
Tanpa terasa, Mobil yang di kendarai semuanya telah berhenti di pelataran luas kediaman Rendi Wijaya, Terlihat dari dalam mobil, Keluarga Rendi Wijaya sudah menyambut kedatangan semua di teras rumahnya,
Dan betapa sedihnya hati Arga saat tidak ia dapati Nindi disana, Sosok kekasihnya itu tidak ia temukan meski pandangan matanya menatap ke segala arah.
"Ayo turun sayang...kamu nyari Nindi ya? ia pasti masih dandan pastinya...udah...jangan sedih hanya karena nggak di sambut Nindi...ayo..." Ucap bunda yang menenangkan hati Arga.
Hingga semua sudah turun dari dalam mobilnya, Seketika sambutan hangat keluarga Wijaya itu membuat para tamu tamunya merasa di istimewakan.
"Jeng...apa kabar?" Sapa bunda dengan pelukan hangatnya pada Anin, Dimana elusan tangan bunda pun mengelus perut yang sudah mengerucut membesar tersebut.
"Baik mbak....mbak sendiri bagaimana?" Ucap Anin dengan bahagianya, Lalu semuanya di persilakan untuk langsung masuk ke dalam.
"Sehat terus ya jeng...semoga lahiranya lancar...kapan perkiraan lahiranya?" Tanya bunda pada calon besanya.
"Perkiraan sih bulan ini mbak...tapi nggak tahu ini masih adem ayem saja..." Ucap Anin dengan tangan yang mengelus elus perut besarnya.
Semua berada di ruang tamu, Dan Arga yang paling terlihat gelisah disana, Dimana sampai saat itu, Kekasihnya tak kunjung turun menyapanya.
Sedangkan Aditya terlihat tengah ngobrol santai dengan papa Rendi, Karena Arga sedang tidak mood mau ngapa ngapain.
"Jeng...Nindi mana? tuh...kasihan Arga...udah kangen kelihatanya..." Ucap bunda yang tengah mencoba membantu puteranya.
"Oh...Nindi tadi siang nggak enak badan...dan baru bangun, Ketiduran setelah minum obat tadi...mungkin sekarang masih siap siap mbak...atau...Arga samperin Nindi ke kamarnya aja...suruh cepet turun ya...semua udah kumpul...nanti makan malam sama sama..." Ucap mama yang langsung di angguki Arga, Ia bergegas dengan sedikit berlari, Menaiki anak tangga sampai di depan pintu kamar kekasihnya.
"Tok tok tok", Terlihat punggung jari jari Arga mengetuk pintunya dari luar kamar. Namun sepi...tidak ada suara sahutan dari dalam, Membuat Arga khawatir bercampur cemas, Dimana mama Anin tadi bilang bahwa Nindi sempat tak enak badan. Dan segera saja Arga mencoba masukke dalam, Pandangan matanya menatap sekeliling kamar, Namun tidak ia dapati Nindi dimana mana, Sampai...hidungnya mencium bau lemon segar saat pintu kamar mandi baru di buka dari dalam. Ternyata Nindi tengah mandi tadi.
"Sayang...kau tak apa apa? mama bilang kamu sakit ya? udah sembuh?" Tanya Arga yang bertubi tubi pada calon istrinya itu, Dengan segera Arga berhambur untuk memeluk tubuh Nindi yang hanya berbalut handuk disana.
__ADS_1
"Aku nggak apa apa ga...bisa nggak lepasin pelukanya, Jangan seperti ini...dan tolong...cepatlah keluar...aku mau ganti baju dulu..." Ucap Nindi, Dimana suaranya terdengar sangat datar dan tanpa nada sama sekali. Di hatinya masih ada getir yang ia rasakan setelah pulang dari mall tadi siang.
"Ouh ya sayang...baiklah...aku akan keluar...dan aku tunggu ya...cepatlah turun..." Ucap Arga yang perlahan mengendurkan pelukan tanganya dan melepaskanya.
Namun sebelum ia pergi, Kecupan ringan ia daratkan di pipi mulus Nindi, Namun sama...ekspresi Nindi masih dingin padanya. Sampai ia benar benar keluar dan menuju ke arah semuanya berkumpul.
"Loh...sayang kok turun sendirian? mana calon mantu bunda?" Tanya bunda yang langsung di sambut senyuman paksa Arga, Dimana ia tidak ingin bundanya khawatir disana.
"Oh...Nindi masih dandan bund...bentar lagi juga ikut turun..."Ucap Arga seketika, Dan langsung saja Arga berjalan menuju ke arah papa Rendi, Ia mengajak papanya itu berbicara berdua denganya. Dan Rendi yang melihat tingkah serius calon menantunya itupun turut serta mengikuti, Hingga sampailah keduanya di teras samping rumah.
"Ada apa ga? papa lihat dari kamu datang tadi...wajah kamu sudah murung...nggak enak di pandang, Apa ada masalah?" Tanya Rendi yang ingin tahu.
