Dosenku Suamiku

Dosenku Suamiku
perasaan yang sama


__ADS_3

ketiga pasangan hanya bersenda gurau mengisi waktu kebersamaan mereka.


hingga semua merasa kekenyangan,


rendi berdiri dari duduk nya dan mengajak arga untuk ikut serta dengan nya.


"ga...bisa bicara sebentar?"ucap rendi yang di barengi anggukan arga seketika menerima ajakan dari papa kekasihnya.


keduanya terlihat berjalan beriringan menuju tempat lain,lebih tepatnya...ruang kerja om rendi.


"hemmmz....kira kira ada apa ya...om rendi sampai ngajak aku sendirian ke ruang kerjanya?"tanya dalam hati arga yang tidak karuan,ia khawatir yang bukan bukan.


"duduk ga..."ucap rendi yang mempersilahkan arga untuk duduk di kursi depan meja kerjanya,rendi pun ikut duduk di sebrang meja kerjanya.


"ada apa ya om?"tanya arga yang ingin tahu.


"emmmz...ga...kamu yakin kamu baik baik saja?"tanya om rendi pada arga,yang di tanyai pun malah merasa keheranan,karena memang dia baik baik saja.


"iya...arga baik baik saja om...ada apa ya?"tanya arga lagi.dalam hatinya berharap tidak ada apa apa.


"emmmz...kamu nggak dalam ancaman seseorang kan ga?"tanya om rendi lagi,dan itu malah membuat arga tidak mengerti.


lalu sejenak arga terlihat memikirkan sesuatu,


dimana sebenarnya arga ingin menggiring om rendi untuk mengatakan apa yang harus nya ia katakan.jika saat ini arga bilang baik baik saja...mungkin percakapan akan berhenti sampai disini saja.


"oooh...arga ingat om...arga memang sedang di ancam seseorang."ucap arga lagi dengan santai nya.

__ADS_1


"appa?!jadi benar...kamu di ancam aditya ga?dia ngancam gimana padamu?"tanya rendi yang lebih antusias nya.dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"emmmz...jadi itu maksud pertanyaan om rendi...?"ucap dalam hati arga dengan sedikit senyum yang tersungging disana.


"jadi...menurut om...aditya itu bisa ngancam arga om?jangankan ngancam...gertak aja nggak akan om...tenanglah..."ucap arga dengan nada yang santai dan terkesan tenang.


"tadi...kamu bilang sendiri kalau kamu di ancam kan ga...lah terus?"tanya rendi lagi dengan penasarannya.


"om...om coba pikir baik baik...aditya aja nggak bisa ngancam arga...siapa lagi yang bisa ngancam arga selain...."ucap arga tertahan dan terlihat om rendi sedang memikirkan sesuatu.


"nindi?"ucap arga dan juga rendi bersamaan.


dan terdengar tawa pecah keduanya.


arga dan rendi,keduanya tidak tahu bahwa di luar pintu kamar nya terdapat nindi,yura serta satria yang tengah nguping di luar pintu ruang kerja papa nya.


"kamu kurang nempel tuh telinganya nindi...tempelin dong ke pintu..."ucap yura yang ikut menyemangati nindi.


"bruuuuuugk...."tiba tiba tubuh ketiga orang yang sedang berdesakan saling menempelkan telinga mereka ke pintu luar ruang kerja rendi itu pun jatuh tersungkur ke lantai,karena tiba tiba pintu itu di buka dari dalam.nindi yang berada paling ujung pun terjerembab dahulu dan otomatis tertindih tubuh yura,namun satria bisa menghindar dan tidak ikut menubruk sekalian.


"aduh...sayang...apa yang kamu lakukan disini?kamu nggak apa apa?"tanya arga sambil mencoba mengajak nindi berdiri dari bawah,dan satria menolong yura yang ikut menindih tubuh nindi.


"aaah...habisnya kalian mencurigakan siiih...aku kan jadi kepo tahu...apa sih yang kalian bicarakan tadi?"tanya nindi ingin tahu pada kekasihnya.


"emmmz...pekerjaan kok sayang..."ucap nya dan rendi yang menyusul dari belakang arga.


"sudah sudah...kaya anak kecil aja nindi...kamu ini."ucap rendi sambil mengusap usap rambut di puncak kepala puterinya hingga terlihat sedikit berantakan.

__ADS_1


"apaan sih papa ini..."dengus kesal nindi.


"emmmz...sayang sini aku rapikan..."ucap arga sambil mencoba merapikan rambut kekasih nya.dan nindi yang terlihat senang di buat nya.


"aduh...suasananya jadi kayak di kutub...bikin merinding."ucap satria sambil menarik pergelangan tangan yura dan mengajak nya pergi dari tempat nindi dan arga,meninggalkan mereka berdua.hanya berdua saja.


"sayang kamu nggak di apa apain papa kan?"


tanya nindi sambil menggenggam jemari tangan arga yang terlihat masih sibuk menata rambut nya.


"nggak ada sayang...om rendi hanya ngajak ngobrol masalah bisnis kok..."ucap arga dengan terlintas senyum tampannya.


"kamu khawatir padaku ya?"tanya arga lagi yang membuat nindi malu malu.


dan mengangguk pelan.


"dasar nindi...ouh ya sayang...besok jadi kerja di perusahaan om rendi?nggak di perusahaanku lagi?"tanya arga yang mencoba menawari nindi agar ia kembali kerja di perusahaannya.


"nggak ga...kayak nya di perusahaan papa aja deh...toh papa juga jarang ngantor...aku kan bisa sambil ngawasi ga..."ucap nindi yang bisa di terima oleh arga.


"baiklah...kalau begitu...aku pamit pulang ya...baru nyampe tadi langsung kesini...capek nya baru terasa."ucap arga lagi dengan tangan yang terlihat memijit mijit leher nya.


"kamu sih...mau mau nya di suruh papa kesini..."balas nindi sambil ikut memijit tengkuk arga.


"gimana aku nggak cepat cepat kesini...kalau om rendi ngirimin foto kamu yang lagi bengong seperti raga tanpa nyawa."ucap arga sambil mengambil ponsel dalam saku celananya dan memperlihatkan foto nindi di ruang keluarga yang hanya manyun di samping semua orang yang terlihat tengah gembira.


"karena aku teringat kamu ga..."ucap nya sambil menatap ke arah arga.

__ADS_1


"aku tahu sayang...sama..."ucap arga sambil mengenang saat ia baru masuk ke dalam kamar hotel setelah kerja,dan menatap sekeliling terdapat bayangan nindi yang berseliweran memenuhi otak nya.


__ADS_2