Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
Rencana pindahan


__ADS_3

Dengan langkah gontainya Arga keluar dari dalam mobilnya, Setelah ia sudah memarkirkanya di parkiran apartemen.


"Aaakh...capeknya aku..." Ucap Arga yang ia rasakan benar benar capek, Dimana setelah pulang langsung saja tanpa istirahat mengantar Nindi, Namun ia tidak mengeluh, Baginya sudah sebanding saat ia lihat senyuman yang manis di bibir Nindi, Sampai ia pun tiba di pintu apartemenya.


Perlahan lahan ia pun membukanya, Nampak sepasang sendal cowok dan cewek tengah berada di depan pintu apartemenya,


"Akh...pasti kakak nih..." Ucap Arga begitu saja yang terlontar di pikiranya, Hingga benar di lihatnya sepasang suami istri itu tengah duduk di sofa nya, Dan terlihat menungguinya disana.


"Udah pulang ga?" Ucap Aditya yang menyapa Arga duluan.


"Akh...capek kak...ternyata cuma ngurusin gaun sama undangan aja udah sebegini capeknya kak...kakak dulu enak ya..." Ucap Arga asal asalan.


"Akh...kamu bisanya ngeluh aja ga...syukuri kenapa sih..."


Dengus Aditya, Memang seandainya Arga bisa memilih, Pastilah ia memilih pernikahan yang sederhana saja, Hanya di hadiri sanak saudara dan kerabat dekat, Namun masalahnya...ia begitu menghormati keluarga calon mertuanya dan tentu saja keluarganya, Apa lagi Nindi terlihat bahagia, Hingga rencananya resepsi pernikahanya akan di adakan di tiga tempat sekaligus.


Di dalam gedung, Di pantai dan di resort baru arga.

__ADS_1


Dengan kepala yang menyender pada sandaran sofa, Arga mencoba meletakan perasaan lelahnya, Dan sejenak memejamkan matanya.


"Kakak tumben ada apa kemari? nggak lagi kebanjiran kan apartemenya?" Ucap canda Arga pada kakaknya, Dan yang bersangkutan hanya melempar jas Arga yang ada di sampingnya hingga menutupi bagian wajah adiknya itu.


"Hemz...besok kakak mulai pindah ke rumah baru...kita ngadain syukuran kecil kecilan...kamu datang ya ajak Nindi..." Ucap Aditya yang memberi tahu perihal yang membuatnya dan istri berkunjung ke apartemen Arga itu.


"Oh dan lagi...datangnya sore an ya...pukul tiga gitu...bantuin kakak bagiin bingkisan untuk para tetangga..." Ucap Aditya lagi yang menyela,


"Kak...kakak punya orang itu buat apa kalau nggak di suruh sih kak?" Tanya Arga yang sedikit protes,


"Dan lagi...kakak nggak takut? kalau ketahuan rekan bisnis kakak? kan kebanyakan dari mereka yang gabung dengan kakak adalah lawan bisnis aku...kalau ada yang tinggal disana gimana?" Ucap Arga lagi, Dengan beralih tengkurap di atas sofa samping kakaknya, Meski ada kakak iparnya pun Arga tidaklah merasa canggung sama sekali, Terkesan sudah biasa.


"Aku nggak takut ga sekarang...kayaknya kalau publik tahu juga malah makin memperkuat perusahaan kakak dan perusahaanmu, Benar bukan?" Ucap Aditya yang sudah tidak di jawab Arga, Ia sibuk menatap layar ponselnya, Karena ia sudah berjanji akan mengirim pesan pada Nindi, Dan sekalian saja ia memberi tahu Nindi tentang acara di rumah kakaknya besok.


"Ga...kamu dengerin kakak ngomong nggak?" Tanya Aditya yang sedikit kesal, Karena Arga terkesan mengabaikanya.


"Iya iya kakaku sayang...ini lagi ngabarin Nindi nih...akh kan...harusnya ngetik sayang jadi salah ketik jadinya...!" Dengus Arga ganti, Karena ia tidak fokus jadi salah ketik dalam pesan yang ia kirim barusan. Namun Nindi terlihat tidak membukanya, Apa lagi membalasnya, Kemungkinan Nindi sudah tertidur malam itu.

__ADS_1


"Akh kakak...gimana baiknya menurut kakak aja deh...aku ngikut...dan lagi...ntar kalau aku yang pindahan ke sana...kakak ingat...bantuin aku pula...oke?" Ucap Arga yang punya kesempatan minta bantuan kakaknya juga.


"Oke oke...ya sudah...kakak balik ke apartemen lagi ya ga...malam ga..." Ucap Aditya, Sembari mengajak sang istri untuk beranjak dari duduknya dan menggenggam jemarinya untuk jalan menuju ke pintu apartemen.


Hingga sampailah keduanya di apartemenya, Terlihat Aditya duduk di sofa, Sedangkan ifa langsung ke dapur dan menyiapkan teh untuk sang suami. Hingga beberapa saat, Terlihat ifa datang dengan membawa se gelas besar teh kesukaan Aditya,


"Bby...ini tehnya...aku tinggal ke kamar mandi dulu ya..." Ucap ifa dengan senyuman hangatnya. Dan Aditya hanya mengangguk saja.


Di dalam kamar mandi, Ifa sedikit cemas, Saat ia mengambil alat tes kehamilan, Dimana itu sudah yang ke dua kalinya ia akan mengetesnya, Karena pernikahanya sudah berumur dua bulan habis, Dan memasuki tiga bulan awal, Ifa sudah benar benar ingin hamil saat itu, Sampai...beberapa menit, Ifa memicingkan matanya, Memberanikan diri menatap perlahan lahan alat tes kehamilan ditanganya itu, Betapa sedih hatinya saat ia dapati garisnya hanya satu baris saja.


"Sabar ifa...sabar...pasti ada waktu yang tepat kelak...tuhan masih belum mempercayakanmu anak untuk saat ini, Tuhan punya rencana lain dan rencananya lebih indah dari yang kamu rencanakan." Ucap ifa dalam hatinya, Dimana ia berusaha menghibur dirinya sendiri.


Dengan wajah yang sedih, Meski ia berusaha menyembunyikanya dari sang suami dengan senyumanya,


Ifa ikut duduk di sofa samping suaminya, Ikut menyeruput teh hangat milik Aditya di atas meja depanya. Dan segera saja Aditya merangkul pundaknya dan memeluknya agar mendekat ke arahnya. Hingga ifa pun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dan semakin lama...ifa hanyut dalam perasaanya, Kini ia tak kuasa menahan lelehan air matanya, Sampai ia mengusap usapkan wajahnya ke dada sang suami, Hingga membuat Aditya bertanya tanya dalam hatinya.


"Hei...ada apa? apa ada masalah? ada sesuatu yang mengganggumu sayang?" Tanya Aditya segera, Setelah ia sadari sang istri menangis disana. Dengan kedua tangan yang mengusap lembut di kedua sisi pipi mulus dengan lelehan air mata. Dan Ifa hanya menggeleng tidak ingin berkata apapun pada suaminya, Ia khawatir Aditya akan ikut sedih pula, Dan sebenarnya, Aditya merasa bersedih saat melihat sang istri tak mau bicara padanya seperti saat itu. Lalu Aditya hanya bisa memeluk sang istri, Mendekapnya agar bisa meredakan sedihnya, Karena Aditya tahu, Dengan ucapan yang menghibur pun, Istrinya tak akan bisa meredakan sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2