Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kondisi Shin Shui


__ADS_3

Setelah menunggu hampir tiga jam lamanya, akhirnya pengobatan mulai selesai. Satu persatu para tetua dan beberapa murid utama sudah keluar dari ruang pengobatan.


Mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan. Walaupun beberapa orang sudah keluar, tetapi keadaan di sana tetap menegangkan dan penuh rasa kekhawatiran.


Tentu saja yang paling mereka khawatirkan adalah keadaan Shin Shui. Semua orang belum tahu bagaimana kondisi Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu sekarang.


Kalau sampai Shin Shui terluka parah dan sulit untuk disembuhkan, bagaimana jadinya nanti? Ada dia saja badai dunia persilatan semakin hari semakin hebat, bagaimana kalau tidak ada? Bisa-bisa dunia persilatan Kekaisaran Wei mengalami kiamat.


Suasana masih hening. Tidak ada satupun suara yang terdengar. Keadaan ini benar-benar membuat siapapun merasakan hal lain.


Setelah mentari baru menampakkan dirinya di sebelah timur, seorang tabib yang sudah terkenal di seluruh dunia persilatan keluar.


Tabib Seribu Cara.


Salah satu tabib yang namanya sudah membumbung tinggi bahkan harum di mana pun. Semua orang menaruh hormat kepadanya. Bahkan Shin Shui sendiri amat menghormati tabib itu.


Begitu dia melangkahkan kakinya ke tempat di mana para tetua menunggu, semua orang langsung berdiri dan segera menyambut serta menanyakan bagaimana keadaan Shin Shui.


"Paman tabib, bagaimana keadaan ayahku?" tanya Chen Li sambil memegang erat tangan orang tua itu.


"Bagaimana keadaan Kepala Tetua?"


"Bagaimana keadaan pahlawan?" tanya juga Yuan Shi yang sama ikut khawatir.


Tabib Seribu Cara tersenyum. Dia tidak langsung menjawab. Melainkan orang tua itu mengambil terlebih dahulu satu kursi untuk dirinya duduk. Di dalam hatinya, dia sungguh memuji pencapaian Shin Shui.


Namanya benar-benar harum. Sosoknya sangat disegani dan dihormati oleh semua orang. Bahkan oleh Kaisar Wei An sendiri.


"Kalian tenang saja. Jangan terlalu panik, semua jarum sudah berhasil aku cabut. Sebagian racun juga sudah aku keluarkan. Tinggal sedikit lagi racun yang belum keluar, dan itu hal yang sangat sulit. Tapi untungnya nyawa Kepala Tetua Shin Shui masih bisa di selamatkan. Hanya saja, untuk membuatnya benar-benar pulih seperti sedia kalah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling lambat satu bulan. Tetapi kalau ada keajaiban, satu atau dua minggu juga dia pasti pulih," katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


Bicaranya tenang. Sangat tenang. Seseorang yang sudah melewati ribuan macam pengalaman hidup, sudah pasti akan berusaha setenang mungkin walau menghadapi masalah sesulit apapun itu.


Bahkan jika mereka tahu kapan waktu kematiannya tiba, mereka tetap akan berlaku setenang mungkin.


Mendengar penjelasan Tabib Seribu Cara, semua orang-orang yang ada di sana sudah merasa tenang. Walaupun sedikit rasa khawatir belum mampu mereka hilangkan secara keseluruhan.


"Apakah tidak ada kecacatan yang akan terjadi kepadanya?" tanya Yuan Shi secara tiba-tiba.


"Sepertinya tidak. Berdoa sajalah. Untung bahwa pondasi Kepala Tetua memang benar-benar kokoh. Rasanya sepanjang aku mengobati pendekar sedemikian banyaknya, baru kali ini aku menemukan ada seorang pendekar yang mempunyai pondasi sangat sempurna," ucap Tabib Seribu Cara memuji Shin Shui dengan tulus.


Kalau orang lain yang di pujinya, pasti siapapun tidak akan setuju. Tetapi lain lagi kalau terhadap Shin Shui. Semua orang sudah pasti akan percaya. Karena mereka tahu bagamana si Pendekar Halilintar itu.


"Semoga saja Kepala Tetua memang tidak kenapa-napa. Kami hanya berharap kepadamu Tabib Qi," kata Lu Xian Chuan kepada Tabib Seribu Cara yang mempunyai nama asli Qi Lan.


