Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Hari makin mendekati malam, Saat bunda serta Nindi tengah berbincang bincang setelah makan malam bersama, Sebelumnya Nindi sudah memberi kabar pada mama nya, Bahwa ia tengah bersama bunda calon suaminya, Dan Anin pun bisa mengerti akan hal itu.


Di sudut sofa di depan televisi yang super besar dan lega di apartemen Arga, Terlihat ia sedang duduk menyendiri di ujung pojok sofa, Kedua tanganya memegangi ponsel di sana, Dan kepalanya menyender sandaran sofa yang terkesan setengah duduk dan setengah tidur, Sesekali matanya yang tengah fokus pada layar ponselnya itupun melirik ke arah sang kekasih dan bundanya yang terlihat tengah asyik mengobrol di sertai tawa canda cekikikan keduanya. Dengan muka masamnya Arga menunjukan sikap tak suka di acuhkan oleh bunda dan kekasihnya, Bahkan terlihat keduanya pun tengah antusias berfoto bersama bagaikan teman akrab saja.


"Bund...nanti Nindi unggah ke media sosial ya..." Ucap Nindi dengan senangnya, Setelah beberapa kali berfoto bersama calon mertuanya.


"Aaakh...bund...yang bener aja dooong....Arga di cuekin sama kalian...jangan jangan bunda jauh jauh datang kemari bukan karena kangen Arga kan?" Ucap protes Arga saat ia rasa kedua wanita yang ia sayang dan cintai itu tengah mengabaikanya, Dan sibuk dengan obrolan obrolan khas wanita yang kadang Arga dengar namun tak mengerti.


"Sayang....kan bentar lagi Nindi pulang...dan kamu yang ada...jadi bunda mau ngobrol sama Nindi aja sebelum kamu anterin dia pulang...dan lagi...Nindi lebih nyambung saat bunda ajak ngobrol...ya kan sayang....?" Ucap bunda sembari menatap dan tersenyum pada calon menantunya itu, Dan di balas senyuman serta anggukan pula oleh Nindi.


"Baiklah....baiklah...puas puasin kalian...bentar lagi aku culik Nindi nggak aku kembalikan!" Gerutu Arga yang lagi lagi hanya bisa menatap layar ponselnya.


"Iya sayang...di culik...di nafkahin...di senengin...jangan sampai di buat nangis anak orang", Ucap bunda yang membenarkan perkataan puteranya, Dimana tadi di meja makan, Arga sudah menjelaskan pada bundanya akan hari dan tanggal pernikahanya, Hingga bundanya langsung menyetujui tanpa protes sedikitpun. Karena dalam waktu empat bulan...bundanya bisa segera menyelesaikan semua kerjaan di Negaranya untuk datang dan merestui acara pernikahan putera puterinya tersebut.


Hingga pukul sembilan malam, Bunda menyuruh Arga mengantarkan calon menantunya itu pulang, Dan berpesan bahwa esok bunda akan berkunjung ke rumah Nindi, Serta menitipkan salam untuk kedua orang tua Nindi, Calon besanya itu.


Di sepanjang perjalanan, Arga masih sama dengan muka masam nya yang terlihat sangat dingin dan cuek karena perasaan mendongkolnya, Ia merasa di duakan oleh kekasihnya, Meski di duakan dengan bundanya sendiri, Sungguh rasanya begitu tak mengenakan.

__ADS_1


"Sayaaaang...kok diem aja sih? sepanjang perjalanan hening...kamu nggak pingin ngomong apa apa? ini udah mau sampai rumah aku loh..." Ucap Nindi dengan nada halusnya...ia tahu bahwa kekasihnya itu tengah cemburu.


Sikap manja Arga keluar saat ia merasa di abaikan olehnya.


"Hemmmz...kamu mau aku ngomong apa?" Tanya Arga disana.


"Emmmb....gimana kalau aku yang ngomong duluan?" Ucap Nindi yang bisa membuat pandangan Arga teralih menatap ke arahnya, Arga langsung tahu apa yang akan kekasihnya itu ucapkan.


"Nggak sayang...aku cowok...aku dong yang harus ngucapin duluan..." Ucap Arga begitu saja.


"Loh...sekarang zaman modern sayang...cewek juga bisa ngomong duluan....!" Ucap Nindi yang nggak mau kalah.


"Sayang...aku duluan...pokoknya aku duluan...!" Ucap Nindi lagi dengan tegasnya.


"I love you, I miss you, I want you..." Ucap Arga seketika yang mendahului Nindi. Dan Nindi pun langsung mengernyitkan dahinya dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"How Much? Seberapa besar?" Ucap balasan Nindi yang tidak langsung menjawab too pada pernyataan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Emmmb...Sejauh timur ke barat...akh...aku nggak tahu jauhnya itu...atau...sepuluh ribu kali luas galaxi Bimasakti...oh...aku belum pernah mengukur Bimasakti sayangnya, Kalau seluas lautan dan sedalam dasar bumi...itu kelihatan basi banget kan sayang? akh...yang pasti...Cintaku padamu...lebih besar dan lebih dalam dari itu semua...apa sudah bisa meyakinkanmu sayang?" Ucap Arga dengan sungguh sungguhnya.


"Okay....you win...kamu menang...!" Ucap jawaban Nindi yang singkat padat dan jelas. Hingga membuat Arga tersenyum sembari menggenggam jemari sang kekasih disana.


"Jadi...masihkan ada alasan kamu untuk bad mood ga? apa se begitu nggak bisa kamu aku duain meski dengan bunda, Mama, Dan Papa ga? sedangkan kamu jelas tahu...hati ini selalu milikmu." Ucap Nindi dengan tatapan yang memandang ke arah Arga yang tengah fokus pada mengemudinya. Nindi tidak tahu perasaan Arga saat itu begitu bahagia dan senang disana. Hingga ia menepikan mobilnya dan menghentikanya setelah berada tepat di pinggir jalan.


"Sayang...kau tahu...aku terlalu mencintaimu...entah mengapa...hanya melihatmu nyuekin aku aja, Padahal kamu sedang ngobrol dengan bunda...dan bukan orang lain...akh...perasaanku seakan kau pergi jauh sayang...apa kau mengerti? aku ingin kau selalu ada dalam pandangan mataku...dalam pengawasanku...dan aku ingin...kau memeperlakukan aku sama..." Ucap Romantis Arga yang membuat Nindi meleleh lagi di buatnya, Segera saja Nindi menarik lengan Arga dan memeluknya disana.


"Sayang...di dunia ini cowok kayak kamu tu udah langka...dan aku begitu beruntung memilikimu..." Ucap Nindi dengan bahagianya, Dan Arga pun membalas pelukanya. Hingga tanpa aba aba Arga langsung menciumnya. Untuk beberapa saat lamanya, Seperti sudah terbiasa.


Dan mobil kembali ia jalankan menuju ke kediaman Rendi Wijaya. Hingga beberapa saat mobil yang di kendarainya tiba di pelataran rumah megah tersebut.


"Sayang makasih ya...untuk hari ini..." Ucap Nindi yang langsung turun dari mobil Arga setelah sang kekasih itu membukakan pintu mobilnya. Arga pun hanya tersenyum dan mengangguk, Hingga Nindi beranjak pergi meninggalkan mobil Arga dan kekasihnya itu, Sampai...Arga turut mengikuti Nindi dari belakangnya.


"Loh ga...kok nggak pulang? malah ikut masuk? sabar ga...bentar lagi kita akan bersama dan nggak akan terpisahkan...masak nggak sabar sih nunggu beberapa bulan aja?" Ucap Nindi dengan tangan yang sudah menghadang Arga untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Ngomong apa sih sayang?" Ucap songong Arga yang membuat Nindi malu dengan argumen dan pemikiranya barusan, Sedangkan Arga malah melepas pegangan tangan Nindi disana dan berhambur masuk kedalam rumah, Saat papa Rendi sudah berdiri mematung menungguinya.

__ADS_1


"Sayang...apa yang kamu pikirkan kejauhan tahu..." Bisik Arga tadi sebelum meninggalkanya sendiri mematung di depan pintu rumahnya, Ditambah kecupan ringan di samping kepalanya, Mengenai rambutnya yang tidak bisa Arga tahan saat mengendus bau wangi rambut Nindi disana.


"Aaakh....malunya....Arga ternyata sudah janjian sama papa..." Ucap Nindi, Lalu ikut masuk kedalam menyusul Arga yang sudah jalan duluan di depanya.


__ADS_2