
Tetapi apa yang terjadi selanjutnya membuat siapapun tercengang. Termasuk Shin Shui sendiri kaget.
Chen Li yang tadinya sempat ingin mengeluarkan jurus dahsyat kepada semua orang yang berada di hadapannya, bahkan kekuatan dahsyat tersebut sudah di tangan, kini dia menurunkan tanganya kembali.
Kekuatan dahsyat yang sudah terkumpul sebelumnya, kini sirna entah kemana.
Tangan Chen Li membalas genggaman tangan Eng Kiam. Tatapan mata yang tadinya menggambarkan penuh amarah, kini perlahan mulai tenang. Tatapan mata itu seperti bunga yang baru disiram api, mendadak layu lalu tak lama mulai terpejam.
Kekuatan dahsyat di tubuh Chen Li perlahan mulai lenyap. Semakin berjalannya waktu, tubuhnya kembali seperti semua. Aura mengerikan yang terpancar keluar mulai menghilang.
Mata yang menyeramkan juga sudah tertutup kembali.
Eng Kiam masih menggenggam tangan Chen Li. Bahkan semakin erat. Dia masih menangis tersedu-sedu melihat kondisi Chen Li yang baginya mengkhawatirkan.
Setelah beberapa saat kemudian, Chen Li terkulai lemas. Tubuhnya kelelahan akibat Mata Dewa miliknya keluar.
Eng Kiam langsung membawa bocah itu ke para tetua dan yang lainnya.
Para tetua yang kondisinya sudah membaik, segera menghampiri Chen Li dan menyalurkan tenaga dalam untuk memulihkan keadaan bocah istimewa itu.
Chen Li di dudukan dengan posisi bersila. Dua tetua yaitu Yuan Shi dan Lin Zong He segera menyalurkan tenaga dalam kepadanya.
Aura berwarna putih dan hijau keluar dari masing-masing telapak tangan dua tokoh tersebut. Tubuh Chen Li bergetar karena penyaluran tenaga dalam itu mengandung kekuatan besar.
Setelah beberapa waktu kemudian, Yuan Shi dan Lin Zong He menarik kembali tangannya. Kondisi Chen Li semakin membaik. Dia mulai pulih dan kembali seperti sedia kala.
Matanya sudah tetutup rapat. Pakaiannya koyak. Dia sedang duduk bersandar di bawah pohon sambil mencoba menstabilkan nafasnya.
Sementara itu, kondisi para tetua dan murid utama yang selamat pun sama mengenaskan. Hanya beberapa orang saja yang sudah pulih dari luka mereka.
__ADS_1
Yang telah berada dalam kondisi lebih baik adalah mereka para tetua yang terluka dalam tapi tidak terlalu parah. Termasuk Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.
Dia dan empat orang tetuanya sudah mampu untuk menghimpun tenaga dalam kembali. Sehingga mereka membantu para tetua yang masih dalam keadaan buruk.
Sementara itu Shin Shui sendiri hanya bisa telentang rebah di rumput. Sekujur tubuhnya penuh dengan jarum beracun yang berbahaya. Kalau orang yang terkena racun tersebut bukanlah Shin Shui, bisa dipastikan bahwa dia sudah tewas sejak dari tadi mula.
Untung bahwa yang menjadi korban adalah Shin Shui. Sejak masih berada dalam didikan Pendekar Guntur, Lao Yi, Shin Shui sudah diberi bermacam-macam buah langka yang mengandung anti racun.
Sehingga sampai sekarang, Shin Shui kebal terhadap racun. Hanya saja racun yang ada di dalam jarum milik Dewi Iblis ini berbeda, sehingga sedikit banyak berpengaruh juga terhadap tubuhnya. Namun untung bahwa racun itu tidak sampai merenggut nyawanya.
Yuan Shi dan beberapa tetua yang lain saat ini sedang menyalurkan kembali tenaga dalamnya. Satu persatu para tetua yang terluka sudah dia obati.
Walaupun hanya merupakan pengobatan sementara, tapi itu saja sudah sangat berarti. Sehingga kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, sedikit banyak mereka sudah memiliki persiapan kembali.
