
Arga dan Nindi terlihat sangat terkejut dengan pemberitahuan si bibi yang tiba tiba, Apa lagi yang ia sebutkan adalah mamanya.
Sontak membuat keduanya tersentak dan segera saja berlarian menuju ke arah ruang keluarga, Dimana kedua mata Arga dan Nindi seakan tak percaya, Bunda yang terlihat histeris, Papa Rendi yang malah kebingungan dan cemas, Apa lagi ifa dan Aditya yang terlihat ketakutan. Sedangkan di tubuh mama yang sudah bersimbah air ketuban bercampur darah, Segera saja Arga dengan cepat mendekat tanpa ikut panik,
"Baiklah mama...tenang mama...ini nggak akan apa apa...tarik nafas...keluarkan..." Ucap Arga yang menenangkan mama nya.
"Bi...ayo siapkan kamar mama dengan alas anti air bi..." Ucap Arga, Dan langsung di laksanakan si bibi dengan segera, Terlihat bibi langsung berlarian melaksanakanya.
"pah...ayo bantu Arga bawa mama ke dalam...pelan pelan pah..." Ucap Arga dengan tangan yang ikut menopang mamanya, Hingga keduanya berhasil memindahkan tubuh mama Anin ke dalam kamar.
"Nindi...sayang...panggil dokter kandungan...bilang mama ketubanya sudah pecah..." Ucap Arga yang langsung di laksanakan Nindi, Sedangkan bunda Arga terlihat begitu terkejutnya, Hingga semua terlihat begitu pontang panting.
Apa lagi papa Rendi, Dimana dahulu istrinya di vonis pinggul sempit dan harus operasi, Sedangkan saat itu keadaan istrinya ketubanya sudah pecah.
"Pa...mama nggak kuat lagi pa..." Ucap mama Anin, Saat ia rasa sesuatu dorongan yang kuat tengah menghantamnya.
Karena saat itu papa Rendi terlihat begitu cemas dan khawatir, Ia hanya bisa menggenggam jemari sang istri dan otaknya seakan kosong seketika. Ia tidak tahu apa lagi yang harus ia pikirkan.
"Pah...aku nggak kuat lagi pah...aku nggak bisa nunggu..." Ucap Anin pada suaminya dengan lemahnya, Dan membuat Rendi makin histeris dan ber teriak teriak.
"Ga...ayo kita bawa ke rumah sakit bersalin sekarang...aku akan bawa mama kesana, Aku nggak peduli...ayo ga...ayo...!" Ucap papa dengan nada tingginya,
__ADS_1
"Pah...mama nggak akan apa apa...mama nggak kuat karena bayinya mau keluar...sudah disini saja..." Ucap Arga sembari membantu mamanya untuk mengatur posisi se nyaman mungkin.
"Tunggu ga....apa kau yakin bisa? ini menyangkut nyawa istriku dan anaku ga...kau..." Ucap Rendi dengan marahnya.
"Pah lihat mama sudah kesakitan...nggak ada waktu lagi untuk bawa mama naik ke mobil...apa lagi sampai rumah sakit. Yang ada sambil nunggu dokter tiba...kita bantu mama, Papa silahkan..." Ucap Arga yang mempersilakan calon mertuanya pada pisisinya.
"Maaf ma...kalau Arga lancang....maaf pah...Arga nggak ada cara lain...Arga pernah ikut nolongin wanita yang mau melahirkan...waktu Arga berada di klinik persalinan teman Arga...jadi...harus tenang...Arga yakin pasti mama bisa lewatinya." Ucap Arga sembari meminta Nindi berada di bawah kaki mamanya yang sudah dalam poaisi melahirkan.
Sedangkan Arga hanya membantu di samping tubuh mamanya saja. Dengan memberi aba aba...tarik nafas...buang nafas...mengejan...tarika bafas...buang nafas...mengejan...hingga sampai tiga kali, Anin sudah tidak sanggup lagi, Akhirnya terdengar juga suara tangisan seorang bayi laki laki, Dengan kulit yang begitu putih bersih dan bercampur dengan noda darah serta lendir.
"Arga....lihat...ambil ga..." Ucap Nindi seraya menyerahkan adik bayinya yang masih terikat dengan ari ari pada tali pusatnya disana.
