
Tanpa terasa...nindi kecil kini sudah memasuki masa kuliah, masa dimana ia menuju dewasa, ia menjadi pribadi yang ramah...sopan...tidak boros, serta tidak membeda-bedakan teman atau orang lain, sampai saat itu...tidak sekalipun ia menonjolkan kekuasaan papanya, dia seperti anak-anak seusianya yang lain.
sedangkan kakek...ia sudah meninggal sejak nindi duduk di bangku SMP, jadi nindi kecil banyak mempunyai kenangan dengan kakek Wijaya, kini Nindi adalah mahasiswi tingkat akhir di universitas milik keluarganya,via akan mulai magang di salah satu perusahaan, namun ia tidak mau magang di perusahaan papanya, ia ingin memilih perkembangan bisnis di jalur yang tidak sama dengan milik keluarganya itu.
"Tok tok tok...." terdengar suara pintu kamar di ketok dari luar. Namun pagi itu Nindi malah terlihat malas.
"Sayang....ayo bangun...papamu sudah mau berangkat kerja...kamu masih belum bangun?" tanya mama Anin dari luar pintu kamar Nindi. Namun Nindi malah menutup wajahnya sampai telinganya dengan bantal besar di sampingnya.
"Sayang...katanya hari ini ada tes kerja...kamu yakin tidak mau mengikutinya?"ucap mama lagi.
"astaga...mama....kenapa tidak dari tadi bangunin akunya sih..." teriak Nindi dengan seketika dan melompat dari atas tempat tidurnya, dan sekarang ia berlari cepat menuju kamar mandi.
lima menit kemudian nindi sudah usai mandi dan berdandan hanya menguncir kuda rambutnya dan make up ringan tanpa pakai pensil alis ataupun maskara apa lagi blush on, benar-benar natural hanya memakai lipstik itupun samar-samar, karena pawakanya putih bersih seperti Rendi papanya. Hanya bedakan ringan dan lipstik ringan sudah membuat wajah cantik itu makin cantik sempurna.
Nindi keluar dari kamarnya, menuju meja makan, dimana papa dan mamanya sudah menungguinya untuk sarapan bersama-sama disana.
"Papa..." sapanya dengan mengecup pipi papanya. Lalu bergantian pada mamanya.
"Nama..." sambil mengecup pipi mamanya, gadia itu lalu duduk di samping mamanya.
"Sayang...kamu yakin tidak mau magang di perusahaan papa?" tanya Rendi pada puterinya itu.
"Pah...bosan deh...selalu saja tanya begitu...aku mau kerja dengan hasil keringatku tanpa embel-embel Wijaya di prestasiku papa..." ucap Nindi sambil menikmati sarapannya.
"Sayang...kamu mau magang kerja dimana?" tanya papa yang tidak di jawab Nindi karena ia keburu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Oh tuhan...aku bisa terlambat...kalau begini..." ucap Nindi, lalu ia pun bergegas berlari, namun sebelum itu ia menghabiskan susu di gelasnya dan menyambar roti sandwich di piringnya, tidak lupa satu kecupan di pipi mama dan satu lagi di pipi papanya bergantian,
__ADS_1
dan menikmati roti sandwichnya sambil berlari menuju keluar.
"Sayang...biar di antar papamu nak..." ucap Anin namun tidak di gubris puterinya itu. Nindi terus saja berlari menuju keluar rumah.
"Papa mama aku berangkat..." teriak Nindi setelah sampai di depan pintu rumah besar itu.
"Hati-hati sayang..." teriak papa Rendi yang menyahut.
"Persis kamu sayang...selalu saja takut telat," kata Rendi sambil melirik ke arah istrinya.
"Beda dong pah...dulu kan Dosenku galak sadis gitu...makanya aku selalu takut telat..." ucap Anin tiba-tiba yang membuat Rendi mengerutkan dahi.
"Eheeemz..." dehem Rendi yang di sambut senyum di bibir istrinya.
"Aku galak tapi kamu juga suka padaku bukan?" ucap Rendi lagi dengan angkuhnya.
"Yasudah sayang...aku berangkat dulu ya..." ucap Rendi.
"Oh ya yang...kamu tahu Nindi akan magang di perusahaan mana?" tanya Rendi sambil berbalik lagi ke arah istrinya.
