
"Baiklah, maafkan aku Meimei," kata Shin Shui kepada istrinya.
Batu yang keras sekalipun dapat berlubang oleh rintik hujan yang terus menetes. Masa iya seorang yang sedang marah tidak berubah ketika di ajak bicara penuh kelembutan.
Yun Mei tahu betul bagaimana karakter suaminya. Ketika dia sedang marah, maka kelembutanlah yang mampu meredakan amarahnya. Jika dia marah lalu di ajak bicara dengan kasar, jangan pernah berharap bahwa amarahnya akan reda.
Justru sebaliknya. Amarah itu akan meluap dan lebih bergemuruh dari pada lahar dalam perut bumi.
"Aku berikan kalian kesempatan sampai hitungan sepuluh. Kalau masih tidak mau memberikan jawaban yang sebenarnya juga, maka jangan salahkan aku kalau sampai bertindak kasar," ucapnya.
Suaranya tidak semenyeramkan barusan. Bahkan tidak juga menggelegar seperti sebelumnya.
Tapi dalam bicara itu masih terdapat nada keseriusan sebagai seorang pemimpin.
Shin Shui mulai menghitung. Ketika hitungannya sampai kepada angka tujuh, seorang tetua atau yang biasa mereka anggap wakil kepala tetua, mulai angkat bicara.
"Baiklah. Kami akan memberitahukan semuanya tanpa menutupi. Mohon maaf atas sikap kurang berkenan dari tetua kami. Sebenarnya Sekte Serigala Putih telah bergabung dengan Kaisar Tang Yang, sudah sejak tiga tahun terkahir. Hanya saja, baru belakang ini kerjasama kami bocor. Entah siapa yang membocorkan hal tersebut,"
"Terkait jasa atau kontribusi, Kepala Tetua Ying Mengtian memang telah banyak memberikan bocoran tentang Kekaisaran Wei kepada Kekaisaran Tang,"
"Apa saja? Sebutkan dengan jelas," pinta Shin Shui.
"Banyak. Salah satunya adalah terkait kondisi di Kekaisaran Wei. Bagaimana situasi politik, ekonomi dan lain sebagainya. Juga terkait keamanan Kekaisaran Wei, kelebihan serta kelemahannya. Bahkan peta untuk memasuki Kekaisaran ini dengan gampang, telah diberitahukan oleh Kepala Tetua. Selain itu, Kepala Tetua Ying Mengtian juga memberikan beberapa rahasia terpenting beberapa sekte dan para pendekar. Karena itulah sudah banyak pihak kita yang berhasil mereka tarik,"
"Tunggu, bagaimana kalian bisa mengetahui semua ini?" tanya Shin Shui semakin penasaran.
"Mudah saja, mereka berani membayar orang dengan harga mahal. Tentu karena mereka sendiri mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar. Selain rahasia mereka sendiri sudah diketahui oleh musuh, mereka juga akan mendapatkan imbalan kalau semua rencana yang telah di susun ini berhasil. Apakah ucapanku benar?"
Yang Lin si Maling Sakti Hidung Serigala menyela pembicaraan. Sebagai orang yang dikenal sangat ahli dalam hal informasi, sudah pasti dirinya juga mempunyai berbagai macam rahasia.
"Yant dikatakan Tuan Yang benar. Memang karena alasan itulah kami berani melakukannya," kata wakil kepala tetua.
__ADS_1
Shin Shui melirik kakak angkatnya tersebut. Ada rasa kagum dan keanehan tersendiri baginya. Dia memandang lekat-lekat Maling Sakti. Tatapan matanya penuh selidik. Sedangkan yang ditatap hanya diam seolah tidak masalah dipandangi seperti itu.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Yang Lin kepada Shin Shui.
Pendekar Halilintar belum menjawabnya. Dia masih tetap memandanginya lebih mendalam lagi.
"Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding …" desis Shin Shui sangat terkejut.
Semua orang yang ada di sana tidak mengerti apa yang sedang sebenarnya terjadi di antara kedua tokoh itu. Mereka semua memilih untuk bungkam dan melihat hal apa lagi yang akan segera terjadi.
"Hahaha, hebat, hebat. Matamu sangat jeli. Akhirnya penyamaranku terbongkar juga," kata Yang Lin si Maling Sakti Hidung Serigala sambil tertawa gembira.