Kecupan papa Rendi yang bertubi tubi tertuju di kening sang istri, Lalu segera memberi Adzan dan ikomah di telinga kanan kiri puteranya, Dan kembali lagi memeluk sang istri disana, Dimana baru saja sang istri tengah bertaruh nyawa dalam proses persalinanya. Sampai datanglah sang dokter beserta suster dan langsung mengurus Anin serta bayinya. Mungkin saat itu...si bayi langsung tahu...bahwa bau kemeja calon kakak iparnya itu bisa menenangkanya, Hingga tangisnya reda dan terlihat menatap sekeliling dengan kedua tangan yang terus bergerak, Meski Arga tahu...si bayi pasti belum bisa melihatnya, Namun Arga begitu sangat bahagia.
"Adek sayang...kamu pinter banget ya...selamat lahir kedunia..." Ucap Arga serta Nindi, Dan di susul bunda dan ifa serta Aditya yang baru masuk ke dalam kamar setelah terlihat semua baik baik saja. Hingga dokter menyelesaikan tugasnya, Dan bisa di pastikan bu dokter akan kembali melihat perkembangan kesehatan mama dan buah hatinya itu setelah dua hari kedepan. Akhirnya bu dokter dan perawatnya memohon izin untuk berpamitan.
"Jeng...maaf...aku nggak bisa bantu apa apa tadi...soalnya...aku sendiri...ngelahirin Arga sudah terlalu lama...aku ketakutan saat melihatmu kesakitan..." Ucap jujur bunda di samping mama Anin yang tengah berbaring di tempat tidurnya.
"Mbak...nggak usah minta maaf...kalau bukan karena Arga...aku nggak tahu akan hidup apa tidak untuk saat ini..." Ucap Anin yang membuat bunda lega dan bahagia.
Anin dan Rendi memilih untuk tinggal di rumah saja, Dan dokterpun sudah mengizinkanya, Karena Anin terlihat sehat dan kuat...jadi tidak perlu untuk di beri tambahan infus, Namun untuk inisiasi menyusui dini...harus Anin lakukan. Dan itu sudah pasti Anin laksanakan, Terlihat si bayi tampan tengah tidur di atas dada mama Anin, Setelah mencoba menyusu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Arga...makasih banyak..." Ucap mama dan papa bersamaan, Sedangkan ifa...terlihat memeluk lengan sang suami disana, Ia masih sangat shock melihat insiden mama Anin yang demikian mengagetkanya. Sedangkan Arga yang hanya memakai kaos dalaman saja itu pun lalu di ajak Nindi menuju kamarnya, Untuk membersihkan diri, Dimana pakaianya tadi ia buat untuk membungkus tubuh mungil adiknya.
"Ga...sepertinya...malam ini...kamu nginap sini aja ya...bunda dan kakak kakakmu pulang dulu..." Ucap bunda setelah beberapa saat berada di kamar calon besanya, Dan sudah lega menyaksikan calon besan dan buah hatinya sehat semua.
"Iya bund...biar papa nungguin mama dan adik...nanti Arga yang nemenin Nindi buatin susu adik..." ucap Arga yang begitu dewasanya.
Hingga Nindi teringat, Susu bayi untuk adiknya itu belum ia beli.
"Ga...kalau gitu cepat ganti pakaian...ayo ikut aku beli susu buat adik...sudah terlalu malam kalau harus minta bibi untuk beli..." Ucap Nindi yang langsung di angguki Arga, Setelah bunda dan kakak kakaknya pergi meninggalkan keduanya.
Hingga sampailah keduanya di kamar Nindi, Seketika Arga menjatuhkan tubuhnya ke pelukan kekasihnya itu.
"Akh...sepertinya aku butuh asupan vitamin sayang..." Ucap Arga yang membuat Nindi khawatir disana, Karena sepertinya tenaga Arga juga tadi sudah terkuras untuk membantu mamanya. Namun kenyataanya Arga hanya bercanda saja, Ia ingin manja dengan calon istrinya.
"Cup", Nindi hanya mengecup bibir Arga untuk sesaat saja.
"Sayang...ayo cepet ganti baju...nanti sekalian beli vitamin untuk kamu...dan adik pasti udah nungguin tambahan susu formula sayang...ayo..." Ucap Nindi yang menyadarkan Arga bahwa keduanya tidak seharusnya bermesraan dalam kondisi seperti itu. Segera saja Nindi mengeluarka kaos berkerah baru dari lemarinya dan memberikanya pada Arga.
"Loh kok ada kaos cowok sayang?" Tanya Arga yang penasaran.
"Udah...pakai aja ga...itu mau aku kasikan papa...eh...ternyata kamu lebih butuh...buat kamu aja sayang...ayo aku tungguin ya..." Ucap Nindi yang langsung di angguki Arga seketika.
__ADS_1