
"sudah2...ayo kita duduk...dari tadi kamu berdiri saja sayang..."
ucap rendi.
lalu anin menyudahi pelukan nya dan ikut suaminya duduk di tempat duduk yg sudah di siapkan.
"kak....trimakasih..."
ucapnya dengan mata sembap.
"sama2 sayang..."
ucap rendi.
rendi dan anin pun menikmati makanannya,
sesekali di liriknya istrinya dengan lahap menyantap makanan di meja.
"sayang...pelan2..."
rendi bangkit dari duduknya mendekat ke arah istrinya,
ternyata hanya ingin mengusap saus lopster yg tertinggal di ujung bibir anin.
anin pun tersenyum dengan riang nya.
"makasi kak rend..."
kata anin.
sejak usia kandungan anin memasuki 6bulan,
rendi tidak pernah menuntut lebih pada istrinya,
ia malah merasa iba...melihat anin bersusah payah dengan perut besar nya,namun anin...selalu bersikap ia biasa saja,meski yg melihatnya sedikit ngilu.
anin dan rendi menyeleseikan acara makannya.
di akhir acara rendi merogoh kantong celananya,
di sana terdapat kotak kecil panjang berwarna biru,
rendi menyodorkan kotak tersebut untuk istrinya,
"sayang...untukmu....bukalah",
pinta rendi.
dan anin menerimanya dengan senang hati.
"trimakasi kak rend..."
ucapnya.
lalu ia membuka kotak panjang tersebut,
__ADS_1
dilihatinya...di dalam kotak tersebut terdapat kalung cantik dengan permata mungil putih di tengahnya.
"kak...apa aku pantas menerima ini?"
ucap anin,karena merasa hadiah yg di berikan suaminya sangat berharga.
"darimana kau tau?"
tanya rendi.
"aku melihat foto almarhum nenek dan ibu di ruang keluarga,memakai kalung yg sama kak...berarti ini kalung turun temurun,aku tidak pantas kak...aku mendampingimu baru seumur jagung...aku belum melakukan apapun untukmu kak...jangan paksa aku menerima ini",
ucap jujur anin.
"ini sudah tradisi sayang...kakek malah menginginkan kamu memakainya sebelum kita menikah,
namun saat itu belum benar2 mengerti arti dirimu bagiku.
tapi sekarang...aku sudah tidak bisa menjaganya lagi...aku serahkan pada penerima selanjutnya,yaitu...kamu,"
ucap rendi.
dan anin pun tak bisa menolaknya lagi.
rendi bangkit dari duduk nya,menuju tempat istrinya duduk sekarang,
rendi berjongkok di depan istrinya,dan mengambil kalung tersebut lalu memasangkannya,
sesekali wajah rendi melirik istrinya,
"cup",
dengan mudah ia mengecup pipi istrinya.
anin pun tersipu jadinya karena tingkah suaminya.
dengan malu2 ia lalu mencium suaminya.
cukup lama mereka memejamkan mata lalu anin menyudahinya.
rendi pun berangsur berdiri dari duduknya,
"makasi kak rend..."
ucap anin lagi.
rendi hanya tersenyum membalas istrinya.
"mari pulang...hari sudah malam",
kata rendi.
lalu anin menuruti kata suaminya.
anin masih merasa heran.sepanjang perjalanan menuju rumah ia memikirkannya.
__ADS_1
rendi yg melihat tingkah istrinya pun jadi penasaran.
"kenapa sayang?apa yg sedang kau fikirkan?"
tanya rendi.
sejenak anin menatap suaminya,lalu ia bertanya.
"kak rend...tadi makanannya enak bukan?"
"tentu enak sayang...kalau tak enak...kenapa aku mau mengajakmu kesana..."
sahut rendi.
"tapi kenapa disana sepi pengunjung kak rend? cuma kita yg ada di sana tadi?"
tanya anin dengan jujur.
rendi pun tertawa melihat kepolosan istrinya.
sebelum rendi bicara,
anin sudah menyelanya.
"kok ketawa kak rend?"
tanya anin.
"kamu itu lucu sayang ..harusnya kamu tau...aku sudah memesan seluruh gedung untuk kita makan berdua.
hanya berdua",
kata rendi.
"kak rendi itu pemborosan...kan kita bisa berhemat kak...pasti tidak sedikit uang yg di keluarkan untuk sewa tempat."
geruti anin yg membuat rendi terkikik.
"biarin dong,..aku yg cari uang..."
canda rendi.
"nanti...setelah dari kakek...aku akan tunjukkan ke kak rendi...gimana cara memanfaatkan alam untuk makan berdua."
kata anin menimpali ucapan suaminya.
"ok2 aku lihat nanti...aku mau lihat..."
canda rendi lagi.
lalu di balas lirikan sewot anin.
"sekalian aja tu di monyongin bibirnya biar aku makan!,"
kata rendi yg membuat anin terkejut.
__ADS_1
lalu mengatupkan bibirnya rapat2.