalam sana menyambut kata katanya. Sepertinya puteranya tengah menyambut bisikan dan elusan halus papanya.


"Sayang....aku masuk dulu ya...aku mau siap siap kerja...ayo sekalian aku antar ke kamar..." Ucap Rendi yang mengajak istrinya masuk ke dalam, Dan Anin dengan turut iku masuk ke dalam rumah bersama sang suami.


Beberapa saat kemudian, Terlihat Nindi sudah siap dengan pakaian kerjanya dan senyum ceria tengah duduk di kursi meja makan menantikan papa dan mamanya disana.


"Loh sayang...bukanya kamu masih sakit? kok sudah rapi? mau ikut papa ke kantor ya?" Tanya Rendi yang baru keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya dan tas kerjanya yang di bawa sang istri, Kedua tanganya memapah sang istri menuju ke meja makan bersamanya.


"Nindi harus kerja pah...Nindi udah nggak apa apa kok...cuma sakit tiap datang bulan aja..." Ucap Nindi dengan senyum cerianya,


"Aduh...." Ucapnya lagi yang sontak membuat Anin dan Rendi saling menatap.


"Udah di bilangin ngeyel...kamu biasanya nyeri perut kan tiga harian baru ilang...nggak usah kerja sayang...temani mama aja di rumah...besok aja kerja ya...nanti mama minta Arga datang deh..." Ucap Anin yang membuat Nindi seketika mengangguk dengan mantapnya.


Hingga pagi itu ketiganya menikmati sarapan bersama.

__ADS_1


Di Apartemen Arga, Ia masih meringkuk dengan selimut tebal yang menutup semua tubuhnya, Ia tidak bisa bangun pagi itu, Hingga ia meminta asistenya untuk membatalkan semua jadwalnya pagi itu dan menjadwal ulang, Dimana ia juga akan mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi persoalanya di kamar hotel tempo hari dengan Nindi, Situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuknya bangun. Hingga beberapa panggilan dari Nindi tidak bisa ia angkat, Ia takut jika mengangkatnya...kekasihnya itu akan khawatir bahkan bersedih, Arga tidak ingin melihat wajah cantik Nindi berubah muram. Hingga ia mengabaikan panggilan kekasihnya itu, Agar Nindi menganggapnya sibuk dengan kerjaanya.


__ADS_2