Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pil Kesempurnaan


__ADS_3

Jurus tertinggi milik Huang Taiji sudah dikeluarkan. Langit terasa berguncang hebat. Bumi bergetar dengan keras. Dunia seperti kiamat.


Angin berhembus sangat kencang menerbangkan segala macam yang ada di sana. Puluhan batang pohon tercabut atau juga roboh terkena hempasan angin itu. Tiga pusaran terbentuk menggulung segalanya.


Jurus kali ini adalah jurus Pedang Tombak Meruntuhkan Nirwana paling dahsyat yang pernah dikeluarkan oleh Huang Taiji selama pengembaraannya. Dia menyalurkan kekuatan istimewanya hingga lebih dari tiga bagian.


Empat Ahli dibuat kelabakan setengah mati. Masing-masing jurus pamungkas yang mereka keluarkan seolah tiada artinya sama sekali. Empat jurus mereka seperti hilang lenyap ditelan bumi. Tanpa jejak. Tanpa sisa. Semuanya habis dilibas oleh kemurkaan Huang Taiji.


Gelegarr!!! Duarr!!!


Suara ledakan dahsyat, dentuman nyaring, semuanya terdengar silih berganti tanpa ada hentinya. Mereka tidak kuasa lagi menahan badai amarah yang dikeluarkan oleh Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Pekikan kesakitan mulai terdengar membelah udara. Huang Taiji tidak menghentikan jurus maut miliknya. Dia justru menyerang lebih dan lebih ganas lagi. Pedang Tombak Surga Neraka melancarkan ratusan tebasan dan ratusan tusukan dahsyat ke arah empat lawannya.


Setiap kali serangannya keluar, raungan kematian terdengar sangat menyeramkan. Tubuh orang tua itu terbalut aura putih yang semakin lama semakin pekat. Tanah di sekitarnya berhamburan hancur dibuatnya.


Beberapa saat kemudian, sebuah ledakan paling dahsyat terdengar membelah alam semesta. Keadaan langsung hancur. Empat Ahli terlempar puluhan langkah jauhnya.


Masing-masing dari mereka sudah tewas. Keempatnya tewas secara mengenaskan. Si Ahli Pedang tewas dengan kepala hancur. Si Ahli Racun tewas karena luka dalam yang sangat parah. Darah terus mengucur keluar dari setiap lubang di tubuhnya. Si Ahli Tendangan, kedua kakinya buntung entah ke mana. Darah menggenangi tubuhnya. Dan terakhir, si Ahli Pukul, dia tewas karena dadanya melesak masuk ke dalam.


Kondisi mereka sangat menggiriskan. Hanya dalam beberapa saat, Huang Taiji sudah menyelesaikan pertempuran terakhirnya.


Untungnya sebelum dia mengeluarkan jurus mengerikan itu, Chen Li dan Huan Ni Mo sempat dia lindungi dengan pagar tak kasat mata. Sehingga meskipun jurus yang dahsyat dikeluarkan, kedua orang itu masih tetap terbaring di tempatnya semula.


Langit yang tadi gelap, kini mulai terang lagi. Angin kencang, sekarang sudah kembali normal seperti sedia kala. Hanya saja, keadaan di hutan tersebut sudah berubah total. Ratusan batang pohon roboh. Tanah berhamburan.

__ADS_1


Huang Taiji berjalan mendekati Chen Li dan Huan Ni Mo. Jalannya masih tenang, wajahnya juga sama. Hanya saja, wajah itu masih terlihat dingin dan kaku.


Aura putih dan semua kekuatan aneh yang menyelimuti tubuhnya, kini sudah lenyap tanpa bekas.


Huang Taiji segera membawa kedua orang yang terbaring pingsan itu. Dia langsung pergi ke tempat yang lebih sepi. Hanya beberapa kejap, tubuhnya telah menghilang dari pandangan mata.


Sepeminum teh kemudian, Huang Taiji sudah sampai di depan sebuah goa. Goa itu tampak besar, lumut hijau sudah memenuhi seisi goa. Baik diluar maupun di dalamnya. Di lihat sekilas saja, siapapun sudah tahu bahwa goa itu setidaknya berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun.


Huang Taiji segera masuk ke dalam. Di dalam goa, dia menemukan sebuah altar yang cukup besar. Keadaannya tampak bersih dan tertawat. Terbukti bahwa di sini memang ada penunggunya.


