
tepat pukul delapan malam saat rumah ifa sudah sepi dari para tetangga dan orang yang habis mengirim doa,hingga terlihat hanya ifa yang masih pingsan dan di baringkan di kursi panjang ruang tamu yang muat ke ukuran tubuhnya,di temani nindi Arga dan juga paman serta bibiknya,tidak ketinggalan Aditya yang terlihat seperti tuan rumah saja,
bagaimana tidak...semua pelayat malah riyuh ricuh saat aditya tengah membopong tubuh ifa yang sebentar sebentar pingsan.
Hingga semua orang ingin tahu dan mengira Aditya adalah calon suami ifa,dimana Aditya yang berwajah tampan rupawan,dengan mobil mewah yang sudah pasti bukan orang biasa dari penampilannya saja semua yang melihat sudah tahu.
Aditya membopong tubuh ifa dari area pemakaman desa sampai ke rumahnya,
ia terpaksa melakukannya karena asistennya yang kebetulan menunggui di rumah tanpa ikut ke area pemakaman.
hingga beberapa kali ifa sadar dan pingsan lagi saat mengingat dirinya hanya tinggal sebatang kara,dahulu ia bekerja penuh ambisi dan begitu rajin,itu pun karena dorongan sang ibu,ibu yang harus berobat karena sakit jantungnya yang tiap dua minggu harus kontrol ke dokter,ibunya yang membuatnya semangat,namun saat ini setelah apa pun ia lakukan hingga sampai titik dimana ia menjadi pesuruh Aditya dan menjadi mainan Aditya pun ia lakukan demi sang ibu,hingga ia benar benar belum bisa menerima kepergian sang ibu.
"nak Aditya...paman dan bibi pamit dulu ya...tadi siang paman sudah terlanjur kulak bahan untuk jualan besok nak...kasian kalau sampai nggak kejual...ifa kami serahin ke kamu ya nak...kamu temani ifa ya..."
ucap bibi yang sudah beranjak dari duduknya dan di susul paman yang ikut serta.
paman dan bibi ifa bekerja berjualan sayuran di pasar lalu setelah siang mereka berkeliling dari kampung ke kampung,kampung mereka bersebelahan dengan kampung ifa saat ini.
dan mereka kulak sayuran dari para petani lalu menjualnya lagi,seandainya karena kepergian ibu ifa...keduanya harus libur jualan...mereka akan benar benar rugi,karena sudah banyak sayuran yang siang tadi mereka kulak dari petani di desanya,dan tidak bisa mereka kembalikan lagi.
"tapi....tungg...."ucap Aditya yang hampir melarang mereka untuk pergi,namun seketika suara Aditya terhenti karena tepukan tangan Arga di pundaknya.
__ADS_1
"udahlah kak...ifa kan asistenmu...sekarang dia sedang kesusahan...kamu yang harus jagain dia kak...biarkan paman dan bibi nya pergi,kasian mereka...mereka tidak seperti kita yang memandang uang dengan remeh nya...jadi maklumi mereka."ucap Arga sambil ikut duduk di kursi panjang samping kursi Aditya.
terlihat nindi baru masuk dari teras luar rumah ifa,rumah dengan model kuno dengan dua kamar tidur,satu kamar mandi dan dapur,dimana lantainya dari kramik biasa yang sudah mulai memudar warnanya karena termakan usia.
"darimana aja sayang?"tanya Arga saat nindi mulai duduk di sampingnya.
"ngasih tahu mama dan papa ga...kalau mungkin malam ini mau nginep sini nemani ifa...kasian dia,tapi tadi kata mama sih nggak apa apa ga...papa baru keluar,nanti mama yang akan mintain izin papa ga..."ucap nindi dengan lesu nya,tatapannya menatap gadis yang hanya tinggal sebatang kara saja.
"akay...ga...ayo kita pulang sekarang..."
ucap Aditya yang tiba tiba refleks langsung di pukul nindi di bagian pundaknya,
"apaan sih...mukul mukul nggak jelas!"
