Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tiga Wanita Pembawa Maut II


__ADS_3

Huang Taiji gembira. Sekilas senyuman terlihat mekar di bibirnya. Walaupun kecepatan bayangan tadi sangat mengagumkan, namun semua itu belum bisa untuk mengelabui mata Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Dia setengah manusia setengah Dewa. Sudah pasti kelebihannya melebihi manusia pada umumnya. Mata Huang Taiji dapat melihat dengan jelas bayangan yang baru saja lewat. Bayangan itu adalah bayangan yang sedang ditunggu-tunggu selama ini.


Tiga Wanita Pembawa Maut.


Setelah bayangan tersebut masuk ke dalam goa, orang tua itu langsung turun dari tempat persembunyiannya lalu melesat menuju ke goa yang tadi pernah dia masuk untuk sesaat.


Wushh!!!


Hanya beberapa kali kakinya menjejak udara kosong, dirinya sudah tiba di atas goa.


Huang Taiji memasang telinganya dengan tajam. Dari dalam goa tersebut, dia bisa mendengar adanya beberapa orang sedang bicaranya.


Suara mereka sangat halus dan merdu. Seperti suara kekasih yang sedang merindukan pujaan hatinya.


Awan kelabu telah bergeser. Sinar rembulan juga mulai menerangi bumi walaupun tidak seterang biasanya. Semilir angin berhembus lirih menebarkan harum bunga mekar.


"Akhirnya kita berhasil juga membawa lari gadis kecil ini. Kalau bukan demi kemajuan kita, jujur aku tidak akan mau untuk menyamar seperti ini. Rasanya sangat tidak enak sekali, apalagi kita harus menyamar semirip mungkin," keluh seorang wanita dari dalam goa.


"Kau pikir aku tidak seperti itu? Aku juga sama. Rasanya dari kebiasaan menyamar kita selama ini, hanya penyamaran kali ini saja yang sangat merepotkan. Karena salah sedikit saja bisa merusak semua rencana kita," keluh seorang lainnya.


"Sudah, sudah. Aku juga sama, tapi kan buktinya perjuangan kita tidak sia-sia. Ini semua demi kita, demi melancarkan tujuan kita untuk menjadi tokoh pilih tanding. Bukankah semua hal juga membutuhkan perjuangan?" timpal seorang wanita lainnya.


Suara yang terakhir terdengar lebih merdu. Tapi juga jauh lebih berwibawa dari pada dua suara sebelumnya. Terbukti sekarang, keadaan di dalam goa langsung sunyi saat itu juga.


Huang Taiji masih belum bergerak. Dia masih ingin mencari dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dirinya adalah orang yang tidak mau tergesa-gesa dalam segala hal.


Apapun yang akan dia lakukan, dia harus tahu secara detail. Hal ini bertujuan supaya nantinya tidak terjadi kesalahan.

__ADS_1


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" suara dalam goa terdengar kembali.


"Apa lagi? Tentu saja kita harus menyedot tenaga Im yang ada dalam tubuh gadis kecil ini," timpal yang lainnya.


"Tidak bisa segampang itu saudaraku. Untuk mendapatkan kekuatan maksimal, kita harus menunggu bulan purnama lebih dulu. Jika ritual dilakukan bukan pada malam purnama, maka hasilnya juga percuma. Kita tidak akan mendapatkan apa yang ingin kita dapatkan," suara gadis paling merdu terdengar lagi di telinga.


"Aii, benar juga. Tapi jika harus begitu, bukankah kita harus menunggu tiga harian lagi?"


"Tepat. Tiga hari lagi adalah bulan purnama. Pada saat itu, maka kekuatan Im yang ada dalam tubuh gadis itu akan bertambah dua kali lipat dari yang kita bayangkan sebelumnya,"


Sepertinya gadis yang bersuara paling merdu itu merupakan orang terkuat di antara kedua iblis wanita lainnya. Karena sudah terbukti beberapa kali, setiap dia bicara, maka kedua gadis lainnya selalu membungkam tanpa membantah sedikitpun.


"Apakah tidak terlalu lama untuk menunggu tiga hari itu?"


"Tentu saja tidak. Sambil menunggu saat itu tiba, kita bisa berlatih dulu Ilmu Cakar Tengkorak hingga ke tingkatan lebih tinggi lagi," kata si gadis bersuara merdu.


