Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menggores Langit Menghancurkan Bumi


__ADS_3

Keduanya terpental kembali. Si Pendekar Dewa tahap dua itu terpental hingga sepuluh langkah. Sedangkan Chen Li hanya delapan langkah.


Dua pemimpin yang dari tadi menyaksikan pertarungan ini jelas semakin terkejut lagi. Sekarang mereka menjadi semakin yakin bahwa bocah tersebut memang bukan bocah biasa.


Sedangkan Huang Taiji Lu, dia hanya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam hatinya dia memuji Chen Li. Baginya, pencapaian yang sudah diraih oleh bocah itu, sejauh ini sudah sangat terbilang luar biasa sekali.


Kalau dirinya yang menjadi Chen Li, dia sendiri tidak yakin bisa mencapai semua hal dalam umur sebelia itu.


"Para Dewa memang tidak salah memilih. Li'er memang sangat tepat untuk mengembang tugasnya. Walaupun sangat berat, tetapi aku yakin dia sanggup menjalankan semuanya sesuai apa yang sudah diharapkan. Dengan kekuatannya, dengan kemisteriusannya, aku yakin suatu saat sia bisa menjadi pendekar nomor satu di dunia persilatan. Bahkan ayahnya sendiri pasti akan kalah," gumam Huang Taiji Lu sambil terus menyaksikan pertarungan.


Pujian bukan hanya datang dari mereka saja. Diam-diam, orang-orang yang sejak tadi hadir di sana pun melakukan hal yang sama. Mereka juga memuji Chen Li, walaupun tidak ada yang tahu bocah itu siapa, tetapi orang-orang tersebut sungguh merasa kagum.


Seorang bocah kecil mampu membunuh Pendekar Dewa, bagi mereka sesuatu ini sangat luar bisa sekali. Bahkan lebih daripada luar biasa. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, niscaya tidak akan yang percaya akan kejadian hari ini.


Karena menurut mereka sangat terlalu mustahil. Mungkin hanya Dewa saja yang bisa melakukan seperti yang dilakukan bocah tersebut.


Lalu, apakah bocah yang luar biasa itu adalah titisan Dewa?


Chen Li dan si Pendekar Dewa tahap dua sudah mulai bertarung lagi. Keduanya telah melancarkan jurusnya masing-masing. Jurus pukulan dan tendangan terlihat sangat cepat dan banyak sekali jumlahnya.


Angin tajam terasa merobek pakaian. Debu mengepul setiap keduanya bergerak menyerang. Bentakan nyaring terdengar di tengah pertarungan hebat itu.


Keduanya telah melangsungkan pertarungan sebanyak dua puluh lima jurus. Chen Li digempur dengan jurus pukulan dahsyat.


Kedua tangan lawan menyerang ke segala titik di tubuhnya. Kakinya melancarkan tendangan berbahaya. Semakin berlangsung, semakin ganas pula serangan yang datang.


Chen Li mulai habis kesabaran. Dia membentak lalu tubuhnya meluncur sambil memberikan dua pukulan jarak jauh. Sinar putih transparan menerpa lawan, dia telat menghindar sehingga terkena sedikit jurus itu.


Belum sempat menguasai diri lagi, serangan lainnya telah tiba. Kaki kanan Chen Li di ayunkan dari sisi kanan dan kiri. Disusul juga dengan kaki kiri lalu kedua tangannya ikut serta menghujani tubuh lawan.

__ADS_1


Sepuluh jurus berikutnya, Chen Li mengeluarkan jurus dahsyat.


Kedua tangannya dia kibaskan dari bawah ke atas. Seketika itu juga tanah seperti didorong oleh raksasa dari dasar bumi. Tanah itu hancur lalu menghujani tubuh lawan.


Dia tidak bisa menghindarkan dirinya lagi. Jurus yang diberikan oleh bocah itu benar-benar diluar dugaan semua orang. Ternyata bocah misterius tersebut bisa mengendalikan tanah.


Pendekar Dewa tahap dua tewas dengan batu-batu yang menancap di beberapa bagian tubuh. Darah mengalir deras dari luka-luka itu.


Dua pemimpin tersentak kaget. Karena sangat kesal, tanpa sadar seorang di antara mereka mencabut pedangnya lalu melesat berniat memberikan serangan kepada Chen Li.