"Dia belum cerita apa-apa padaku pah...sudahlah jangan terlalu khawatir...tidak usah di mata-matai...aku yakin Nindi bisa menjaga diri kok," ucap Anin sambil menggandeng tangan suaminya, mengantarnya menuju ke arah pintu. Kini keduanya sudah sampai di teras luar, Anin mengantar keberangkatan Rendi ke kantor, dengan lambaian tangannya sampai mobil suaminya tidak terlihat. Seperti itulah aktivitasnya setiap pagi.
Nindi saat itu tepat berdiri di depan kantor bertingkat entah berapa puluh disana, gedung menjulang tinggi pencakar langit itu tampak sangat gagah di mata gadis itu. Seketika Nindipun masuk ke dalam, ia mulai berdesakan dengan calon pelamar kerja yang lain,
tanpa sadar waktu sudah berlalu begitu saja, tanpa terasa sudah hampir dua jam Nindi menunggu giliran ia di panggil.
sengaja ia tidak membawa embel-embel nama Wijaya di sana.
__ADS_1
"Nindi..." suara panggilan untuknya tes kerja. Dan dengan cepat gadis itupun bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut, disana ada empat sampai lima orang yang menyeleksinya. Kelimanya memberikan pertanyaan dan dengan mudah Nindipun menjawabnya.
Setelah Nindi menunggu beberapa menit, akhirnya keputusanpun langsung di siarkan.
"Nona Nindi...mulai minggu depan...kamu resmi menjadi karyawan di perusahaan Sanjaya ini." Ucap salah seorang penguji. Tanda gadis itu lolos seleksi. Dengan senang hati Nindipun menyalami kelimanya, sebelum berpamitan pergi.
Di tempat lain, di jalan besar dekat pemukiman yang sedikit padat penduduk.
Mobil mewah itu berhenti di pinggir jalan di bawah pohon rindang, turunlah seorang pemuda yang sengaja berpakaian sedikit lusuh, celana kumal, topi hitam belel, meski tidak bisa menyembunyikan ketampanannya di wajah bersihnya.
"Pak...tunggu aku di seberang jalan sana, apapun yang terjadi nanti...jangan lakukan apapun, mengerti? apapun yang terjadi jangan lakukan apapun," ucap laki-laki tampan dengan badan bak binaragawan itu berkali-kali di tegaskannya.
"Baik tuan..." ucap sopir mobil mewah itu dan berlalu pergi.
Laki-laki sempurna ini adalah...Arga Sanjaya, pimpinan perusahaan Sanjaya yang hampir menjadi saingan bisnis papa Rendi, sudah tiga tahun belakangan ini selalu berhasil merebut tender yang harusnya di garap oleh Rendi, namun papa Rendi selalu mengalah dan melirik tender di bidang lain. Sekarang papa Rendi lebih fokus pada bidang kampus dan kuliner, sedangkan di bidang kesehatan...ia hanya sesekali saja mengikuti rapat, ia hanya fokus menjadi pemegang saham terbesar saja, tanpa ikut memasok alat-alat medis lagi, karena ia tahu...mungkin penerus keluarga Sanjaya yang lebih muda darinya pasti lebih berpotensi, dan Rendi sadar...kemampuan luar biasa penerus keluarga Sanjaya itu.
Arga sanjaya adalah pimpinan perusahaan Sanjaya. Ia menyelesaikan program akselerasi dari SD, SMP, dan SMA, hingga perguruan tinggi s3 di luar Negri. Ia bisa meraih julukan Doktor di usianya yang ke dua pupuh dua tahun, meski sejak usia yang ke sembilan belas tahun ia sudah memimpin perusahaan karena ayahnya meninggal...dan ibunya menetap di luar negri.
Ia berniat akan meneliti pangsa pasar yang produk barunya geluti saat itu.
Ia berdandan seperti itu karena tidak ingin mencolok dan ingin berbaur pada warga yang lebih suka tidak berbelanja di supermarket atau minimarketnya.
Ia akan lebih leluasa bertanya-tanya bila ia berpakaian lebih merakyat dan biasa.
Terlihat Arga berlari kecil menuju seberang jalan, namun tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencangnya dan...
"bugh..." suara tubuh Arga terjatuh terserempet mobil itu, namun mobil itu pun terus melaju kencang tanpa berhenti ataupun terkesan di sengaja.
__ADS_1