
Yun Mei tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika murid yang merasa tubuhnya lemas mulai berusaha memulihkan diri, wanita itu mengirimkan serangan susulan lagi.
Dewi Pedang menyabetkan pedang pusakanya ke arah si murid. Sebuah sabetan yang keras dan penuh tenaga. Sinar hijau melesat secepat kilat membelah angin. Hanya dalam hitungan detik saja, murid tersebut telah tewas terbelah tubuhnya.
Dua rekan termasuk si tetua Sekte Serigala Putih, terkejut melihat kejadian ini. Mereka tidak menyangka bahwa wanita secantik Yun Mei mampu berbuat kejam seperti itu.
Padahal semua orang tahu bahwa Yun Mei merupakan wanita yang lemah lembut. Bahkan ramah dan terkenal penyayang. Sebagai istri dari pendekar terkuat, dirinya sudah pasti sangat dihormati oleh siapapun.
Bahkan tetua yang saat ini sedang bertarung dengannya, juga menghormati dirinya. Semua orang tahu siapa itu Yun Mei Xiaoruan, juga semua tahu sifat baiknya.
Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana sifat kejamnya. Kekejaman Yun Mei dalam memberi pelajaran kepada manusia iblis, lebih kejam daripada Shin Shui sekalipun. Dan terkait hal ini, hanya segelintir orang saja yang tahu.
Jadi wajar kalau Chen Li mampu bersikap kejam dan dingin ketika menghajar musuh, kemungkinan besar, sifat tersebut merupakan turunan dari ibunya.
Setelah murid tadi tewas, Yun Mei kembali memberikan serangan lagi. Tiga buah serangan jarak jauh segera dia lancarkan dengan ganas.
Dua murid dan seorang tetua berusaha menangkis serangan tersebut. Cambuknya berputar lalu dipecutkan. Sinar berwarna ungu menyambar serangan Yun Mei.
Dua buah jurus kelas atas bertemu di udara, ledakan cukup besar segera terdengar keras. Si tetua terdorong dua langkah ke belakang. Dua orang murid sekte yang bersamanya, terpental melayang tidak bisa menguasai diri.
Yun Mei tidak mau melewati kesempatan emas ini secara sia-sia, dia menjejakkan kakinya ke tanah lalu meluncur deras ke depan menembus kegelapan. Pedang Bunga dia mainkan di tengah udara.
Sebuah permainan pedang yang mengalun indah bagaikan alunan suara seruling. Kecepatannya sulit untu ditangkap mata biasa.
Tanpa sepengetahuan si tetua, mendadak saja dua orang murid sekte itu terhempas ke tanah. Begitu tiba di bawah, nyawanya sudah melayang. Terlihat sebuah luka goresan di bagian leher.
Saking cepatnya serangan yang diberikan, bahkan sampai-sampai darah tidak terlihat keluar.
__ADS_1
Luka semacam ini hanya dapat dilakukan oleh mereka para pendekar kelas atas.
Tetua Sekte Serigala Putih semakin marah. Dia mulai tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
Cambuk sakti yang dia pegang mulai menebarkan kekuatan hebat. Cambuk itu dipecutkan ke depan menyerang ke arah Yun Mei. Hujan serangan jarak jauh dari sebatang cambuk, mulai menggempur.
Tetapi Yun Mei bukan anak kemarin sore. Dengan manisnya dia menangkis semua serangan tersebut. Tubuhnya menari dengan anggun. Kakinya melangkah setapak demi setapak mengikuti irama gerakan tangan.
Puluhan jurus sudah dia lalui dalam pertarungan ini. Mencapai jurus kesembilan puluh, Pedang Bunga berubah gerakannya.
"Tarian Bunga Sakura …"
Yun Mei mengeluarkan jurus mautnya. Sebuah permainan pedang tingkat tinggi yang jarang diperlihatkan dalam pertarungan, kini telah dikeluarkan. Pedang Bunga nampak lenyap dari pandangan.
Yang terlihat hanyalah sinar merah muda berkelebat menyambar ke segala arah. Tubuh wanita itu lenyap karena terbungkus banyaknya sinar pedang. Suara bergemuruh mewarnai pertarungannya.
Mencapai jurus keseratus lima, sebuah tusukan maha cepat dan tepat sasaran, dengan tepat menembus jantung si tetua.