Tetapi baru saja dia sampai di tengah jalan, mendadak satu bayangan putih menghadangnya lalu memberikan serangan hebat. Satu gulung angin keras melesat ke arahnya. Karena kaget, pemimpin itu tidak keburu untuk melancarkan serangan balasan.


Dia lebih memilih untuk melompat ke atas lalu turun kembali supaya menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.


Bayangan putih tadi ternyata bukan lain adalah Huang Taiji si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Dia bergerak pada waktu yang tepat. Chen Li segera menghampiri pamannya yang kini terlihat sudah marah kepada dua musuhnya.


"Tidak usah banyak bicara. Kalau begitu biar aku cabut nyawamu sebelum bocah kecil itu,"


"Silahkan. Justru aku sudah menunggu saat-saat seperti ini," jawab Huang Taiji Lu sambil tersenyum dingin.


Tanpa banyak bicara lagi, dua pemimpin itu sudah maju menyerang langsung ke arah Pendekar Pedang Tombak.


Serangan pertama yang mereka lancarkan tidak tanggung-tanggung, ternyata keduanya sudah bertekad untuk mengadu nyawa dengan Huang Taiji.


Dua pemimpin tersebut sudah mencabut pedang pusaka andalan mereka.


Dua Pendekar Pedang Hitam.


Mereka segera menunjukkan taringnya. Dua sinar pedang menerjang ke arah Huang Taiji Lu. Belum tiba serangan pertama, mereka sudah melancarkan serangan lainnya kembali. Serbuan sinar itu memiliki kecepatan tinggi, mereka semakin menambah jumlah serangan jarak jauh yang akan diberikan.

__ADS_1


Huang Taiji Lu tidak tinggal diam. Tentu saja orang tua itu enggan untuk mengalah ataupun memberikan ampunan kepada dua lawannya.


Pedang Tombak Surga Neraka sudah diloloskan. Tangannya telah menggenggam pusaka dahsyat tersebut.


Dua kali senjatanya dikibaskan, dua gulung angin dahsyat segera menghalau serbuan sinar hitam tadi. Ledakan keras terdengar beberapa kali sehingga menggetarkan bumi.


Debu mengepul tinggi. Aura tekanan hebat terasa sangat mempengaruhi gerakan dua orang pemimpin tersebut. Hawa pembunuhan yang kuat sudah keluar dari setiap pori-pori kulit Huang Taiji.


Dia langsung memburu ke depan ke arah dua lawannya. Gempuran dahsyat langsung dia lancarkan.


"Menggores Langit Menghancurkan Bumi …"


"Wushh …"


Jurus kedua terdahsyat yang dia miliki langsung dikeluarkan. Pedang tombak yang digenggam mendadak mengeluarkan sinar merah membara. Seperti halnya besi yang dipanaskan hingga mencapai titik panas tertinggi.


Hawa panas segera menyeruak ke tempat sekitar. Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding bukanlah orang yang suka basa-basi. Dan dia paling benci dengan pertarungan yang memakan waktu terlalu lama.


Karena alasan itulah orang tua tersebut tidak mau berlama-lama. Serangan yang hebat segera menggempur dua pemimpin. Pedang tombak berkilat memenuhi angkasa. Bayangan senjata itu datang seperti hujan yang turun tiada hentinya.


Hanya dalam sekejap mata saja, pertarungan mereka telah mencapai lima puluh jurus. Dua pemimpin sama sekali tidak bisa membalikkan keadaan. Mereka tetap berada dalam posisi terdesak hebat.


Semakin lama keduanya melangsungkan pertarungan, semakin hebat juga serangan yang diberikan oleh lawannya.


Dua Pendekar Pedang Hitam ternyata tidak berdaya saat berhadapan dengan Huang Taiji Lu. Padahal serangan dan pertahanan mereka sudah terkenal. Tetapi nyatanya hal itu sama sekali tidak bisa mendobrak pertahanan lawan.


Bahkan untuk melancarkan serangan balik sekalipun rasanya sangat sulit sekali.


Sepuluh jurus kemudian, dua pemimpin tersebut semakin terdesak. Luka-luka sudah nampak di sebagian tubuh keduanya. Pendekar Pedang Tombak semakin ganas. Dia terlihat bagaikan seekor harimau yang sedang menerkam mangsanya.

__ADS_1


__ADS_2