Di luar, Huang Taiji sudah mendengar semua pembicaraan ketiga wanita itu. Beberapa kali dirinya dibuat terkejut, ternyata apa yang dikatakan oleh Han Ciu Ling sebelumnya terbukti sekarang.


"Kalau sudah datang, kenapa hanya berdiam saja di atas? Mari silahkan masuk," kata gadis tersebut secara tiba-tiba.


Kedua saudaranya memandangi. Mereka sempat dibuat bingung untuk beberapa saat. Tapi sesaat kemudian, keduanya mengerti bahwa di sana tentu sudah hadir orang lain juga.


"Apakah ada yang datang?" tanyanya.


"Tepat. Sebentar lagi dia akan masuk,"


Baru saja si wanita yang mempunyai suara paling merdu itu bicara, mendadak di hadapan ketiganya sudah berdiri seorang pria tua berpakaian serba putih.


Dia berdiri dengan santai. Kedua tangannya digendong ke belakang. Bibirnya melemparkan seulas senyuman hangat dan bersahabat.

__ADS_1


"Siapakah Tuan ini?" tanyanya lupa. Padahal beberapa saat lalu, Huang Taiji justru telah menolong ketiganya dari ancaman maut.


"Namaku Huang Taiji. Nona sendiri, siapa namanya?"


"Aku biasa dipanggil Hio Sun, ini saudara keduaku biasa disebut Bi Ling, dan yang ini Hon Tong," kata si gadis yang ternyata bernama Hio Sun.


Huang Taiji mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ketiga wanita itu ternyata benar-benar sangat cantik. Usianya paling banter baru mencapai sekitar tiga puluh lima tahunan. Tubuhnya memiliki tinggi dan kepadatan yang hampir sama. Wajah ketiganya sulit untuk dibedakan, mereka benar-benar seperti saudara kembar. Yang membedakannya hanya warna pakaian yang dipakai dan senjata yang dibawa.


Hio Sun memakai pakaian warna merah muda dengan pedang panjang. Bi Ling memakai pakaian biru muda dan dua pedang pendek. Sedangkan Hon Tong memakai pakaian berwarna hijau terang dengan cambuk yang digulung di pinggang kanannya.


Siapapun yang melihat ketiganya, terutama seorang pria, pasti mereka akan langsung tertarik. Kecantikan dan aura kewanitaannya sulit mencari duanya di dunia ini.


"Tiga nama yang cantik dengan pemilik masing-masing yang sempurna. Sungguh sangat serasi sekali," puji Huang Taiji dengan tulus.


Untung bahwa dirinya merupakan manusia setengah Dewa. Jika dia manusia seutuhnya, sudah pasti Huang Taiji akan jatuh hati dan tidak mampu bicara dengan lancar.


Biasanya, pria mana pun, jika berhadapan dengan seorang wanita yang cantik bukan kepalang, sedikit banyak mereka akan mengalami kegugupan yang sulit untuk diceritakan.


"Terimakasih atas pujiannya. Angin apakah yang membuat Tuan Huang datang ke tempat kami?" tanya Hio Sun sambil tersenyum lembut. Walaupun senyumannya sangat lembut, tapi wajahnya tampak menatap menyelidik dan penuh kecurigaan.


"Kedatanganku kemari hanya menjalankan tanggung jawab saja,"


"Apa itu?" tanya Bi Ling dengan suara ketus.


"Aku ingin meminta gadis kecil itu. Aku akan membawanya pulang kembali kepada pelukan guru besar Perguruan Kipas Baja," jawab Huang Taiji tanpa banyak basa-basi lagi.


Begitu menceritakan maksud dan tujuan yang sebenarnya, ekspresi wajah Tiga Wanita Pembawa Maut langsung berubah hebat. Wajah mereka yang tadinya sangat cantik, justru sekarang malah terlihat menjadi kejam.

__ADS_1


"Apakah yang kau katakan tidak salah?" tanya Hon Tong dingin.


Dia adalah satu-satunya orang dari Tiga Wanita Pembawa Maut yang tidak suka bicara banyak. Terlebih lagi kepada seorang pria.


__ADS_2