Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Keinginan Delapan Belas Orang Bercadar Hitam


__ADS_3

Hanya dalam waktu yang terbilang singkat, dua orang Pendekar Surgawi tahap empat telah tewas di tangan seorang bocah bernama Chen Li.


Delapan belas orang sisanya mulai merasa takut. Bagaimanapun juga, mereka masih ingin hidup untuk waktu yang lebih lama lagi.


Delapan belas orang tersebut sebenarnya ingin melarikan diri. Sayangnya mereka tidak berani melakukan hal itu. Lari atau tidak lari, mereka akan mati. Jika mati di tangan seorang pendekar belia yang amat berbakat lebih terhormat, kenapa tidak mau melakukannya?


Setidaknya tewas di ujung pedang lawan lebih baik daripada tewas di tangan pemimpin sendiri. Apalagi jika tanpa perlawanan sedikitpun.


Walaupun mereka hanya merupakan Pendekar Surgawi, tetapi tetap saja orang-orang tersebut adalah pendekar.


Sebagai seorang sungai telaga, siapapun pasti paham tentang filosofi tewas di ujung senjata lawan lebih terhormat daripada tewas di atas ranjang.


Delapan belas orang yang tersisa masih terpaku membayangkan kejadian yang baru saja terjadi di depan mata. Mereka tidak bisa membayangkan, bagaimana bocah itu dapat melakukannya?


"Jika di antara kalian ada yang sudah bosan hidup, silahkan maju," kata Chen Li dingin.


Sifat misteriusnya mulai muncul ke permukaan. Tatapan matanya lebih tajam daripada ujung mata pisau.


"Setelah kami berpikir, rasanya lebih baik mati di tangan Pendekar Tanpa Perasaan daripada mati di tangan pemimpin sendiri. Setidaknya kami masih bisa melakukan perlawanan sekuat tenaga," kata seseorang mewakili yang lainnya.


Chen Li yang dijuluki si bocah Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum. Walaupun senyumannya sangat dingin, namun di balik senyuman tersebut ada sebuah rasa kagum dalam hatinya.


"Bagus. Aku senang mendengar ucapan kalian. Tentunya sudah pasti lebih baik tewas di ujung senjataku dari pada tewas di tangan majikan kalian," kata Chen Li sambil tersenyum tanpa henti.


"Oleh karena itulah, tolong perlihatkan kepada kami jurus hebat yang kau miliki agar kami mati dengan tenang," ujar seorang lainnya.


"Baik. Aku akan memperlihatkannya kepada kalian. Bersiaplah!!" teriak Chen Li.


Tubuhnya langsung melesat ke depan saat itu juga.


"Pedang Hitam Kematian …"


Wushh!!!


Jurus terakhir dari Kitab Pedang Hitam sudah keluar. Meskipun Pendekar Tanpa Perasaan belum menguasai secara sempurna jurus tersebut, namun dia cukup yakin jika digunakan untuk membunuh seperti delapan belas orang itu, dia yakin akan menang.

__ADS_1


Sangat yakin sekali.


Sinar hitam berkelebat sangat cepat. Desingan angin tajam terdengar jelas di telinga setiap orang yang ada di sana. Pedang hitam itu membelah malam yang amat kelam.


Membawa kekuatan dahsyat. Membawa kekuatan hebat. Dan tentunya membawa kabar kematian.


Karena gerakannya sangat cepat sekali, delapan belas orang itu tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tahu-tahu tiga rekannya tewas cukup mengenaskan.


Pedang Hitam tidak berhenti. Setiap detik, setiap saat, dia pasti kembali lagi dan menebarkan kematian kepada semua musuhnya. Sekali pedang dicabut keluar, pantang disarungkan jika tidak menelan darah lebih dulu.


Pedang ini mungkin paling murah dan paling biasa saja di antara senjata pusaka tiga sahabatnya. Namun siapa sangka, di balik biasa saja itu, justru terdapat sesuatu yang sangat luar biasa.


Pedang yang bagi orang pembawa kutukan karena sudah terlalu banyak menelan korban, justru bagi Chen Li adalah sebaliknya.


Pedang itu membawa semacam keberuntungan. Saat Pendekar Tanpa Perasaan menggunakan pedang itu, senjata pusaka tersebut selalu memancarkan asap hitam. Asap hitam yang sangat pekat dan membawa kabar dari Malaikat Pencabut Nyawa.


