
Tak tanggung-tanggung, Pendekar Halilintar berniat untuk menyerang lima belas lawan termasuk pemimpinnya sekaligus.
Gerakannya secepat kilat. Sabetan pedangnya sungguh membuat jantung berdetak tidak karuan. Saking cepatnya sehingga tidak nampak batang pedang.
Yang terlihat hanyalah sinar biru terang berkelebat ke segala arah. Yang terasa hanyalah desiran angin tajam dan kekuatan yang menekan sehingga mampu membuat ciut nyali lawan.
Kelima belas pendekar asing melalukan perlawanan sebisa mungkin. Penyerangan kerja sama langsung mereka perlihatkan.
Lima belas batang senjata menyerang dari segala sisi dengan gerakan tertentu. Sepertinya ini adalah jurus kerja sama mereka.
Terlihat dari para pendekar itu yang menyerang dan bertahan silih berganti.
Udara terasa pecah. Tanah retak akibat benturan tenaga dahsyat yang terjadi di markas Tujuh Perampok Berhati Emas itu.
Lima puluh jurus berlalu. Shin Shui sudah tidak mau bermain-main lagi. Kekesalan sudah mendobrak amarahnya untuk mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.
Aura biru terang segera keluar menyelimuti seluruh tubuh Pendekar Halilintar. Pedang pusakanya menyala terang membuat seisi hutan gemilang.
Dia menjejak tanah lagi. Kakinya menerjang ke semua lawan. Pedang Halilintar disabetkan sekuat mungkin mengirimkan serangan hebat.
Kecepatan Shin Shui sulit untuk diikuti mata. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, tiga lawan roboh ke tanah.
Ketiga korbannya tidak tahu apa yang terjadi. Mereka hanya melihat sekelebat sinar biru mengarah kepadanya. Detik selanjutnya, ada benda dingin yang menempel ke kening mereka masing-masing.
Sesaat kemudian, ketiganya sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Karena pada saat itu, mereka langsung roboh ke tanah dengan darah yang perlahan mulai keluar dari keningnya masing-masing.
Dua belas lawan yang tersisa terkesima. Untuk beberapa saat mereka lupa akan pertarungan hidup mati yang sedang berlangsung di depan matanya.
Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan bagi Shin Shui. Dia melesat kembali ke arah lawan yang kehilangan konsentrasinya. Pedang Halilintar segera menebarkan maut.
Cahaya biru terang memanjang terlihat tiga kali bertebaran.
Detik berikutnya, tiga lawan telah roboh kembali. Mereka tewas menyusul tiga rekan sebelumnya.
Luka yang sama. Perasaan yang sama.
Ketiga anggota tersebut tidak tahu kapan Pendekar Halilintar bergerak. Yang mereka tahu hanyalah pedang di tangannya bergetar. Yang dia tahu hanya melihat sinar biru menusuk tenggorokannya.
Hanya satu kedip mata, jumlah lawan kembali berkurang.
Sepak terjang Shin Shui bagaikan seekor naga yang sedang terluka. Dia menari di angkasa sambil mengibaskan ekor. Menebarkan maut kepada manusia yang berani mencari masalah dan mengganggu kedamaiannya.
__ADS_1
Kini lawan yang tersisa hanyalah sembilang orang saja, termasuk pemimpin mereka. Sementara itu Pendekar Halilintar tidak mau berhenti begitu saja.
Bagaimanapun juga, dia tidak akan membiarkan lawan berhasil melarikan diri dari cengkramannya.
Pertarungan berlanjut kembali. Berbagai macam sinar terlihat menawan di tengah gelapnya hutan. Namun di balik sesuatu yang menawan tersebut, ada satu kejadian yang siapapun tidak ingin melihatnya.
Amarah Pendekar Halilintar.
Siapapun dia, tentu tidak ingin melihat bagaimana marahnya Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu.
Sebab kalau sampai dia marah, takkan ada yang berhasil melarikan diri. Jangankan menyelamatkan nyawa, berusaha menghindar pun rasanya tidak mungkin.
Sinar biru terang kembali menyeruak. Dua teriakan memilukan terdengar lagi.
Dua lawan kembali roboh.
Pedang Halilintar telah basah oleh darah lawan.
Hanya dalam waktu yang bisa dibilang singkat, delapan nyawa telah dicabut oleh Pendekar Halilintar. Sekarang tinggal tujuh nyawa lagi yang masih menempel di raga.