Malam semakin kelam. Rembulan sudah bergeser ke sebalah barat. Binatang malam kembali bersuara setelah sekian lama mereka menyembunyikan diri dan suaranya.
Angin dingin berhembus lirih mengibarkan jubah para pendekar yang ada di hutan Bukit Awan. Keadaan ini seharusnya berlangsung dengan rasa bahagia.
Dalam hatinya, Shin Shui merasa gagal jadi pemimpin karena dia tidak mampu untuk melindungi nyawa orang-orang terdekatnya.
Tapi siapapun di dunia ini, toh tidak akan bisa menghindarkan diri dari yang namanya kematian. Kematian selalu menghantui setiap yang bernyawa. Kapan dan di mana pun, kematian bisa saja terjadi.
Para tetua dan beberapa murid inti yang selamat mulai kembali ke Sekte Bukit Halilintar. Shin Shui di bawa oleh beberapa tetua. Sedangkan Chen Li mulai bisa berdiri normal. Tapi meskipun begitu, dia belum bisa mengembalikan tenaga seperti sedia kala.
Sehingga mau tidak mau dirinya harus ditemani oleh Eng Kiam.
Satu persatu orang-orang tersebut meninggalkan hutan Bukit Awan. Kini yang ada di sana hanyalah tempat porak-poranda akibat pertarungan dahsyat yang belum lama berlangsung.
Semua orang sudah pergi. Dan hutan di bukit yang dianggap keramat tersebut sudah kosong kembali. Tidak ada lagi manusia seorang pun di sana. Yang ada hanyalah para binatang penunggu hutan.
__ADS_1
Sesampainya di gerbang Sekte Bukit Halilintar, puluha murid utama lainnya segera menyambut kedatangan Kepala Tetua dan tetua mereka.
Semua murid terkejut melihat Shin Shui yang terluka parah. Dengan segera para murid itu membawa Shin Shui masuk ke ruang pengobatan supaya mendapat perawatan.
Awalnya kejadian besar di bukit itu memang tidak ada yang tahu. Tetapi setelah Chen Li bicara, semua orang yang ada di sana segera mempersiapkan diri untuk menghadapi semua kemungkinan terjadi.
Sehingga walaupun langit masih gelap, hampir semua murid berada dalam keadaan terjaga.
Shin Shui dan para tetua serta murid yang terluka sudah berada di dalam ruang pengobatan. Semua tabib yang dimiliki Sekte Bukit Halilintar mulai menangani pasiennya masing-masing.
Sedangkan di ruangan tetua, ada Yuan Shi bersama tetua Sekte Pedang Emas lainnya. Ada juga tiga murid Yashou si Pendekar Belalang Sembah. Chen Li juga ada di sana sambil terus dijaga oleh Eng Kiam.
"Tuan Muda, apakah kau baik-baik saja?" tanya Yiu Jiefang mengkhawatirkan kondisi Chen Li.
"Li'er baik-baik saja. Tetua Yiu jangan khawatir," katanya dengan lembut. Sangat berbeda dengan sebelumnya, di mana bocah itu terlihat kasar dan menyeramkan seperti monster.
"Syukurlah. Lebih baik tuan muda istirahat saja. Biarlah kami yang menjaga keadaan di sini," katanya melanjutkan.
"Terimakasih atas perhatian tetua Yiu. Tetapi sebagai anak dari Kepala Tetua, sedikit banyak aku merasa bertanggungjawab. Walaupun kekuatanku tidak berarti, setidaknya harus tetap hadir di sini," ucap bocah kecil tersebut.
Beberapa tetua tercengang mendengar jawaban Chen Li. Mereka tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa bocah seumuran dia mampu berbicara seperti barusan.
Di mana nada bicaranya terdengar sangat sungguh-sungguh dan mengandung wibawa. Seperti sedikit banyak, sifat Shin Shui turun kepada anak semata wayangnya ini.
Kalau dia sudah berkata, siapa lagi yang mampu membantah?
Tanpa berbicara lebih lanjut, Yiu Jiefang pun akhirnya mengangguk mengiyakan.
Semua orang sedang menunggu hasil dari pengobatan terhadap Shun Shui dan yang lainnya.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi hal yang tak diinginkan lagi," gumam Yuan Shi sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih.