
"Sayang...mau makan sarapan apa?" Tanya Aditya yang berada di samping ifa, Keduanya menaiki mobil dan belum tahu tujuan yang di tuju akan kemana sebenarnya, Keduanya hanya asal pergi dari pasangan Arga dan Nindi tadi.
"Apa aja bby...aku mau kok..." Ucap ifa yang membuat Aditya melirik dan tersenyum lembut menatapnya.
Dan keduanya memutuskan untuk membeli apa saja yang bisa di buat sarapan yang sudah telat hari itu.
Di tempat Arga, Terlihat Nindi mondar mandir mengambil kompres dan juga selimut untuk kekasihnya, Dimana Arga tidak mau kembali ke kamarnya dan hanya duduk di sofa saja.
"Sayang...sini..." Ucap Arga dengan jemari yang menarik pelan tangan Nindi hingga ia duduk di sampingnya dan Arga pun memeluknya erat disana,
"Cukup sayang...aku nggak tega lihat kamu mondar mandir...cukup seperti ini saja...biarkan seperti ini untuk beberapa saat", Ucap Arga dengan wajah yang ia tenggelamkan di tengkuk kekasihnya, Terasa hembusan nafas hangat dan sedikit menyengat pasan disana, Namun Nindi tidak menghindar atau beralih dari posisinya.
"Badan kamu makin panas ga...biarkan aku panggil dokter ya...sudah deh...nggak usah sok nolak, Sok kuat, Sok nggak apa apa...aku nggak butuh semua itu ga...yang aku mau kamu sembuh...kamu nggak sakit...aku akan terluka jika melihatmu seperti ini sayang..." Ucap Nindi dengan kedua tangan yang mengelus wajah Arga yang terlihat memerah karena demam. Dan Arga pun mengangguk mengiyakan perkataan sang kekasih. Nindi lalu memapah Arga membantunya ke kamar dan menidurkanya di atas pembaringan,
Beberapa saat Dokter pun tiba, Dan memeriksa keadaan Arga, Sampai Dokter berpamitan pergi...Arga kemudian memejamkan matanya setelah meminum obat dari Dokter, Dan Nindi dengan setia menungguinya disana, Menggenggam tanganya dan ikut tertidur di sampingnya.
Hingga Arga terbangun, Sayup sayup membuka matanya karena ponsel Nindi bergetar, Sengaja Nindi hanya menggetarkanya agar tidak mengganggu istirahat Arga,
Arga pun mengambil jemarinya yang sedari tadi Nindi genggam, Menariknya perlahan agar Nindi tidak ikut terbangun, Lalu Arga pun mengambil ponsel tersebut dan menjawabnya seketika setelah Arga tahu itu dari mama Anin.
__ADS_1
"Halo ma...." Ucap Arga dengan suara sedikit lemah disana.
"Halo ga...ada apa? kenapa dari pagi Nindi belum pulang?" Tanya Anin yang sedikit khawatir,
"Ah...Nindi ada mah...dia baru saja istirahat...seharian Nindi ngurus Arga mah...maaf ya...Arga lupa bilang sama mama..." Ucapnya dengan mata yang menatap ke arah Nindi yang ada di sampingnya, Sambil jemarinya mengelus lembut rambut panjang hitam kekasihnya yang terlihat tidur begitu lelap disana.
"Yaudah ga...biarkan kalau gitu...dia juga lagi sakit perutnya itu...yasudah...mama matikan dulu ya panggilanya...nanti biar papanya yang sekalian jemput..." Ucap Anin yang langsung di setujui oleh Arga, Dan Anin pun langsung mematikan panggilanya setelah ia selesai bicara.
"Sayang...biarpun kamu manja...dan nggak bisa masak...akan aku jamin selalu makananmu...biarpun kamu nggak bisa dandan...nggak bisa ngurus rumah...aku bisa lakukan apapun untukmu....aku hanya butuh dirimu yang seperti ini...semua terasa lengkap untuku...aku janji nggak akan membuatmu sedih, Terluka atau bahkan kecewa saat ini dan seterusnya." Ucap Arga sambil mengusap usap lembut kepala Nindi dan ikut berbaring lagi di sampingnya.
Hingga pukul dua siang, Saat bunyi bel dari pintu apartemen Arga berbunyi dengan nyaring beberapa kali,
"Kamu sudah mendingan sayang?" Ucap Nindi dengan tangan terulur dan menempelkan punggung tanganya di atas kening Arga, Dan senyumnya tersungging saat ia dapati Arga baik baik saja. Hingga Arga menarik tanganya dan memeluk pinggang ramping Nindi disana, Begitu menempel erat padanya.
"Aku bukain pintu dulu ga...siapa yang datang..." Ucap Nindi yang sedikit bertenaga akan melepas tangan Arga.
"Itu papa sayang...mau jemput kamu...biarkan aku menikmatinya untuk sesaat..." Ucap Arga yang lansung mengecup bibir Nindi dan ciumanpun berlangsung beberapa saat, Hingga keduanya menyudahinya setelah terengah. Dengan wajah sedikit meronanya, Nindi bergegas menuju ke arah pintu dan membukanya.
Terlihat papanya sudah mematung di depan pintu dengan dua kantong bekal makan siang di tanganya.
__ADS_1
"Kok lama sih sayang bukanya?" Tanya Rendi yang sedikit kesal, Karena sudah sedari tadi ia membunyikan bel pintu dan menunggunya di luar cukup lumayan lama.
"Maaf papa...Arga masih tertidur pah...setelah minum obat...dan Nindi tadi masih di kamar mandi..." Ucap Nindi lalu mempersilakan papanya itu masuk ke dalam.
"Arga sudah mendingan sayang?" Tanya Rendi yang ikut khawatir. Dan Nindi pun mengajak papanya untuk masuk ke kamar Arga, Terlihat Arga sudah duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"pa...maaf merepotkan papa dan Nindi..." Ucap Arga sambil menyunggingkan senyumanya yang sedikit ia paksakan.
"Nggak apa ga...itu mama yang ribet...minta supir bawain bekal makan siang kamu sama Nindi ke kantor...dan papa sekalian mau ngajak Nindi pulang..." Ucap Rendi yang memang seperti itu tujuanya datang ke apartemen Arga.
"Kalian pasti belum makan siang bukan? cepat makan...supaya papa bisa jawab kalau mama nanti tanya...papa harus pastikan kalian memakanya sampai habis." Ucap Rendi yang menyampaikan pesan dari istrinya pada puteri dan calon menantunya itu.
"Pah...Arga masih sakit...tuh pah...ia masih lemah...biarin Nindi disini aja ya rawat Arga sampai Nindi memastikan Arga baik baik saja pah...papah ngerti kan?" Ucap Nindi yang sedikit memohon dan menampakan wajah memelasnya di depan papanya.
"Papa harus bilang apa nanti sama mama kamu? mama kamu pesanya gitu!" Ucap Rendi yang menimpali kata kata puterinya disana.
"Sayang...aku udah mendingan kok...aku udah baik baik saja...nanti kalau ada apa apa aku bisa panggil kakak atau asisten...kamu pulang aja ya setelah makan..." Ucap Arga lalu membuka selimutnya dan mencoba turun dari ranjang, Karena demamnya tadi ia sedikit sempoyongan, Namun tidak apa apa karena kini sudah mendingan.
Hingga keduanya makan bersama siang itu di awasi papa Rendi yang sesekali melirik puteri dan juga calon menantunya yang tengah asyik menikmati makan siangnya. Rendi tidak ikut makan karena memang ia sudah makan siang tadi, Dan ia datang atas permintaan istrinya.
__ADS_1