Setelah itu, dia segera membuka seluruh penyamarannya.
Terlihat orang tersebut berusia sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya hitam panjang diikat dengan kain sutera merah. Pakaianya warna putih bersih. Wajahnya walaupun sudah terbilang tua, tapi masih cukup tampan dan menggambarkan kegagahan saat usia muda.
Postur tubuhnya tinggi tegap. Kulitnya putih dan halus. Matanya mencorong tajam dengan alis cukup tebal.
Hanya saja, senjata yang sekarang jauh lebih kuat. Sebab senjata tersebut merupakan senjata utamanya. Dia memberikan nama Pedang Tombak Surga Neraka.
Sebuah senjata legendaris dan terkenal pada masanya. Hampir setara dengan Pedang Halilintar. Hanya beda periode dan pemiliknya saja.
Untuk diketahui, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding sebenarnya bukan berasal dari Kekaisaran Wei. Dia berasal dari Kerajaan Liu di sebelah Timur. Kerajaan Liu bukan merupakan Kerajaan besar. Tapi tidak bisa juga disebut Kerajaan kecil.
Kerajaan Liu sudah ada sejak tiga Kekaisaran muncul. Kerajaan tersebut berbatasan langsung dengan negeri lain.
Hanya saja, namanya baru mencuat baru-baru ini. Lebih tepatnya setelah perang besar. Alasannya karena semenjak saat itu, Kerajaan Liu tidak hanya memerintahkan prajurit ataupun orang-orangnya berjaga di perbatasan saja.
Tapi sang Raja memerintahkan mereka untuk berjaga di seluruh daratan Tengah (Tiongkok). Semenjak saat itulah seiring berjalannya waktu, terlebih saat era kekacauan melanda kembali, muncul para pendekar hebat dari negeri itu. Salah satunya adalah Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding yang bernama asli Huang Taiji Lu.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut merasa sangat terkejut sekali. Mereka tidak pernah menyangka bisa bertemu secara langsung dengan sosok pendekar yang namanya sedang naik daun.
__ADS_1
Siapa yang tidak mengenal Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding?
Siapapun pasti mengenalnya. Sebab hanya ada satu orang Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding di dunia ini.
Permainan pedang dan tombaknya sudah terkenal ke segala penjuru. Walaupun julukannya tanpa tanding, namun bukan berarti dia benar-benar tidak terkalahkan.
Alasan diberi julukan tanpa tanding karena memang sejauh ini, belum ada seorang pun yang dapat bertahan dari jurus pedang dan tombaknya.
Kalaupun ada, mungkin mereka hanya orang-orang yang setara dengan dirinya saja. Jika dibandingkan dengan Shin Shui? Tentu besar kemungkinan Pendekar Halilintar yang akan keluar sebagai pemenangnya.
"Kalian terkejut?" tanyanya kepada semua orang sambil melemparkan senyuman.
"Tentu, sangat terkejut sekali. Tidak disangka aku bisa bertemu dengan tuan yang terhormat," kata wakil kepala tetua.
"Hahaha …" dia tertawa lepas menandakan sedang gembira.
"Jadi selama ini kau membohongiku?" tanya Shin Shui sambil tertawa pula.
"Hahaha, tidak, tidak. Mana berani aku berbohong kepadamu," jawab Pendekar Pedang Tombak sambil tertawa pula.
"Buktinya sekarang? Ah, aku tidak mau lagi menjadi saudara angkatmu," ucap Shin Shui bercanda.
"Terserah. Langit dan bumi telah bersaksi, hahaha …"
Mereka tertawa bersama melupakan beban masalah yang sedang mendera. Arak dituangkan lagi untuk sekedar merayakan kegembiraan ini.
Mereka bersulang. Seorang tetua memanggil murid untuk membawa daging sebagai pelengkap.
Setelah itu, mereka langsung menikmati semua hidangan yang tersedia sebelum bicara ke hal yang lebih serius lagi.
Terkadang dalam hidup, sebuah candaan memang sangat diperlukan untuk sekedar melepas beban berat yang menimpa.
__ADS_1
Karena bercanda, seseorang bisa merasakan masalahnya sedikit berkurang. Karena bercanda pula, seseorang bisa mendapatkan rasa percaya diri dan semangat yang menggelora.