
Hampir pukul sebelas siang mobil yang di kendarai keduanya masuk di area pelataran rumah Nindi. Keduanya turun dari dalam mobil...
"Aaaahhh....capeknya...mama....papa...Nindi pulang..." teriak Nindi setelah ia masuk ke dalam rumah.
"Sayang...kamu akhirnya pulang juga..."
ucap mama dan papanya bersamaan.
"Om...tante...maaf ya baru bisa sampai rumah..." ucap Arga dengan lesunya.
"Ga...kamu sekalian makan siang disini saja ya...tante masak banyak...lagian di apartemen pasti kamu nggak bisa masak kan...?" ucap tante Anin.
"Iya Ga...sekalian habis jalan kan...istirahat sebentar dan temani om main catur..." ucap Rendi.
"Makasih om...tapi Arga mau masuk kerja aja deh om..." ucap Arga masih dengan ekspresi lesunya
"Ga...kenapa juga kamu segiat itu? nanti sampai kantor nuga pasti sudah waktunya pulang." Ucap Rendi dengan tawanya.
"Lah om...sejak kapan Arga jadi pikun gini sih...ini baru yang pertama Arga lupa sesuatu om...ngeblank gara-gara dekat Nindi tu." Dengus malu Arga.
"Ye...itu ma lu nya aja yang pikun...mungkin gegar otak kali pah..." ucap Nindi dengan ketusnya.
"Sudah-sudah...kalian ini...berisik tahu..." ucap Rendi.
"Ga...istirahat dan mandi di kamar tamu gih..." pinta Rendi sambil menunjukkan kamar tamu. Dan Arga pun langsung menuju tempat yang di tunjukkan om Rendi. Setelah berada di dalam kamar, ia pun langsung merebahkan tubuhnya di atas pembaringan yang ada disana, matanya menatap sekeliling, ruangan itu lebih besar dari ruangan kamar di villa yang ia sewa semalam. Lalu perlahan matanya terpejam ia tertidur begitu saja karena lelah.
Dikamar Nindi.
"Sayang...kamu sibuk?" tanya mama sambil masuk ke dalam kamar anak gadisnya.
"Nggak ma...ada apa?" tanya Nindi seketika.
"Hmmmzzz...kamu nggak di apa-apain sama Arga kan?" tanya mama.
"Mana berani dia ngapa-ngapain aku ma...tenang aja ma...aman kok."
__ADS_1
Ucap Nindi jujur, karena menurut Nindi demikian...gadis itu tidak tahu yang sebenarnya...ia sudah kecolongan dua kali ciuman...satu di bibir adalah ciuman pertamanya...satu lagi di pipinya.
"Yasudah...sudah waktunya makan siang...kamu bangunin Arga ya...sepertinya dia tertidur..." perintah mama.
"Ma...kenapa harus Nindi sih...biar papa aja deh ma yang bangunin cowok resek itu ma..." jawab Nindi malas.
"Kok gitu bilangnya sih...? dia itu bos kamu lo nak...nggak baik kamu biasain gitu." Ucap mama sedikit menegur anaknya.
"Habisnya...dari berangkat sampai pulang...Nindi di kerjain habis-habisan ma...dia bilang dompetnya ketinggalan...jadi semua pake uang saku Nindi ma...dan pas tadi mau pulang...eh...dia bisa beli bubur ayam...tapi nggak seenak di restoran Chef Henri sih ma...mama mau ngasih uang saku Nindi lagi nggak?" tanya Nindi sambil manja dengan mamanya.
"Sayang...kamu kan nggak kemana-mana kok minta uang saku sih...? nggak!pokoknya nggak mama kasih..." ucap mama dengan jelas.
"Kalau entar malam minggu lagi si bos ngajak jalan...mama mau ngasih uang jajan lagi nggak?" tanya Nindi.
"Loh yang ngajak jalan sana...ngapain mama yang ngasih uang saku sih...?" ucap mama dengan alis naiknya.
"Berarti...kalau Nindi yang ngajak jalan...mama mau kasih dong?" tanya Nindi.
"Iya deh mama kasih...kalau kamu mau seperti itu..." ucap mama.
Ucap Nindi dengan ketusnya, namun di balas tawa mamanya.
"Sebenarnya...Nindi curiga...mama dan papa bisa sangat dekat hingga anak gadis semata wayangnya dibiarin keluar berdua saja sama dia, sebenarnya ada apa kalian mah?" ucap Nindi dengan menyelidiknya.
"Jujur sayang...mama suka banget sama Arga...pokok calon mantu idaman deh...hmmmz...pasti seneng deh calon istrinya ntar..." ucap mama dengan seriusnya. Yang saat itu membuat Nindi melotot tidak percaya.
"Bodo amat mah...mamah kenapa nggak punya anak lagi aja untuk di jodohkan ke dia?" canda Nindi.
