
tanpa terasa satujam berlalu,
rendi menyandarkan kepalanya sambil mendongak di kursi...
"orang segitu banyaknya gak ada yg becus",
gumam rendi serasa benar2 penat di kepalanya,
"aku sudah berjanji pada anin untuk mengajaknya jalan2 besok,aku harus bilang apa kalau besok aku harus ke luwar kota untuk mengurus pekerjaan ini",
gumamnya lagi.
lagi2 ia hanya bisa memejamkan matanya sambil menggumam dalam hatinya,sesekali ia menarik nafasnya dalam2 lalu menghembuskannya.
tiba2 terasa jemari hangat memijit kedua sisi samping keningnya.
ia membuka matanya dan menatap ke atas,
istrinya berdiri di belakang kursinya.
lalu ia memejamkan matanya lagi.
sambil menikmati pijitan istrinya.
"apa kau lelah kak"?
tanya anin tiba2 pada suaminya.
namun rendi tak kaget dan tak membantahnya.
sambil masih matanya terpejam.
di raihnya ke2 jemari istrinya.
"sayang kapan kau masuk?"
tanyanya dengan dengusan ringan.
"barusan aku masuk diam2,aku kawarir padamu karena lama tidak keluar dari ruang kerjamu",
jawab anin untuk pertanyaan suaminya.
lalu anin melepaskan genggaman suaminya,
tangannya memeluk erat leher suaminya.
rendi hanya membalas pelukan istrinya dengan elusan di rambut anin yg bersandar di pundak nya.
"ada apa??kenapa lesu sekali setelah rapat?"
tanya anin pada suaminya.
__ADS_1
"orang2 kantor gak ada yg becus sayang...aku harus turun tangan sendiri",
ucap rendi sedikit kesal.
"jangan marah2 lagi...mereka sudah berusaha...mungkin kemampuannya terlalu jauh di bawahmu",
ucap anin untuk membangun semangat suaminya lagi.
"andai kai tahu sayang...mereka berinvestasi di perusahaan yg akan bangkrut,dan itu tidak sedikit nominalnya,miliyaran",
gumam hati rendi.
"apa ada yg bisa ku bantu??"
tanya anin sambil mencium bawah telinga suaminya.
"kau tahu apa yg sedang kau lakukan?"
tanya rendi yg langsung meraup bibir anin yg sedari tadi berada berlawanan dengan bibirnya.
anin hanya membiarkannya dan sesekali membalasnya,
mungkin dengan cara ini suaminya bisa membaik mod nya.
rendi membimbing istrinya duduk di pangkuannya.
sesaat tatapan mereka beradu.
namun rendi memalingkan wajahnya,
"apa yg kau sembunyikan?"
tanya anin yg masih di atas pangkuannya.
"tidak ada",
jawab singkat rendi.
"tuan muda yg tampan...apa segitunya kau bangkrut??"
kata anin ingin tahu.
rendi hanya terdiam,ia ingin tahu reaksi istrinya,
"ayowlaaah tatap mataku sayang..."
rengek anin pada suaminya.
rendi pun tak menggubrisnya seolah2 benar2 ia sedang jatuh.
anin menjadi gemaas...
__ADS_1
diraihnya wajah suaminya dengan ke2 tangannya hingga menghadapnya dan terpaksa menatap matanya.
"heiii...."
kata anin...
"lihatlah sayang...papamu mulai tidak memandangku",
ucap anin tiba2 yg membuat rendi sangat terluka dengan kebodohannya sendiri.
di taihnya tangan istrinya lalu di cium puncak kepalanya dengan lembut.
seraya berucap,
"maafkan aku sayaang...maaf...aku tak bermaksud...."
"cup",
kecupan anin mendarat di bibir rendi sebelum rendi melanjutkan kata2 nya.
anin memeluk leher rendi lagi.
"sayang...meskipun kau bangkrut....aku masih istrimu,
meskipun kita harus hidup gelandangan juga aku tetap istrimu,tak akan ada yg berubaaah...",
ucap anin tiba2.
seketika rendi tertawa terbahak2,
sambil mengacak acak rambut anin yg belakan,padahal tadi di elus2nya.
"apa yg salah?"
tanya anin pada suaminya.
"fikiranmu kejauhan sayang...."
ucap rendi masih dengan tawanya yg membuat anin gemas dan memukul dada suaminya.
"bug"...
"au"...rendi mengaduh bohong.
"kamu si ketawa mulu...gak jawab pertanyaanku"
ucap anin seketika di sela aduhan suaminya.
"lalu apa yg kamu tertawakan??"
tanya anin lagi.
__ADS_1
"kamu mikirnya kejauhan...mana ada aku bangkrut..."
ucap balik rendi.