Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Membantu Sesama


__ADS_3

Tanpa terasa, Shin Shui dan yang lainnya minum arak sampai fajar mulai menyingsing. Mereka terus berpesta sambil bercanda bersama teman barunya. Walaupun keduanya berada di jalan bersebrangan, tapi toh tidak menjadi masalah.


Bahkan Shin Shui sendiri percaya kepada mereka. Terlebih lagi dia bisa melihat ketulusan orang-orang tersebut kepadanya.


Saat terang tanah, Shin Shui memutuskan untuk segera pergi dari sana. Dia tidak enak kalau harus selalu merepotkan orang lain.


"Mengapa tidak menginap saja barang semalam pahlawan?" tanya Hwe Koan kepada Shin Shui.


"Terimakasih Kepala Tetua Hwe. Tetapi aku masih banya urusan yang harus segera di selesaikan. Semoga saja suatu hari nanti kita bisa minum arak bersama lagi," kara Shin Shui sambil tersenyum.


"Ah, baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa memaksa lagi. Tapi kalau pahlawan menemui persoalan, beritahukan kami. Kami pasti akan mengulurkan tangan untuk membantu," ucap Hwe Koan sungguh-sungguh.


"Baik, baik. Terimakasih sebelumnya. Kalau begitu, kami pamit pergi dulu," ujar Shin Shui lalu mengajak Chen Li pergi dari saja.


Hwe Koan dan yang lainnya memang tidak mengantarkan ayah serta anak itu. Lagi pula Shin Shui tahu bahwa mereka sedang ada persoalan lain terkait sektenya. Jadi Shin Shui semakin sangsi.


"Ayah, ke mana kita akan pergi sekarang?" tanya Chen Li bersemangat.


"Kita akan mencari penginapan. Ayah ngantuk sekali," katanya sambil menguap.


"Kalau masih mengantuk kenapa kita harus pergi? Lebih baik kita tidur saja di sana tadi," Chen Li menggerutu karena sikap ayahnya itu.


"Anak bodoh. Kalau kita masih mampu untuk membayar biaya penginapan, maka lebih baik tidak usah merepotkan orang lain. Suatu saat nanti jika kau bepergian sendiri, kau pun jangan terlalu merepotkan orang lain jika tidak terpaksa. Mengerti?"


"Li'er mengerti," jawabnya tertunduk.


"Bagus. Pintar juga kau, hahaha …" Shin Shui tertawa melihat anaknya yang murung karena sempat dia bentak.


"Cihh, dasar," ejeknya.


Setelah beberapa saat berjalan, kini keduanya mulai memasuki kota lagi. Kota ini masih satu daerah dengan kota sebelumnya. Hanya saja Shin Shui memang memilih kota lain.


Mereka segera mencari restoran sekaligus penginapan.


Setelah mendapatkan tempat yang mewah dan cocok, keduanya segera masuk ke sana.


"Antarkan aku ke kamar lebih dulu," ucap Shin Shui kepada seorang pelayan.


Pelayan itu mengangguk mengerti. "Silahkan tuan," katanya.

__ADS_1


"Siapkan makanan terenak. Sebentar lagi kami akan turun. Nah, ini untukmu," ucapnya sambil memberikan satu keping emas.


Pelayan tersebut tampak senang sekali. Bagi orang sepertinya, satu keping emas itu banyak sekali. Bahkan bisa dipakai untuk membeli apa saja.


Si pelayan telah keluar. Di kamar tersebut hanya ada Shin Shui dan Chen Li.


"Ayah, kenapa kau memberikannya emas? Kenapa bukan perak saja?" tanya bocah itu penasaran.


"Li'er, dalam hidup kalau kau punya rezeki lebih, berilah sesamamu. Karena apa yang kau berikan sekarang, suatu saat akan tergantikan dengan sesuatu yang tidak kau duga. Bahkan kau bisa merasa bahagia jika membantu orang lain. Bantu mereka yang kesulitan, walaupun itu kecil, bagi kita mungkin kurang berarti. Tapi bagi mereka yang membutuhkan, satu keping emas itu sangat berarti. Dan ini menyangkut segalanya, bukan hanya kepingan emas saja." kata Shin Shui memberikan nasihat kepada anaknya.


"Jadi kita harus berbagi sesama manusia?"


"Bukan manusia saja. Kalau ada binatang yang memang membutuhkan pertolonganmu pun, kau harus membantunya,"


"Bagaimana kalau dia malah menyerangku?"


"Selama kau tulus menolongnya, maka mereka akan mengerti. Paham?"