"Sayang...umur mama sudah kepala empat loh...gimana ceritanya mama mau punya anak lagi coba? kalau mama mau cucu dari kamu bari mama sih yes!"
ucap serius mama.
"Akh!! mamah...yaudah deh ma...ayo aku bangunin bos deh...aku sudah lapar nih...mama tu ya...nyuruh bangunin bos aja sampai panjang lebar gini sih...!" gerutu Nindi sambil berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan mamanya sendiri di sana. Kini ia menuju kamar tamu yang di tempati bos nya itu.
"Bos....bos...bangun bos..." ucap Nindi sambil tangannya mengetuk-ngetuk pintu luar kamar di mana Arga tertidur. Lalu tanpa sahutan dari dalam.
__ADS_1
"Ngebo banget sih tu orang..." ucap Nindi dari luar kamar, lalu perlahan membuka pintu kamar yang ditemoati Arga.
Nindi perlahan mendekat ke ranjang yang bosnya tempati. Ia melihat bos nya tertidur lelap disana. Nindi semakin penasaran, lalu ia semakin mendekat dan tepat terduduk sembari berjongkok di bawah menatap pria tampan yang di kejar banyak gadis hanya untuk meminta perhatiannya itu tetlelap dengan sangat pulasnya. Seketika tangan Nindi refleks ingin menyentuh alis tebal yang hitam itu dengan satu jemarinya. Wajah maskulin...dengan kulit putih...bersih...alis tebal hidung mancung...dan bibir pas tidak terlalu tipis...serta dagu yang sangat sempurna, membuat Nindi semakin penasaran.
lalu..."haaap," Arga menangkap pergelangan tangan Nindi lalu menariknya.
"Cup..." seketika bibir Nindi mengecup pipi bos nya itu.
"Oh tuhan...Nindi...kau mengambil kesempatan saat aku tidur...ouh pipiku...aku akan mengembalikannya Nindi...sini...mana pipimu?" ucap nerocos Arga. Dan Nindi hanya melongo tidak percaya dengan tingkah bos nya barusan.
"Hhhiiiyyyaaaa....apaan sih...jelas-jelas kamu yang menarik tanganku...makanya aku nyium kamu..." ucap balik Nindi.
"Loh...yang aku tarik tangan, Nindi sayang...bukan tengkukmu..." ucap balas Arga.
"Haiiiz....cowok mesum dasaaar....di suruh mama ke meja makan tuh..." ucap Nindi sambil ngeloyor pergi begitu saja, karena Nindi tahu...kalau ia lanjutkan...jelas ia kalah debat dan Arga yang menang. Dan dengan tampang senangnya Arga tertawa terbahak.
"Ga....makan siang." Ucap Rendi tiba-tiba di depan pintu kamar dengan kedua tangan bersedekap disana.
"Uhuuuuk....uhuuuk...." Arga tiba-tiba terbatuk disela tertawanya.
"Duh...om Rendi lihat nggak ya...bisa gawat ini." Gumam hati Arga.
"Baik om...Arga mandi dulu sebentar baru ke meja makan ya..." ucap Arga seketika sambil melonjak dari ratas anjangnya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
"Gila...lupa kalau ada bodyguard yang dua puluh empat jam ngawasin." gerutu Arga didalam kamar mandi. Sepuluh menit sudah Arga mandi, lalu ia pun keluar kamarnya dan berjalan menuju meja makan, disana sudah ada om Rendi, tante Anin dan Nindi. Rendi memilih duduk di depan Nindi.
"Mari kita makan sama-sama..." ucap om Rendi mengawali lalu di lanjut tante Nindi dan Arga mengambil makanannya. Arga terkesima menatap makanan rumahan yang terhidang. Ayam bakar, ikan bakar, tahu, tempe goreng, cah kangkung dan juga sambel terasi. Matanya sedikit berkaca-kaca saat melihatnya...entah sejak kapan ia melupakan rasa masakan seperti itu. Entah kapan terakhir kali sejak usia berapa ia terakhir makan dengan keluarga yang selengkap itu. Tanpa Arga sadari...om Rendi dan tante Anin sesekali mengawasinya karena ia hanya termenung dari tadi.
"Nak sini tante ambilkan..." ucap tante Anin yang membuyarkan angannya.
"Ga...kamu nggak apa-apa?" tanya om Rendi.
"Om...Arga nggak apa-apa...dan tante...aku ingin di ambilkan Nindi..." ucap Arga seketika yang langsung membuat Nindi berhenti menyantap nakanannya lalu menatap sekeliling yang nyatanya semua orang menatapnya.
"Aku? kok bisa aku?" tanya Nindi keheranan.
__ADS_1
"Sudah ah nak...ambilin gih..." perintah mama dan Nindi tidak bisa menolaknya, keempatnya pun makan bersama siang itu.