
"Bangunlah anak muda," kata Dewa Lima Unsur sambil membantu Chen Li bangkit berdiri.
Pemuda itu langsung bangkit. Tapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Chen Li tetap diam. Bibirnya tetap bungkam. Kepalanya masih tertunduk ke bawah.
Huang Taiji berjalan mendekati keduanya. Jalannya saja amat sangat hati-hati. Seolah orang tua itu takut melakukan kesalahan dalam cara berjalannya.
"Li'er, apakah kau tahu siapa yang ada di hadapanmu saat ini?" tanya Huang Taiji setelah jaraknya dekat.
"Tidak, Li'er sama sekali tidak tahu,"
"Inilah guru baru untukmu yang Paman maksudkan,"
"Benarkah?" tanya Chen Li tampak kebingungan.
"Tentu saja. Apakah kau tahu siapakah guru barumu yang sebenarnya?"
Chen Li menggelengkan kepalanya. Dia masih tetap di posisi sebelumnya. Hanya berdiri, tidak bergerak, dan tidak berani mengangkat kepala.
Huang Taiji menoleh ke arah Dewa Lima Unsur. Sosok agung itu mengangguk pelan sambil tetap tersenyum.
"Dia adalah Dewa Lima Unsur. Seorang Dewa agung yang diturunkan ke bumi hanya untuk melatihmu mencapai puncak kesempurnaan," kata Huang Taiji. Suaranya sangat tegas dan penuh tekanan. Setiap kata dia ucapkan dengan jelas dan perlahan.
Dalam nada ucapan itu, ada perasaan bangga yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Siapapun tidak dapat membayangkannya. Jika kau pernah bertemu dengan seorang Raja, mungkin seperti itulah kebanggaan yang dirasakan oleh Huang Taiji saat ini.
Pendekar Tanpa Perasaan terperanjat. Hampir saja dirinya melompat saking kaget dan terkejutnya.
Dewa? Benarkah sosok itu adalah Dewa?
"Benarkah?" tanyanya lirih.
"Benar. Coba kau angkat dan pandang wajahnya sebentar," perintah Huang Taiji.
Chen Li langsung mengangkat kepalanya secara perlahan. Dia mencoba memberanikan diri untuk memandang wajah sosok di hadapannya.
Baru beberapa saat memandang, pemuda itu langsung menundukkan kepalanya kembali. Wajah itu terlalu indah untuk dipandang terlalu lama. Sosok itu terlalu agung untuk di lihat oleh manusia.
Dan Chen Li merupakan manusia.
__ADS_1
Pemuda itu terpaku sekian lamanya. Dia tidak berani berkata apa-apa lagi. Bahkan bernafas pun tidak berani keras-keras.
"Apakah sekarang kau percaya?" tanya Huang Taiji memastikan.
"Li'er percaya Paman,"
"Bagus. Sekarang, lakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya,"
Chen Li menurut. Dia kembali bersujud dengan penuh khidmat. Dia membenturkan tiga kali kepalanya ke tanah.
"Kalau murid telah berlaku tidak sopan, muhun guru sudi memaafkan. Murid mohon bimbingan dari guru, apapun yang guru perintahkan pasti akan murid lakukan sepenuh hati. Setiap jiwa raga murid, murid persembahkan untuk guru," kata Chen Li dalam sujudnya.
Dia berkata dengan sungguh-sungguh. Sedikitpun tidak bercanda. Pemuda itu mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Pula, apa yang dia bicarakan pasti berani dilakukan.
Dewa Lima Unsur tersenyum lembut ke arahnya. Dia senang kepada calon anak muridnya tersebut. Sekalipun baru pertama bertemu, Dewa Lima Unsur telah mengetahui luar dalamnya Chen Li.
Tentu saja, sebab dia adalah Dewa. Bukan manusia.
"Bangunlah muridku,"
Ketiganya kemudian duduk di atas batu hitam. Chen Li segera mengeluarkan arak. Huang Taiji dan dirinya langsung menenggak guci arak. Sedangkan Dewa Lima Unsur hanya diam sambil melihat keduanya minum.
Dia seorang Dewa. Dan sebagai Dewa, tentu dirinya tidak minum arak. Berbeda dengan Huang Taiji yang sekarang masih dalam keadaan menyamar menjadi seorang manusia.