Tujuh Perampok Berhati Emas tidak ada yang berani bergerak ataupun membantu Shin Shui. Bukan mereka tidak mau. Apalagi karena tidak bisa bela diri.
Bukan perkara sulit bagi mereka untuk merobohkan lawan dan membantu Shin Shui.
Mereka tidak berani turun tangan membantu karena takut menyinggung perasaan Shin Shui. Para pendekar yang sudah berada di kelas atas, biasanya mereka akan merasa segan meminta bantuan karena keadaannya sudah berbeda lagi.
Apa jadinya jika seorang pendekar seperti Shin Shui meminta bantuan kepada orang lain?
Apalagi kalau hanya menghadapi perusuh kecil seperti ini. Ada dua puluh orang lain sekalipun, dia berani menghajar semuanya.
"Hanya segini saja kemampuan kalian? Sungguh memalukan sekali," ejek Shin Shui kepada orang-orang itu.
Mereka tidak ada yang menjawab. Lagi pula, apa yang harus mereka jawab? Perkataan Shin Shui ada benarnya.
Ternyata kekuatan mereka masih belum cukup untuk membunuh Pendekar Halilintar. Walaupun sempat membuatnya beberapa saat kerepotan, tapi toh semua itu tidak berarti baginya.
Setiap serangan lawan, baik jarak dekat maupun jarak jauh, dapat dimentahkan dengan mudah oleh Pendekar Halilintar.
"Baiklah, kalau tidak ada lagi kekuatan yang bisa memuaskanku, biarkan aku mengakhiri pertarungan membosankan ini," kata Shin Shui dengan sorot mata yang tajam.
Selesai berkata, kekuatan besar segera merembes keluar dari tubuhnya. Tanah tempatnya berpijak amblas beberapa senti, retakan tanah memanjang mulai terlihat.
__ADS_1
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"Tornado Halilintar …"
"Wushh …"
Dua jurus dahsyat yang berbeda sudah digelar. Kalau seperti ini, maka kematian tidak akan lama lagi menjemput lawannya.
Shin Shui melesat kembali. Pedang Halilintar langsung melancarkan serangan ganas. Kilatan petir terlihat agung dan menyeramkan.
Tiga pusaran tornado halilintar ciptaan Shin Shui sudah menerjang lawan.
Pedang Halilintar dan tornado halilintar berlomba untuk mencabut nyawa para pendekar asing tersebut.
Mereka ingin melawan sekuat tenaga, sayangnya sudah terlambat.
Sebab Pedang Halilintar sudah kembali memperlihatkan taringnya. Hanya sepuluh gebrakan, dua lawan roboh. Di susul juga oleh dua nyawa melayang akibat tornado halilintar.
Shin Shui menggeser tempat bertarungnya sambil membwa pemimpin dari rombongan tersebut. Sedangkan tornado halilintar buatannya, saat ini sedang menerjang dua lawan tersisa.
Sementara itu si pemimpin rombongan telah mengeluarkan jurus hebat yang dia kuasai. Sebuah sinar hitam pekat menyelimuti pertarungannya melawan Shin Shui.
Pertarungan hebat terjadi. Benturan keras antar jurus masing-masing mulai terdengar.
Suara ledakan keras menyebabkan beberapa pohon roboh karena tidak sanggup menahan gelombang kejut.
Lawan Shin Shui kali ini hanya merupakan Pendekar Dewa tahap tiga. Itu artinya, tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pertarungan.
Dan hal tersebut dia buktikan sekarang. Mencapai jurus ketiga puluh dua, Pedang Halilintar berhasil bersarang di tenggorokan si pemimpin.
Tusukan yang tepat sekali.
Darah segera mengucur membasahi seluruh bagian batang pedang.
Saat Pedang Halilintar dicabut, saat itu pula si pemimpin rombongan pendekar asing roboh ke tanah tanpa nyawa.
Mati.
Sesaat sebelum tewasnya si pemimpin, tornado halilintar ciptaan Shin Shui juga telah berhasil menewaskan dua pendekar yang tersisa.
Pertarungan selesai. Lima belas mayat bergelimang dengan kondisi mengenaskan. Mereka menjadi korban keganasan Pendekar Halilintar.
__ADS_1