
Chen Li sudah beberapa hari berada di Sekte Bulan Merah. Selama belakangan ini, dirinya diperlakukan dengan baik oleh orang-orang yang berada di sana. Dia diperlakukan sebagai tamu istimewa.
Hal itu tak lain dan tak bukan adalah karena dirinya telah berhasil menemukan Kepala Tetua Sekte Bulan Merah yang secara tiba-tiba menghilang misterius selama beberapa waktu lalu.
Orang-orang sekte itu beranggapan bahwa kepala tetua mereka telah tewas dalam sebuah pertarungan, atau setidaknya telah terjatuh ke tangan musuhnya. Siapa tahu, ternyata dugaan mereka salah besar.
Kepala Tetua Sekte Bulan Merah malah tersekap di ruangan rahasia sektenya sendiri bersama Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh, pemimpin daru Perkumpulan Pengemis.
Setelah lima hari berada dalam perawatan tabib yang sudah sangat ahli, akhrinya keadaan kedua orang itu perlahan mulai pulih kembali. Meskipun memang kondisi tubuhnya masih lemah, namun hal itu sudah jauh berbeda jika dibandingkan pada saat pertama kali mereka ditemukan.
Menurut tabib yang ada di Sekte Bulan Merah, dua orang tokoh sakti itu bisa pulih setidaknya dalam waktu paling sedikit satu minggu dan paling banyak dua minggu.
Hal itu disebabkan karena kedua orang tua tersebut mengalami penderitaan yang sangat menyedihkan. Hampir seluruh urat di tubuhnya bekerja secara tidak normal. Denyut nadi pun amat lemah dan detak jantung tidak karuan. Selain dari pada itu, mereka juga mengalami sebuah luka dalam yang sangat serius.
Sepertinya sebelum berhasil disekap di penjara ruang bawah tanah, keduanya sempat juga melewati sebuah pertarungan hebat melawan Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat itu.
Hari sudah malam.
Chen Li dan Phoenix Raja duduk di sebuah kursi sambil memandangi langit yang kelabu di ruang sebelah kamar tidurnya. Kebetulan mereka diberikan kamar di lantai atas.
Malam ini tiada bintang. Rembulan pun tidak ada.
Malam amat gelap. Awan kelabu. Angin berhembus cukup kencang hingga mengibarkan rambut Pendekar Tanpa Perasaan. Hawa dingin terasa menusuk tulang.
Apakah malam ini akan turun hujan?
Di hadapan pemuda itu ada sebuah meja. Di atas meja ada satu guci arak, satu keranjang buah-buahan dan satu krat daging segar. Keduanya sudah cukup lama berada pada posisi demikian.
Bahkan hampir setiap malam, Chen Li selalu melakukan hal yang sama.
Entah kenapa, dia sangat senang memandangi langit. Kalau tidak ada pekerjaan atau rasa kantuk tidak datang, mungkin pemuda itu sanggup memandangi langit semalaman suntuk.
"Tuan Muda, setelah Tuan Tion Jong sembuh, apakah kita akan segera kembali ke markas Perkumpulan Pengemis?" tanya Phoenix Raja kepadanya.
"Tentu saja,"
"Setelah itu?"
__ADS_1
"Setelah itu kita akan segera pergi dari Kekaisaran Sung. Bukankah sebelumnya hal ini sudah kita bahas?"
"Memang sudah. Aku hanya memastikan saja. Tapi, bagaimana kalau pihak Kekaisaran tahu bahwa kita sudah menghancurkan Organisasi Elang Hitam? Bukankah kalau mereka tahu, hal ini akan menjadi masalah bagi kita?"
"Oleh sebab itulah aku ingin segera pergi dari sini. Masalah lainnya kita pikirkan saja nanti,"
"Baiklah, usul yang bagus," kata Phoenix Raja menyetujui.
Burung siluman itu mengatakan sesuatu yang bisa dipastikan bakal terjadi. Apa yang mereka lakukan beberapa waktu terakhir adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Sesuatu yang bisa menggetarkan dunia persilatan. Bukan itu mungkin kalau beritanya sampai tersebar ke Istana Kekaisaran Sung.
