
"Cerita sebenarnya panjang, tapi kami akan menceritakan secara singkat saja. Tetapi sebelumnya, siapakah nama Tuan yang terhormat ini?" tanya Gok Sio kepada Huang Taiji.
"Aii, sungguh tidak sopan sekali. Maaf, maaf, namaku Huang Taiji," jawabnya tetap sambil tersenyum.
Gok Sio, Oh Li dan An Hui sangat terkejut. Mereka tahu siapa pemilik nama itu. Meskipun belum pernah berjumpa sebelumnya, namun siapapun bakal tahu.
Selain Huang Taiji si Pendekar Tombak Tanpa Tanding yang namanya menggetarkan dunia persilatan, memangnya masih ada orang dengan nama seperti itu juga?
"Aih, sungguh beruntung, sungguh beruntung. Tidak diduga kami bisa bertemu dengan Tuan Huang yang tersohor itu. Ternyata Dewa benar-benar mengulurkan tangannya," kata An Hui sangat bahagia.
Gok Sio dan Oh Li juga merasakan hal yang sama. Setiap orang-orang dunia persilatan, pasti mempunyai harapan untuk bisa bertemu dengan salah satu tokoh besar. Apalagi seperti Huang Taiji.
Siapapun orangnya pasti ingin bertemu dengan Huang Taiji. Seperti juga mereka bertiga.
Di dunia ini, selain bisa bertemu dengan orang yang kau harapkan, adakah sesuatu yang lebih bahagia dari pada hal Ini?
Huang Taiji hanya tersenyum simpul yang membawa perasaan hangat dan bersahabat. Dia sudah tidak aneh lagi mendengar ucapan seperti itu. Di saat ada ucapan yang sama, saat itu juga dia akan selalu memberikan respon yang sama.
"Apakah Tuan An Hui bisa melanjutkan ceritanya?" tanya Huang Taiji mengalihkan pembicaraan pembicaraan.
An Hui seperti baru tersadar dari mimpi indahnya. Dia gelagapan untuk sesaat.
"Aihh, maaf Tuan Huang, maaf. Aku lupa, saking bahagianya aku jadi lupa untuk melanjutkan ceritanya," jawabnya sambil tertawa.
"Jadi alasan kami turun tangan karena kelakukan si Tuan muda tadi sudah kelewat batas. Dia bersama puluhan anak buahnya menyerang desa kami masing-masing. Siapapun yang tidak menuruti permintaannya, maka mereka pasti akan membunuh orang itu dengan segera. Terlepas itu anak kecil ataupun orang tua, pria ataupun ataupun wanita,"
Huang Taiji, Chen Li dan Huan Ni Mo kaget. Ternyata si Tuan muda yang masih sangat bocah itu, mempunyai kekejaman yang sulit untuk dibayangkan.
__ADS_1
Meskipun Chen Li juga terkadang kejam, namun saat dia mendengar cerita An Hui barusan, tanpa terasa bulu kuduknya berdiri juga.
"Tunggu, memangnya apa alasan dia menyerang desa-desa kalian? Dan juga apa yang sebenarnya dia inginkan?"
Di balik setiap perbuatan, sudah pasti mengandung sebuah tujuan. Mustahil seseorang berbuat tanpa ada tujuan.
"Mereka menyerang desa karena kami tidak mau tunduk kepadanya. Mereka membunuh para warga karena tidak mau menuruti berbagai macam permintaan lainnya," jawab Gok Sio menyela.
"Benar-benar tidak punya nurani. Hal seperti ini sama sekali bukan sifat para pendekar sejati. Apakah kalian tahu siapa si Tuan muda itu dan bagaimana latar belakangnya?" tanya Huang Taiji semakin merasa penasaran dan tertarik untuk tahu lebih jauh lagi.
Ditanya seperti demikian, An Hui, Gok Sui dan Oh Li, merasa kebingungan yang sama. Ucapan Huang Taiji barusan seperti telah menyadarkan ketiga guru silat tersebut.
Pasalnya karena sampai detik ini, tidak ada seorang pun yang tahu secara pasti siapa si Tuan muda tersebut. Orang-orang itu hanya tahu bahwa si Tuan muda menyerang desanya bersama puluhan anak buah yang dia bawa.