"Nah Li'er, selanjutnya kau akan berada di bawah didikan Dewa Lima Unsur. Kau harus menuruti setiap apa yang beliau katakan. Sedikitpun jangan membantah. Kalau kau segan kepada Paman, kalau kau hormat kepada Paman, maka kau harus jauh lebih segan dan hormat kepada Dewa Lima Unsur,"
"Baik Paman. Li'er mengerti,"
Huang Taiji tersenyum bangga. Dia percaya bahwa pemuda itu mampu mengejar cita-citanya. Dia juga yakin bahwa Chen Li sanggup mewujudkan impian seluruh umat manusia.
Hanya saja sebelum mewujudkan hal tersebut, dia harus melewati beberapa tahap untuk mencapai ke puncak kesempurnaan.
Dan sekarang, pemuda itu akan memulai langkah untuk menuju ke sana.
###
Satu minggu telah berlalu. Sekarang ketiganya telah tampak lebih akrab dari pada pertama kali. Dewa Lima Unsur memutuskan untuk tidak terlalu memandang tatakrama. Baik itu bagi Huang Taiji, maupun bagi Chen Li.
__ADS_1
Dewa itu ingin dipandang seperti guru pada umumnya. Dia tidak mau dipandang sebagai Dewa. Karena pada dasarnya dia pun tahu bahwa sekarang dirinya sedang berada di alam para manusia. Bukan alam para Dewa.
Waktu menunjukkan siang hari. Matahari bersinar sangat terik. Sekarang ketiganya sedang duduk beristirahat. Meskipun Dewa Lima Unsur mendidik Chen Li dengan keras, namun Dewa itu masih mempunyai belas kasihan.
Sehingga dia tidak berani mendidik Chen Li berlebihan.
"Li'er, kurang lebih tiga tahun lagi, kau akan mencapai puncak kesempurnaan," kata Dewa Lima Unsur tersenyum ke arahnya.
Huang Taiji hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut. Sedangkan Chen Li malah terperanjat.
Tiga tahun? Hanya dalam tiga tahun lebih sedikit, dia akan mencapai puncak kesempurnaan, apakah itu benar? Apakah Dewa Lima Unsur tidak berbohong kepadanya?
Chen Li hanya mengiyakan. Namun ekspresi wajahnya jelas memperlihatkan rasa kurang percaya. Dewa Lima Unsur hanya tersenyum simpul. Dia tahu bagaimana watak muridnya tersebut, dia pun paham bagaimana watak manusia. Oleh sebab itu, dirinya tidak marah saat Chen Li berlaku demikian.
Berbeda dengan Huang Taiji. Saat dia melihat ekspresi wajah Chen Li, orang tua itu lantas segera berkata.
"Kau harus ingat, gurumu bukan manusia. Dia adalah Dewa. Dan sebagai seorang Dewa, apa yang dia ucapkan sesungguhnya tidak berbohong. Beliau mengatakan yang sebenarnya. Sekarang kau mungkin tidak akan percaya, tapi lihat setelah tiga tahun nanti," kata Huang Taiji bicara serius kepadanya.
"Tidak Paman, tidak. Li'er percaya. Sungguh," kata Chen Li sedikit ketakutan.
"Kalau kau berani berkata bohong di depan seorang Dewa, hal itu adalah suatu tindakan paling konyol. Jangankan kau berbohong atau tidak, seorang Dewa bahkan dapat mengetahui isi hatimu saat ini,"
Anak dari Pendekar Halilintar itu langsung membungkam mulutnya. Dia tidak dapat bicara apapun lagi.
"Sekarang kau boleh istirahat. Nanti saat sore hari, kau akan melakukan latihan lagi," ucap Dewa Lima Unsur kepadanya.
"Baik guru, Li'er mengerti,"
Pemuda itu langsung bangkit berdiri. Kemudian dia segera pergi dari sana.
Sekarang yang ada di sana hanyalah Dewa Lima Unsur dan pengawal pribadinya, Huang Taiji.
"Bocah itu mempunyai bakat yang sangat bagus. Para Dewa memang tidak salah memilih," kata Dewa Lima Unsur.
"Selamanya Dewa tidak pernah salah. Apapun yang dilakukan para Dewa, semuanya selalu benar. Hanya para manusia saja yang selalu berpandangan salah," timpal Huang Taiji.
"Manusia memang diciptakan dengan sifat seperti itu. Hanya manusia tertentu yang berpandangan luas dalam setiap kesalahan," kata Dewa Lima Unsur.
__ADS_1