Apalagi, hampir semua orang persilatan tahu kalau organisasi sesat itu merupakan hasil bentukan Kekaisaran sendiri.
"Kalau sudah datang, kenapa hanya bersembunyi? Datang saja kemari, kita lewati malam ini dengan damai," kata Chen Li secara tiba-tiba.
Pada saat berkata demikian, kepalanya mendadak menengadah ke jendela kamarnya. Phoenix Raja pun melakukan hal yang sama.
Tidak lama setelah itu, mendadak dari sama muncul satu bayangan lalu segera melesat menghampiri keduanya.
Yun Jianying.
"Ada tujuan apa Nona Yun mengintip di balik jendela?" tanya Chen Li sambil terus memandangi langit mendung.
"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Yun Jianying sedikit gugup.
Sepertinya gadis itu malu karena dirinya bisa ketahuan. Padahal dia sudah merasa bersembunyi seaman mungkin. Siapa tahu, Chen Li ternyata masih dapat mengetahuinya.
"Benarkah?" tanya Chen Li sambil memalingkan wajahnya lalu menatap wajah gadis itu lekat-lekat.
Yun Jianying merasa tubuhnya sedikit bergetar. Bola mata Chen Li pada saat biasa seperti ini memang tidak berbeda dengan manusia lainnya. Namun di balik bola mata itu seperti ada suatu daya tarik tersendiri.
Bola mata yang hitam bening. Wajah yang tampan. Sikap yang dingin dan angkuh. Semua itu menambah daya tarik seorang pemuda seperti Chen Li bagi gadis cantik seperti Yun Jianying.
"Emm, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadamu," katanya sambil menundukkan kepala.
Suaranya terdengar kalem. Sifat angkuh dan merasa tinggi sudah tidak terdengar lagi saat ini.
Apakah gadis itu sudah sadar? Benarkah dia sudah berubah sifatnya?
__ADS_1
"Kau tidak perlu berterimakasih. Aku sendiri menemukan Ayahmu secara tidak sengaja. Kalau bukan karena sedang mencari Tuan Tiong Jong, tidak mungkin Ayahmu bisa ditemukan," jawabnya tanpa ekspresi.
Gadis itu langsung diam. Dia tidak tahu harus bicara bagaimana lagi.
"Maaf juga kalau tempo hari aku pernah berbuat salah kepadamu," katanya mengalihkan pembicaraan.
"Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang sudah terlewat," katanya dengan nada dingin.
Yun Jianying mulai merasa panas hatinya. Dia sudah berusaha tenang, kalem dan lemah lembut. Siapa sangka, ternyata respon pemuda di hadapannya saat ini masih sama saja.
Dia masih dingin. Angkuh. Dan juga seperti tidak berperasaan.
"Kenapa kau selalu bersikap dingin seperti ini? Apakah kau selalu demikian?" tanyanya sedikit berteriak.
"Kepada siapapun aku seperti ini,"
"Meskipun kepada gadis sepertiku?"
"Tidak ada pengecualian. Sama saja," jawabnya semakin dingin.
"Kenapa kau begitu? Kau pikir kau siapa? Kenapa kau tidak berperasaan?" sifat angkuhnya mulai kambuh lagi. Hampir saja tangannya melayangkan sebuah tamparan. Untung saja Yun Jianying segera menahan emosinya.
"Karena aku Pendekar Tanpa Perasaan …" jawab Chen Li sambil tersenyum dingin.
"Pergilah. Hari sudah larut malam. Kalau ada orang lain yang melihat, bisa menjadi masalah nantinya," lanjutnya.
"Aku tidak mau pergi,"
"Terserah. Yang jelas aku sudah menyuruhmu pergi,"
Chen Li berkata sambil berlalu. Pemuda itu masuk ke kamar lalu segera menutup pintunya.
Yun Jianying menggertak gigi. Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia ingin menangis, tapi tidak bisa. Ingin marah lalu memaki-maki, namun dirinya tentu tidak berani.
Apalagi sekarang gadis itu telah tahu bagaimana Pendekar Tanpa Perasaan.
Akhirnya Yun Jianying memutuskan untuk pergi dari sana. Pergi dengan membawa berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam benaknya.
__ADS_1