"heh...mata lu meleng nggak?buka tu mata...lu nggak bisa mikir apa emang pura pura bodo hah...percuma lu sekolah tinggi tinggi kalau otak lu nol besar!
lu jelas tahu asisten lu butuh sesrorang di sisinya...lu se enak jidat lu aja bilang pergi pergi."ucap nindi dengan sungut sungutnya dan hampir meledak,
"nggak usah nyeramahin orang...kamu mau tinggal disini...nah aku ngapain disini juga,kurang kerjaan amat!"ucap Aditya dengan songongnya,dan nindi sudah nggak bisa nahan amarahnya.
"woe...lu pasti belum pernah kena tendang kan?belum pernah kena tonjok?oke aku kabulin..."ucap nindi dengan tangan yang sudah mengepal siap nonjok dan kaki sudah mulai menendang,namun sayangnya hanya kena sedikit saja,Arga begitu kuat memeluk tubuh nindi hingga ia tidak mampu bergerak menyerang aditya.
__ADS_1
"ga...apa yang kamu suka dari perempuan preman kaya dia?ngapain juga kamu jatuh cinta sama cewek yang bentuknya begini...cari masalah doang bisanya."ucap Aditya dengan sinisnya.
"cukup!!!!"teriak lantang Arga yang ikut marah di buat aditya.
"kau urus wanitamu!dan aku akan urus sendiri wanitaku.Aku mendukung semua ucapannya bukan karena dia pacarku,tapi memang semua yang dia ucapkan benar.Kau tahu kan gimana aku selama ini...jadi harusnya kau sudah tahu...kenapa aku bisa mencintai gadis ini."ucap Arga dengan sangat gentle menurut nindi,Arga menarik tangan nindi dan beranjak pergi meninggalkan Aditya dan juga ifa yang masih belum sadar.
"jangan menatapku terus nindi...."ucap arga yang masih tersisa nada ketusnya.
"kenapa?kenapa kita meninggalkan ifa sendiri dengan si songong itu ga?"tanya nindi dengan sedikit khawatirnya,ia khawatir jangan jangan setelah ia pergi dengan Arga...Aditya menyusul pergi pula meninggalkan ifa sendirian.
"jangan khawatir...Aditya sebenarnya ada rasa kok sama gadis itu,namun ia hanya enggan untuk memikirkannya,karena ia tidak percaya akan cinta dan suatu hubungan."ucap Arga sambil melajukan mobil nindi menuju kediaman om Rendi.
"ibu..."ucap ifa saat ia baru tersadar,meski ia sudah beberapa kali pingsan dan tersadar dengan sendirinya.
"heeeemzzz..."sahut Aditya yang masih duduk di samping kursi ifa.
"pak...bapak tahu...ifa dua tahun terakhir ini bekerja sangat keras tanpa kenal lelah...itu semua karena ibu...ibu berjuang dengan kesakitannya...karena penyakit jantungnya,sedangkan aku yang sehat kenapa bisa bersantai santai saja,aku giat bekerja di beberapa tempat,di butik,di konfeksi...sampai aku buang egoku dan harga diriku untuk menjadi mainanmu...itu semua untuk mencari uang yang banyak...untuk berobat ibu...dan kini...semangatku seakan sudah hilang dan sirna...aku tidak punya motifasi lagi...izinkan aku pergi dari permainanmu...aku mohon..."ucap ifa yang mengalir begitu saja,apa yang ada di pikirannya...itu lah yang ia ucapkan.
"tidak semudah itu lepas dari genggamanku...semua tidak bisa pergi dengan sendirinya...aku lah yang harus membuangnya jika aku sudah tidak menginginkannya lagi,dan sekarang...kau masih tidak bisa pergi dariku meski ancaman yang aku tujukan buatmu sudah tidak ada.jadi nikmati harimu."ucapnya lagi.
hingga terlihat ifa menangis terisak isak.
__ADS_1
"dasar bodoh...mau sampai banjir air mata juga kamu nggak bakal bisa membalik keadaan."ucap aditya lagi yang berharap ifa menerima keadaan situasi dan kondisinya saat ini.