Semua orang mengangguk setuju. Di saat mereka sedang berdiskusi membicarakan suatu kemungkinan yang bisa saja terjadi setiap saat, tiba-tiba dari ruang pengobatan muncul seseorang yang sudah sangat mereka kenal.


Shin Shui.


Tabib Seribu Cara ingin melarang, tapi sebelum dia menghampiri, Shin Shui lebih dulu menggelengkan kepalanya.


Tanpa banyak bicara, dia langsung duduk kembali. Dengan catatan terus memperhatikan Shin Shui.


Semua orang memberikan hormatnya. Walaupun Shin Shui sedang dalam keadaan terluka, nyatanya siapapun tetap segan kepadanya.


Hal seperti ini jarang bisa dicapai oleh siapapun. Di mana si orang tersebut akan selalu di hormat walau apapun yang terjadi. Dan untungnya Shin Shui sudah berhasil mewujudkan hal tersebut. Jadi tidak heran kalau dia selalu di hormati setiap saat.


Dia duduk di kursi yang dikhususkan hanya untuk Kepala Tetua. Chen Li duduk di sampingnya menemani Shin Shui.


"Ayah, apakah kau baik-baik saja?" tanya si anak sangat khawatir terhadap keadaan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah baik, Li'er tenang saja. Lebih baik kau pulihkan saja dirimu sekarang. Dalam keadaan bagaimanapun, kau harus selalu siap," ucap Shin Shui tegas. Sifat ayah terhadap anaknya keluar saat itu juga.


"Baik. Li'er menuruti keinginan ayah. Li'er pamit undur diri. Semua tetua, Li'er pergi dulu, mohon maaf tidak bisa menemani lebih lama," ucap Chen Li sambil menjura memberikan hormat.


Semua orang mengangguk sambil tersenyum memandangi bocah yang menggemaskan itu.


Chen Li segera keluar ruangan. Dia masih tetap ditemani oleh Eng Kiam. Gadis yang sedang beranjak dewasa itu tidak mau melepaskan Chen Li dalam kondisi seperti ini. Kecuali kalau tuan muda tersebut sudah benar-benar pulih, maka Eng Kiam tak keberatan walau tidak menjaganya.


Di ruangan para tetua, semua orang terdiam. Mereka sedang menanti Shin Shui berbicara. Siapapun sudah tahu bahwa Pendekar Halilintar mempunyai suatu hal yang ingin segera di sampaikan. Kalau tidak, untuk apa dia keluar?


"Apakah para tetua sekalian baik-baik saja?" tanya Shin Shui penuh wibawa.


Walaupun kondisi tubuhnya sedang terluka parah, tapi kewibawaan sebagai pemimpinnya masih tetap menonjol.


"Kami semua baik-baik saja. Kepala Tetua jangan khawatir. Anda sendiri bagaimana?" jawab Yiu Jiefang sambil bertanya mewakili para tetua lainnya.


"Aku juga baik-baik saja. Hanya saja aku harus istirahat total beberapa waktu ke depan supaya pemulihan ini berjalan dengan cepat. Kalau tidak begitu, sudah pasti aku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh," jawabnya sambil tersenyum.


Ekspresi wajahnya menggambarkan seperti tidak ada rasa sakit. Padahal semua orang pun tahu bahwa Shin Shui sedang terluka parah. Tapi hebatnya, dia tidak mau memperlihatkan kesedihan dan kesakitannya di hadapan banyak orang.


Sifatnya dari dulu memang seperti itu. Shin Shui akan menutup rapat semua hal buruk yang sedang menimpa dirinya. Baik itu kesakitan ataupun kesedihan, dia akan mencoba untuk menghadapinya sendiri. Siapapun tidak boleh ada yang tahu.


Tetapi kalau dia sedang bahagia, siapapun harus bahkan wajib untuk tahu. Kesedihan hanya untuk dirasakan seorang, tapi kebahagiaan harus dirasakan semua orang.


Terbukti sekarang. Dia bahkan masih tetap tertawa di tengah deraian rasa sakit.


"Apakah ada hal yang ingin Kepala Tetua sampaikan?" tanya Lin Zong He.


"Ada. Dan hal ini sangat penting," jawab Shin Shui.

__ADS_1


###


Tolong bantu naikin bintang ya gengs. Ada yang iseng suka nurun-nurunin bintang🙏


__ADS_2