
setengah jam sudah ifa berada di dalam kamar mandinya,ia merasa sangat tertekan oleh sikap bos nya yang sewenang wenang pada hidupnya, Meski kini ia tidak bisa menolak bahwa ia benar benar di bantu olehnya, Mulai dari hal apapun hingga pekerjaan...ia berharap lamaran kerjaannya di tempat lain di terima dan ia ada alasan untuk meninggalkan bos nya tersebut.
"tok tok tok."suara ketukan dari luar pintu kamar mandi. Sontak membuat ifa yang mematung pun terperanjat dari tempatnya, Sedikit melonjak.
"hei...kau ketiduran di dalam kamar mandi hah...mau berapa lama lagi kau di dalam? Nih baju kamu sudah datang pilih sendiri..."
ucap aditya sambil sedikit teriak disana.
Ifa pun membuka pintunya sedikit,wajahnya menyembul dan matanya mengintip keluar menatap sosok yang gagah tengah bersedekap memunggungi nya di depan pintu kamar mandi.
"bos",
"Astaga....!!bisa nggak kamu nggak bikin orang kaget kaya gini?kalau aku jantungan kamu mau tanggung jawab hah?" Ucap Aditya dengan sedikit teriakannya.
"Maaf bos...tapi bos kenapa berdiri di sini?saya...saya..." Suara ifa yang sedikit terbata bata karena ia bingung mau bilang bagaimana bahwa dalaman atas nya terjatuh dan basah saat di dalam mandi tadi, Dan ia malu jika akan keluar dari dalam kamar mandi sedangkan orang yang menurutnya menyebalkan itu masih berada di tempat ya dan betah disana.
rambut basah yang di gulung di lapisi handuk dari luar dan di lilitnya ke atas,dengan pakaian panjang yang tanpa dalaman atas, Membuatnya mati kutu jika harus keluar dari dalam kamar mandi.
"Astaga...kenapa bos masih disana? Aku harus apa sekarang?" Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang benar benar tidak karuan,
"Bos...bolehkah aku bertanya?" Tanya ifa sambil masih mengintip dari dalam pintu kamar mandi.
"Tanya tanya aja...ngapain malah nanya dulu!"
ucap balasan aditya dengan sedikit ketus nya khas Aditya.
"Cepat keluar dan ganti pakaianmu...kita berangkat sama sama ke kantor...nanti sore aku ajak ke butik." Ucap ketusnya lagi, Ia bermaksud besok akan mengajak ifa untuk menghadiri pernikahan Audry...mantan Arga.
"Bos...bisakah anda keluar sebentar? Saya akan mengambil pakaian ganti." Ucap ifa dengan jujurnya.
"Kamu kenapa jadi ngatur aku?kamu keluar keluar aja...ini rumahku." Ucap Aditya lagi, Kini ia malah berjalan menuju sofa dimana baju baju ganti ifa berada di sana.
"Anu bos masalahnya....itu...anu...." Ucap ifa terbata bata, Ia malu jika harus bilang kalau dalamannya tadi terjatuh dan sekarang ia tanpa dalaman.
"Ona anu ita itu...kamu sebenarnya mau ngomong apa sih?pakai bahasa yang jelas dong...!" Gerutu Aditya dengan tanpa menoleh ke arah ifa.
"Ifa...kamu bisa...percaya saja dia nggak akan ngintip nggak akan lihat oke...percaya...!"
Ucap ifa yang memantapkan hatinya dan perlahan lahan membuka pintu kamar mandinya. Ia melangkahkan kakinya satu persatu disana, Sedikit berjinjit tanpa suara berjalan mendekat ke arah Aditya yang tengah duduk memainkan ponselnya, Lebih tepatnya menuju tumpukan baju yang ada di depannya.
sesampainya disana perlahan ia pun mengulurkan tangannya dan dengan mata terpejam mengambil pakaiannya. Dengan bodohnya ifa langsung menyahutnya, Ia mengira bahwa dengan matanya yang terpejam seperti itu maka Aditya pun tak akan melihatnya.
Aditya sedikit melirik gadis yang tengah mengulurkan tangan samping depannya itu dengan tatapan aneh, Dimana ia melihat gafis bodoh itu memejamkan matanya sambil tangannya meraba raba di tumpukan baju depannya.