Hanya itu saja yang mereka tahu. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Aii, aku baru sadar sekarang. Hingga saat ini, kami sama sekali belum mengetahui siapa dia sebenarnya," keluh An Hui dengan raut wajah murung.
"Hemm, siapapun dia, yang jelas si Tuan muda pasti mempunyai latar belakang yang tidak biasa. Apalagi jika dia sampai membawa puluhan orang bersamanya," kata Huang Taiji.
"Benar. Kami juga beranggapan sama seperti Tuan Huang," jawab si Gok Sui.
Tanpa terasa, ayam yang sedang mereka bakar telah matang. Huan Ni Mo bertugas untuk mengurusnya. Mereka melanjutkan pembicaraan itu sambil menyantap ayam bakar hasil buruan tersebut.
"Ke mana tujuan kalian selanjutnya?" tanya Huang Taiji.
"Entahlah, mungkin kami akan segera kembali ke desa masing-masing. Kami takut mereka datang lagi dan membuat onar di sana," jawab Oh Li yang sedari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
Menurut pemikiran dia dan rekannya, si Tuan muda bersama orang-orangnya pasti akan kembali lagi ke sana. Apalagi mereka baru saja berlaku nekad. Sudah pasti kemarahan yang tidak sempat terlampiaskan itu, akan dilimpahkan ke warga desa mereka masing-masing.
"Apakah desa kalian jauh?"
"Tidak terlalu jauh jika dari sini. Paling-paling hanya memerlukan waktu sekitar setengah hari untuk tiba ke sana," kata An Hui.
"Baiklah jika memang begitu. Maafkan karena aku tidak bisa mengantar kalian ke sana. Masih banyak urusan lain yang harus aku selesaikan dengan segera. Aku hanya bisa memberikan ini saja, barangkali bisa membantu desa kalian masing-masing," ujar Huang Taiji sambil memberikan satu Cincin Ruang kepada An Hui.
An Hui tidak mau menerima Cincin Ruang tersebut. Bukan karena tidak butuh, tetapi karena dirinya merasa sangat sungkan dan tidak enak kepada Huang Taiji.
"Maafkan aku Tuan Huang. Aku tetap tidak bisa menerimanya, budi baikmu karena menyelamatkan kami saja sudah tidak bisa dibayar. Apalagi jika ditambah dengan Cincin Ruang Ini," kata An Hui berniat menolak pemberian Huang Taiji dengan halus.
Huang Taiji tersenyum lembut mendengar jawaban An Hui. "Tuan An, kalau kau tidak mau menerima pemberianku ini, berarti kau tidak menghargai dan tidak menganggapku sebagai sahabat. Kau jangan bingung memikirkan bagaimana membalas budi, lagi pula aku tidak membutuhkan balasan itu. Kalau aku memutuskan untuk membantu, maka aku hanya memutuskan sampai situ saja. Tidak ada harapan agar perbuatanku bisa dibalas di kemudian hari. Aku membantu sesama hanya karena rasa kemanusiaan saja,"
"Tapi Tuan Huang …"
"Terimalah Cincin Ruang ini. Isinya memang tidak banyak, tapi mungkin cukup untuk membantu desa kalian kembali,"
An Hui tidak mampu menolak lagi. Dia tahu, jika sekarang menolak kembali pemberian Huang Taiji, maka hal itu sama saja melukai hatinya. Dan dia adalah tipe orang yang tidak mau melukai hati sahabatnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, demi persahabatan yang baru ini, aku mau menerima pemberianmu. Aku harap suatu saat nanti bisa memberikan bantuan kepadamu," ujar An Hui penuh haru.
"Terimakasih,"
An Hui dan dua orang rekannya segera bersiap-siap kembali. Mereka akan pulang ke desa masing-masing sekarang juga.
Huang Taiji, Huan Ni Mo dan Chen Li mengantarkan kepergian tiga guru silat itu hingga ke mulut goa.
__ADS_1
"Sampai berjumpa lagi," ucap Gok Sui sambil melambaikan tangannya.
Mereka segera melesat pergi dari sana. Beberapa saat kemudian, tiga bayangan manusia itu sudah tidak terlihat lagi.