Pertarungan para tetua lainnya berjalan semakin sengit. Masing-masing pihak berusaha untuk menumbangkan lawannya secepat yang mereka bisa.
Sayangnya, hal tersebut bukanlah perkara mudah. Apalagi kebanyakan para tetua ini mempunyai kekuatan yang seimbang. Dengan kekuatan sama dan pengalaman yang sama juga, maka sulit untuk menentukan siapa pemenangnya.
Benturan tenaga dalam ataupun senjata, mewarnai setiap pertarungan yang ada di sana. Teriakan dari mulut masing-masing pihak bergema seiring serangan yang diberikan.
Benturan pedang, tombak, dan senjata lainnya, terlihat indah karena mengeluarkan percikan api yang membumbung tinggi. Sayangnya, di balik keindahan itu ada hal yang sangat mengerikan.
Para pendekar yang tadi diselamatkan oleh Shin Shui, bertarung dengan lawan yang jumlahnya lebih banyak daripada mereka. Di sebelah kanan, terlihat dua pendekar sedang berusaha semaksimal mungkin.
__ADS_1
Posisi mereka berada dalam keadaan terdesak. Melawan enam murid Pendekar Surgawi tahap tujuh akhir, ternyata bukan perkara mudah bagi keduanya. Apalagi kedua pendekar tersebut hanya merupakan Pendekar Dewa tahap satu akhir.
Walaupun kekuatan mereka unggul, tetapi jika diserang serempak dari segala sisi, maka hasilnya akan berbeda. Hujan serangan terus diberikan oleh para murid.
Kerja sama para murid itu memang patut di acungi jempol. Kekuatan serangan dan pertahanan yang tercipta, sungguh membuat dua pendekar kewalahan.
Menjelang pertarungan akhir, dua pendekar tersebut tidak dapat lagi mempertahankan dirinya. Dua buah tusukan dan sabetan pedang bersarang di tubuh keduanya.
Mereka ambruk bersimbah darah. Entah sudah tewas atau masih hidup, yang jelas, kondisi mereka benar-benar parah dan mengkhawatirkan.
Semakin larut malam, pertempuran di hutan Sekte Serigala Putih ini semakin menegangkan. Puluhan nyawa murid sekte telah melayang. Darah membanjiri keadaan sekitar.
Udara menjadi tidak karuan. Bau amis darah mulai tercium oleh orang-orang yang ada di sana. Setiap saat, selalu saja ada jeritan kematian yang terdengar.
Di sisi lain, sepak terjang bocah bernama Chen Li, mampu menggetarkan nyali para murid. Walaupun lawan dia hanya merupakan murid Pendekar Bumi atau Pendekar Langit, namun jumlahnya lebih banyak dua atau bahkan tiga kali lipat.
Tetapi, sekalipun dia melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak, Chen Li tidak merasa takut sama sekali. Justru dia malah bertambah semangat dalam pertarungan ini.
Bagi Chen Li, pertarungan adalah sesuatu yang menyenangkan dan membawa arti penting tersendiri baginya. Menurut pemikiran bocah kecil itu, setiap manusia memang diwajibkan untuk bertarung.
Setiap saat, manusia harus bertarung. Bertarung dengan rasa malas, bertarung dengan amarahnya sendiri, atau bertarung dengan kerasnya dunia serta pertarungan-pertarungan lainnya.
Kalau hidup hanya menjadi orang lemah, baginya lebih baik jangan hidup. Karena orang-orang hidup adalah mereka yang kuat untuk melakukan pertarungan kapan pun dan di mana pun.
Bagi Chen Li, kehidupan ini sangat keras. Dan hukum rimba baginya masih berlaku. Yang kuat akan hidup, yang lemah akan tewas. Yang mau berusaha dapat menikmati hasilnya, yang malas akan menikmati kemalasannya.
Jadi, mau menjadi petarung atau menjadi orang lemah? Mau berusaha atau mau menjadi orang malas? Semuanya kembali kepada diri sendiri.
__ADS_1
Saat ini Chen Li sedang berlari. Lari di antara kepungan puluhan murid Sekte Serigala Putih. pedang Awan dan seruling giok hijau sudah menebarkan ancaman maut.
Di tengah sinar berbagai macam senjata musuh, seorang bocah kecil nekad menceburkan dirinya untuk meraih sebuah kemenangan.