Tanpa sadar pandangan Aditya menatap dari ujung rangan ke ujung lengannya dan wajah ifa, Tiba tiba...
__ADS_1
"Uhuk....uhuk...uhuk...saat ia melihat sesuatu yang harus nya ia tidak lihat, matanya melotot sambil tangannya memukul mukul ke dadanya, Aditya tersedak ludahnya sendiri disana. Sedangkan ifa langsung meraih pakaiannya dan mendekap ke dadanya, Ia turut fuduk di sofa samping depan Aditya.
"Sial!!" Umpat aditya berkali kali dan langsung beranjak dari duduknya, Ia berjalan pergi meninggalkan ifa dan menuju ke arah lemari pendingin yang berada di ujung dapur.
"bos..." Teriak ifa yang mencoba memberanikan dirinya memanggil Aditya.
"Apa? Kamu tanya daleman?" Ucap keceplosan Aditya yang tanpa sadar.
"Astaga bos...anda mesum...kenapa sudah tahu tapi anda malah melihatnya..."
Dengus kesal ifa kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.
"Tuh...ada di tas sebelah sana...kamu pilih sendiri..."Ucap Adirya yang membuat ifa tersenyum kecut menatap ke arahnya,
" Makasih ya bos..."Ucapnya sambil meraih tas yang Aditya tunjukkan dan mengmbil beberapa disana yang se ukurannya.
Mengenakannya kemudian ia siap untuk pergi ke kantor, Keduanya pun pergi ke kantor bersamaan.
di tempat Arga, Ia sudah bersiap sebelumnya, Ia tidak tahu salahnya namun sebagai lelaki ia harus berani meminta maaf dahulu pada kekasihnya karena saking sayangnya ia padanya.
tepat saat nindi keluar dari rumahnya dan menuju ke garasi mobilnya, Dimana disana sudah terdapat Arga Sanjaya dengan pakaian kantornya lengkap sudah menungguinya.
"Astaga Arga sanjaya pagi buta nyamperin rumah cewek untuk jadi supirnya!"
"Arga...ngapain kamu disini?aku mau ke kantor bareng papa...kamu duluan aja...toh kita nggak se arah bukan...jadi...duluan aja gih..." Ucap nindi dengan nada biasanya namun terkesan bad mood disana sudah terlihat.
"Sayang...aku hari ini ada ada rapat pukul sembilan nanti di kantormu...jika mereka melihat kamu berangkat dengan om Rendi...kamu bakalan kena gosip lagi...lagian...aku habis nganterin kamu juga nggak akan pergi...aku akan nunggu di cafetaria perusahaan papa kamu nanti."
Ucap Arga menerangkan dan meyakinkan kekasihnya untuk turut serta ikut bersama dengannya.
"Iya sudah ayo berangkat ga..." Ucap nindi sambil nyelonong berjalan menuju mobil Arga yang berada di luar pintu gerbang pagar rumahnya. Arga masih terdiam menatap punggung kekasihnya itu dengan melongo...karena nindi tidak mengajaknya.
"Nih cewek kenapa lagi sih...ribet banget..."
Gerutu Arga di sela jalannya menyuaul sangkekasih. Keduanya menuju ke kantor yang sama, Dimana Arga sengaja menurunkan nindi di depan kantor papa nya tepat di sana.
"Makasih ya ga...atas tumpangannya...aku masuk ke dalam dulu..."Ucap nindi yang sudah hampir keluar dari dalam mobil arga.
namun dengan cepat Arga menarik lengan gadis itu hingga terjerembab ke belakang memunggungi tubuh Arga.
Arga mendekapnya disana. "Jangan siksa aku seperti ini aku mohon...kau mau apa aja aku akan lakukan...tapi jangan siksa aku seperti ini." Ucap Arga yang membuat luluh hati nindi, Namun tidak semudah itu, nindi dengan harga diri yang tinggi itu pun masih tidak bisa menerimanya.
"cekrek...cekrek..." Suara foyo ponsel beberapa kali yang sedang memotret adegan keduanya.
"Ga...lepasin...mereka memotret kita...kamu sih...apa apaan sih..."dengus nindi yang masih kesal dan makin kesalnya.
__ADS_1
Arga pun langsung melepas pelukannya dan nindi secepat kilat masuk ke dalam kantor papa nya.
Rendi datang sebelum waktunya untuk rapat, sedangkan Arga benar benar menunggui rapat nya di cafetaria perusahaan om Rendi.
ia duduk di kursi yang di pinggirnya sebuah pot pot bunga di luar jendela kaca lebar terpampang.
kaki menyilang dengan secangkir kopi di depan mejanya, terlihat dengan lincah tangannya mengaduk aduk, bak foto model terkenal yang jika di pandang setiap mata terlihat menyilaukan, sempurna dan bercahaya, pengusaha muda yang terkenal saingan bisnis perusahaan kini memutar haluan menjadi rekan bisnis.
tanpa terasa beberapa pasang mata gadis gadis cantik telah menikmati nya.
"eh...itu bukannya tadi yang mesum sama selingkuhan bos?lihat baik baik...siapa yang bisa menolak kharismanya?aku juga mau..."ucap salah satu wanita yang sudah mulai bergosip.
hingga terlihat Rendi berjalan mendekat ke arahnya dan Arga menyambutnya dengan pelukan hangat disana.
"Astaga...gadis magang itu ternyata mempermainkan bos bos besar tersebut...kita harus apa?kita harus menyelamatkan keduanya..."ucap salah satu gadis yang ikut ngerumpi disana.
hingga waktu rapat pun tiba, terlihat empat orang menghampiri Arga, kedua adalah sekretarisnya dan satunya adalah asistennya.
sedangkan satunya lagi adalah pengacara ternama yang sudah jadi pengacara tetap perusahaan Arga.
suasana khidmad dan begitu serius di ruangan rapat,Hingga nindi datang menyerahkam dokumen yang papanya minta,dokumen hasil kerjanya sendiri.
karena semalam.ia pulang larut dari rumah ifa,ia lupa untuk mengeceknya lagi,dan ia sempat membahasnya dengan arga.
nindi menyerahkan laporan tersebut pada sekretaris arga, namun dengan cepat arga memintanya dan mengeceknya sendiri.
"Astaga gadis bodoh....nindi...nominal ini serius kamu tulis?kamu kerjakan?"ucap Arga dalam hatinya dengan mata melotot menatap lembaran dokumen di tangannya.
"maaf om Rendi...bisa kita undur rapatnya?nanti saya iabari lagi...sepertinya saya kurang enak badan..."ucap Arga begitu saja dan pamit berdiri dari kursinya tidak lupa memberi hormat pada Rendi lalu bergegas pergi keluar dengan mengajak para asistennya.
Nindi segera berlari mengejar. Ia tidak peduli dengan papanya yang mematung disana.
"om...maaf...arga sudah mengirim fotonya...om teliti...maaf membuat om bertanya tanya...arga nggak ingin kecerobohan nindi di ketahui staf om rendi yang ada di sana tadi...aku harap om nggak marah."
ucap Arga yang tanpa sadar di dengar oleh nindi dan membuat nindi terpaku di tempatnya seketika. Arga menoleh ke arah nindi yang mengikutinya ketika arga berada di depan pintu lift.
"sini ikut aku sebentar..."ucap Arga yang menghampiri nindi dan menarik tangannya perlahan masuk kedalam lift. Hanya berdua saja.
"kau mau marah lagi padaku?kau tidak tanya apa salahku kenapa aku seperti ini?"tanya arga lalu memberikan berkas yang nindi serahkan tadi. Nindi mulai membukanya perlahan dan mengamatinya,matanya terbelakak lebar dengan satu tangan membekap mulutnya.
"Astaga bodohnya aku...kenapa aku bisa seceroboh ini...aku sudah membahayakan perusahaan...jika saja bukan Arga...pastilah..."ucapnya dalam hati sambil menatap ke wajah kekasihnya yang mematung di hadapannya.
"ga...makasih..."ucap nindi dengan rengekannya yang membuat arga iba melihatnya.
"mau makan malam romantis denganku malam ini?di apartemen?"tanya Arga pada nindi yang langsung di angguki nindi di tambah kecupan ringan di pipi arga yang nindi lakukan.Dan keduanya saling melempar senyum hingga Arga benar benar pergi meninggalkan perusahaan om Rendi.
__ADS_1