Tetapi orang tua itu sudah tidak peduli. Siapapun penunggunya, jika dia berani mengganggu, maka Huang Taiji akan membunuhnya. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir macam-macam.


Dia segera membaringkan Chen Li dan Huan Ni Mo di altar tersebut.


"Bertahanlah sebentar Li'er, Paman akan menyelamatkanmu," ucapnya lalu membuka pakaian Chen Li.


Kedua telapak tanganya menempel di atas dada bocah kecil tersebut. Energi berwarna putih keluar dari balik kedua telapak tangan dan perlahan memasuki tubuh Chen Li.


Sepuluh menit sudah berlalu, tapi tidak ada yang berubah. Chen Li masih tetap tidak bergerak. Justru nafasnya semakin lemah dan wajahnya bertambah pucat.


Pendekar Pedang Tombak terkejut. Keringat dingin mengucur dari kening dan jatuh ke altar batu itu.


"Ayolah, kau bisa Li'er, kau bisa. Jangan membuat Paman panik," gumam Huang Taiji sambil menggertakkan giginya.


Lima menit, sepuluh menit, masih belum juga ada perubahan. Tepat sekitar mencapai lima belas menit, perubahan mulai terlihat. Wajah pucat Chen Li berangsur-angsur normal. Huang Taiji merasa sangat senang.

__ADS_1


Dia tersenyum hangat lalu kemudian menyalurkan tenaga dalamnya lebih tinggi lagi. Suhu tubuh Chen Li juga mulai membaik, nafasnya mulai teratur normal.


Huang Taiji menghela nafas. Akhirnya, perjuangannya tidak sia-sia.


Tetapi meskipun suhu tubuh, helaan nafas dan wajah Chen Li sudah kembali normal, namun bau busuk di beberapa bagian tubuh yang menghitamnya masih tetap sama.


Meskipun begitu, Pendekar Pedang Tombak tidak terlihat khawatir lagi. Yang dia khawatirkan sebelumnya bukanlah bagian tubuh tersebut, tapi lebih kepada kondisi Chen Li sendiri. Sekarang setelah kondisinya membaik, bukan perkara sulit baginya untuk menyembuhkan bagian tubuh yang menghitam itu.


Huang Taiji segera mengeluarkan sebuah pil berwarna putih transparan. Bau harumnya sangat menenangkan. Pil itu sebesar kelingking anak kecil, sekilas tidak ada yang istimewa.


Tapi bagi mereka yang tahu, siapapun orangnya pasti akan tersentak kaget. Karena pil itu adalah pil yang paling langka dari pil sejenisnya. Namanya Pil Kesempurnaan.


Separah apapun luka seseorang, jika orang itu telah menelan pil tersebut, maka dapat dipastikan bahwa nyawanya akan tertolong. Selama masih bernafas, dia pasti akan selamat.


Segala macam luka, baik itu luka luar maupun luka dalam, pasti akan sembuh seperti sedia kala hanya dalam waktu sepuluh menitan.


Chen Li sudah menelan Pil Kesempurnaan itu, sekarang Huang Taiji membaringkan lagi keponakannya.


Setalah mengobati Chen Li, sekarang dia harus mengobati Huan Ni Mo. Tapi sebelum dia melakukannya, orang tua itu pun menelan beberapa pil dan mempersiapkan beberapa alat pengobatan.


Sebelumnya Wanita Tombak Asmara sudah terluka parah. Sekarang malah ditambah luka yang lebih parah lagi, maka bisa dipastikan bahwa proses penyembuhannya akan lebih berat dan lebih rumit.


Bukan tidak mungkin bahwa Huang Taiji harus mengeluarkan segenap kemampuannya dalam ilmu pengobatan agar dapat menyelamatkan nyawa tokoh wanita itu.


Dua belas jarum emas sudah siap di atas kain putih. Huang Taiji kemudian mengeluarkan aura putihnya sehingga menyelimuti seluruh tubuh.

__ADS_1


Pertama-tama yang dia lakukan adalah menusuk telapak kaki Huan Ni Mo dengan jarum emas tersebut. Enam jarum dia tusukkan. Enam jarum sisanya dia tusuk di beberapa bagian lainnya.


Tujuan orang tua itu adalah mengeluarkan sebagian racun dalam tubuh dan melancarkan jalan darah yang tersumbat.


__ADS_2