"Pah...sebenarnya...bukanya Arga nggak bisa matuhin perintah papa...tapi...karena Arga nggak cerita masalah itu sama Nindi, Siang tadi kami bahkan bertengkar di mall...Arga nyerah pah...Arga nggak bisa sembunyiin lagi dari Nindi...papa bisa ngerti kan?" Ucap Arga yang membuat Rendi tersenyum, Ternyata karena permintaanya itu, Calon menantu dan puterinya bisa sampai bertengkar.
Dan Rendi pun langsung mengangguk mengiyakan permintaan Arga, Segera saja Arga berlari masuk ke dalam, Dimana Nindi juga belum ada bersama bunda kan mamanya.
Dress satin warna pink muda, Dengan lengan panjang namun kerah yang melebar, Serta akses pita dan kerut di bagian melingkari perutnya, Panjangnya pun hanya se atas lututnya saja. Nampak benar benar cantik dan menawan, Apa lagi rambutnya yang di cepol naik ke atas, Membuat jenjang lehernya terlihat panjang dan putih bersih.
"Tuhan...aku benar benar tidak sanggup lagi...ini terlalu menyiksaku...aku lelaki normal...jika orang yang ku puja saja berbentuk seperti ini." Ucap dalam hati Arga, Dimana satu tanganya tengan berkacak di pinggangnya dan satu tanganya lagi sudah mengacak acak berantakan rambutnya sendiri. Hingga Nindi menatapnya heran dari depan kaca riasnya.
"Kau...kenapa ga?" Tanya Nindi dengan wajah menoleh ke belakang untuk menatap Arga langsung. Namun tanpa ia sadari Arga sudah dengan cepatnya berada di belakangnya, Menyahut menahan tengkuknya dan mencium bibirnya. Saat itu...Nindi hanya mampu meronta, Ia teringat akan perkataan nya yang seteguh mercusuar, Kedua tanganya dengan sedikit paksaan mendorong tubuh Arga, Agar ia melepaskan ciumanya, Namun kedua tanganya berhenti seketika, Saat Arga berbisik di telinganya.
"Aku akui...aku sudah kalah...aku menyerah...jangan siksa aku lebih parah lagi...tanpa kabarmu...aku tak akan sanggup...apa lagi tanpa pelukanmu...jangan buat pilihan yang sulit untuku...yang tak bisa aku lalui..." Ucap tulus Arga, Hingga Nindi akhirnya merasakan sebuah gigitan yang sedikit membuatnya meringis menahan sakit di bawah rahangnya.
"Tunggu ga...apa yang kamu lakukan?" Teriak Nindi yang menyadarkan apa yang tengah arga lakukan. Sontak ia sedikit menjauh segera setelah ia tersadar. Dan Arga menatap sesuatu bekas yang ia tinggalkan disana.
"Sial!" Dengusnya seketika. Dengan tangan yang lagi lagi mengacak acak rambutnya.
__ADS_1
"Kamu sih...udah nguji rindu aku seharian...kelepasan kan akhirnya..." Ucap Arga dengan tangan yang mengangkat dagu Nindi dan mengamati bekas yang ia tinggalkan.
"Hah...aku? salah aku itu? hei...kau yang mulai...kenapa aku yang di salahkan?" Dengus Nindi dengan sedikit nada sewotnya.
"Memang benar kok...kau yang menggidaku?" Ucap Arga yang tidak mau mengalah.
"Hya...kau yang masuk duluan ke kamarku!" Ucap Nindi dengan nada tinghinya.
"Sudah sudah...di bawah ada bnyak orang...kita nggak harus berantem sekarang, Lalu...kita harus pikirkan cara nutupinya sayang...bisa ****** kalau ketahuan semua..." Ucap Arga yang langsung di angguki Nindi, Karena memang benar, Saat itu...bukan waktunya untuk berantem.
"Lalu...ini ngilanginya pakai apa? nggak mungkin sejam aja bisa ilang ga..." Ucap Nindi yang membuat Arga berpikir keras.
"Pakai bedak yang lengket lengket itu sayang..." Ucap Arga yang membuat Nindi menyipitkan matanya.
"Aku nggak punya ga...aku nggak pakai begituan...aku hanya pakai bedak tabur saja..." Ucap Nindi yang membuat Arga sedikit cemas.
"Akh...masak sih cewek nggak ada bedak gituan..." Dengus Arga lagi yang makin nggak karuan.
"Yaudah...kamu keluar dulu...aku aja yang urus..." Ucap Nindi sambil mendorong tubuh kekasihnya itu agar keluar dari kamarnya.
"Tunggu...ada yang tertinggal", Ucap Arga sebelum ia keluar dari dalam kamar kekasihnya.
"Cup", Kecupanya mendarat di bibir Nindi untuk sesaat.
Dan Nindi hanya menatapnya dengan senyum.
"Jangan lupa lap yang bersih tuh bibir." Ucap Nindi yang langsung di laksakana Arga seketika.
__ADS_1