Sinar hitam berkelebat kembali membelah sunyinya malam. Kali ini gerakannya lebih cepat dan lebih mengerikan lagi. Sinar hitam itu terus bergerak tanpa berhenti. Kadang-kadang bayangan pedangnya hilang entah ke mana.


Yang ada bukan pedang lagi. Tapi yang ada adalah kematian.


Sepuluh orang bercadar hitam telah tewas di ujung pedang milik Pendekar Tanpa Perasaan.


Mendadak sinar hijau berkelebat cepat. Suara lengkingan seruling terdengar amat merdu di keheningan malam.


Orang bercadar hitam yang masih tersisa seketika terpaku ketika mendengar alunan nada seruling tersebut. Mereka tidak bergerak sedikitpun. Kakinya seperti dipaku di tanah.


Wajah mereka mendadak memucat lalu menghijau. Kembali berubah lagi menjadi pucat pasi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.


Irama yang dimainkan oleh Chen Li ternyata membawa hal mengerikan tersendiri bagi orang-orang yang ditujunya.


Permainan serulin semakin gencar. Suara lengkinan yang tadinya terdengar merdu, kini berubah menjadi sangat menyakitkan telinga. Jantung mereka berdebar kencang. Sukma mereka terasa melayang dari raganya.


Inilah jurus kelima dari Kitab Seruling Pencabut Nyawa.


"Meniup Seruling Mencabut Sukma …"

__ADS_1


Semakin lama seruling dimainkan, semakin hebat pula penderitaan yang mereka rasakan. Satu persatu dari orang-orang tersebut mulai roboh ke tanah.


Mereka tewas secara misterius karena gelombang suara yang keluar dari seruling tersebut.


Satu orang, dua orang, tiga orang, perlahan tapi pasti, semua orang bercadar hitam yang tersisa, kini telah tewas oleh alunan nada itu.


Dari setiap lubang di tubuhnya mengeluarkan darah kental kehitaman cukup banyak. Lidah mereka terjulur ke depan. Mata mereka melotot tajam. Semuanya tewas membawa perasaan takut.


Melihat seluruh lawannya telah tewas, Chen Li kemudian memasukan kembali dua senjata pusakanya. Setelah itu, dia langsung ke pinggir lalu berdiri di bawah pohon untuk menyaksikan pertarungan pamannya.


Rajawali Botak Cakar Merah ternyata sesuai dengan julukannya. Kedua jari tangannya kini berubah warna menjadi merah darah. Kuku yang tadinya hanya nampak tajam, sekarang telah berubah pula menjadi kuku yang beracun.


Orang itu menyerang dengan sangat ganas. Setiap kali serangannya dilancarkan, rasa panas pasti akan menyebar ke seluruh arena pertarungan.


Kedua tangannya bergerak dari atas ke bawah. Dari samping kiri ke samping kanan.


Semua serangan yang dikeluarkan dilakukan dalam kecepatan tinggi. Seolah-olah tubuhnya telah berubah menjadi sebuah bayangan yang menakutkan.


Tetapi Huang Taiji masih tetap santai. Dia tahu kuku lawan mengandung sebuah racun ganas. Namun tidak ada ketakutan yang diperlihatkan oleh wajahnya.


Orang tua itu masih tampak tenang. Tenang seperti air di tengah danau.


Dia memiringkan badan atau pun bergerak mundur untuk menghindari serangan lawan. Begitu ada kesempatan baik, Huang Taiji mulai membalas serangan.


"Pukulan Neraka Pertama …"


Wushh!!!


Huang Taiji melesat cepat. Kedua tangannya mengepal kencang dan berubah merah membara. Seperti juga dua jari tangan Rajawali Botak Cakar Merah.


Jika orang lain melawan panas dengan dingin, maka Huang Taiji melawan panas dengan panas kembali.


Hawa panas yang terasa semakin hebat. Keduanya telah berkeringat dingin. Dua kepalan tangan yang merah membawa itu bergerak lebih cepat daripada bayangan.


Wushh!!!

__ADS_1


Plakk!!!


Pukulan tangan kanannya berhasil mengenai dada lawan. Rajawali Botak Cakar Merah terpental empat langkah ke belakang.


__ADS_2