"Paham,"


Chen Li manggut-manggut dan dia mencatat semua yang dikatakan ayahnya di dalam hati. Setelah berganti pakaian untuk penyamaran seperti sebelumnya, mereka segera kembali ke bawah untuk sarapan.


Dua hidangan yang masih hangat sudah tersedia di meja yang sudah disiapkan. Tanpa menunggu lama, mereka segera makan dengan lahap. Setelah makan, Chen Li meminta izin kepada Shin Shui untuk jalan-jalan keluar.


"Li'er paham,"


Setelah berkata demikian, bocah itu segera pergi keluar dengan hati gembira. Walaupun dia terkesan kejam saat melakukan pertarungan, tetapi kalau seperti ini, dia tentu masih sama seperti bocah kecil yang gemar bermain.


Dia berjalan di tengah kerumunan orang berlalu-lalang. Di kanan kiri terdapat banyak sekali pedagang. Baik itu makanan ataupun pedagang lainnya.


Ketika sedang berjalan, dia melihat seorang anak perempuan yang menangis karena ibunya tidak mengizinkan untuk membeli sebuah gulali.


"Ibu lagi tidak memegang uang nak. Nanti saja kalau ada uang, ibu akan belikan gulali yang besar untukmu ya," kata ibunya mencoba menghibur anak itu.


Si anak hanya mengangguk saja. Tapi dia masih tetap menangis. Usianya paling beda satu atau dua tahun dengan Chen Li.


Karena ayahnya baru menasehati, Chen Li segera teringat. Dia langsung berlari ke tukang gulali dan membelinya lima buah dengan ukuran besar.


"Adik kecil, ini untukmu," katanya sambil memberikan lima gulali itu.

__ADS_1


"Kakak siapa?" tanyanya.


"Namaku Chen Li. Kau tadi ingin gulali kan? Nah ini aku belikan. Ambillah," ucapnya tersenyum.


"Ini untukku?"


"Tentu. Kau ambil semuanya. Sudah, jangan menangis lagi. Kasihan ibumu,"


Gadis kecil itu mengangguk lalu tersenyum. Kemudian dia memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Si ibu bingung kenapa ada seorang anak kecil yang begitu baik. Tetapi Chen Li segera menjelaskannya sambil memberikan dua keping emas.


Tentu saja si ibu itu merasa terharu. Bahkan dia merasa sangat berterimakasih sekali.


Setelah itu, Chen Li berjalan kembali. Dia menikmati semua ini. Kalau ada yang kesusahan atau ada anak kecil menangis lagi, dia akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


Benar kata ayahnya, jika dia membantu orang yang membutuhkan, hatinya terasa bahagia.


Tetapi, hal tersebut ternyata menjadi bahan perhatian beberapa orang. Sekitar jarak sepuluh tombak di belakang, lima orang berwajah garang memperhatikan Chen Li sedari tadi. Bahkan diam-diam mereka mengikutinya.


Kelima orang itu berpikir bahwa Chen Li hanya seorang anak kecil biasa. Sebab dia tidak terlihat membawa senjata tajam kecuali sebatang seruling giok hijau yang diselipkan di pinggangnya.


Li Kecil berjalan menuju sebuah danau yang luas dan indah. Suasana di sana lumayan ramai karena banyaknya pengunjung. Dia duduk di sebuah batu berukuran sedang di bawah pohon.


Seruling giok sudah dicabut. Dia berniat untuk meniup seruling kesayangannya itu. Tetapi sebelum seruling menempel di mulutnya, tiba-tiba saja kelima orang tadi mengurung bocah itu.


"Hehehe, adik kecil. Sedang apa kau sendirian di sini?" tanya salah seorang bermuka agak buruk karena wajahnya penuh dengan luka-luka.


"Siapa kalian?" tanya Chen Li.


"Hehe, siapa saja boleh,"


"Mau apa kalian mengangguku?"


"Kami tidak mengganggu. Kami hanya ingin kepingan emasmu itu," kata salah seorang sambil menunjuk ke kantong hitam.


"Hemm, baiklah. Ini aku berikan untuk kalian. Masing-masing satu keping emas," katanya lalu benar-benar memberikan satu keping emas kepada setiap orang itu.


"Nah sudah, pergilah!"


"Kalau segini kurang adik kecil. Kami ingin semuanya," ucap si muka penuh luka.

__ADS_1


Dasar manusia, sudah dikasih malah mencari masalah. Tentu saja Chen Li menjadi marah dibuatnya.


"Pergi sebelum aku hilang kesabaran," katanya dengan nada dingin.


__ADS_2