
Sebatang pedang menusuk dengan kecepatan diluar nalar manusia dari arah depan. Tusukan itu membawa hawa kematian yang teramat kental dan menakutkan. Selamanya, tusukan seperti itu tidak akan pernah ditemukan di negeri manapun.
Karena tusukan itu bukan tusukan yang diajarkan oleh manusia. Melainkan tusukan yang diajarkan oleh Dewa.
Di belakang tusukan pedang ada semacam bayangan. Bayangan mengerikan yang sangat menggambarkan kengerian.
Bayangan kepala naga berwarna merah darah. Matanya hitam legam. Kumisnya dipenuhi oleh api merah yang membara.
Dari arah kanan datang hantaman sebatang tongkat baja. Baja itu baja terkuat dari yang pernah ada. Itu adalah baja para Dewa. Apapun itu, kalau milik para Dewa, maka segalanya tidak dapat diragukan lagi.
Hantaman tongkat baja jelas membawa maut. Hantaman itupun tidak mengenal ampun. Tidak mengenal belas kasihan. Apalagi mengenal mundur. Hantaman tersebut terus melayang dengan cepat. Secepat angin di lepas pantai.
Tongkat baja nampak diselimuti oleh aura berwarna biru. Aura yang terbayang indah. Namun pada kenyataannya amat menakutkan. Apalagi aura tersebut membentuk satu sosok iblis ular yang saat ini sedang menunjukkan taringnya kepada Chen Li.
Sedangkan dari sebelah kiri Pendekar Tanpa Perasaan datang satu tusukan yang perbawanya hampir sama dengan tusukan pedang dari arah depan tadi.
Ujung mata tombak mengkilap sangat terang. Kecepatannya seperti kedipan mata. Hawa kematian amat pemat. Hawa pembunuhan dari ujung tombak pusaka tersebut jauh lebih pekat lagi.
Selain itu, tusukan tombak tersebut membawa semacam kekuatan magis yang mengerikan. Tusukan itu mengeluarkan sebuah suara mendengung yang teramat keras. Kalau yang mendengarnya orang lain, mungkin mereka akan tewas sebelum tusukannya tiba.
Sayang, yang mendengarnya saat ini adalah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan. Manusia di atas manusia. Manusia yang kejam tanpa perasaan jika sudah menghadapi sebuah pertarungan.
Ketiga serangan tersebut tiba secara serentak. Semuanya menghujani tubuh pemuda tampan itu.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Tiga kali dentingan nyaring terdengar. Bunga api memercik tinggi ke udara lalu lenyap begitu saja.
Pedang Merah Darah telah menangkis tusukan pedang dan tusukan tombak. Sedangkan Seruling Dewa telah menangkis hantaman tongkat.
Dua senjata pusaka kelas atas yang sempat menggetarkan jagat itu telah berhasil menangkis tiga serangan yang teramat dahsyat.
Tiga serangan Bayangan Tiga Warna mendadak berhenti total. Mereka tidak meneruskan serangannya lagi. Bukan karena tidak ingin, namun karena senjata mereka menempel satu sama lain.
Pendekar Perasaan sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Mata aneh yang sebelumnya tertutup di balik topeng, sekarang sudah terbuka.
__ADS_1
Dari pancaran sinarnya, jelas membawa hawa yang sulit dijelaskan. Selain itu, mata tersebut juga membawa satu tekanan yang amat menakutkan.
Kekuatan dari Mata Dewa telah keluar sempurna. Pendekar Tanpa Perasaan berdiri mematung. Meskipun tiga senjata berada di hadapannya, meskipun kematian hampir tiba, namun dia tetap tidak akan bergerak. Dia akan tetap berdiri mematung seperti itu.
Wushh!!!
Angin berhembus sangat kencang sekali. Bayangan Tiga Warna terlempar dua puluhan tombak ke belakang.
Tanah yang di pijak oleh Bayangan Tiga Warna mendadak berhamburan. Tanah itu meninggi lalu kemudian menyerang seperti hujan di siang hari. Sangat deras, juga membawa dingin.
Tapi bukan dingin karena keadaan. Melainkan dingin karena tanpa perasaan.
Wushh!!! Duarr!!!
Ledakan besar terjadi saat masing-masing jurus dari dua belah pihak berbenturan.
Pendekar Merah tersenyum dingin. Api mendadak muncul dari belakang Bayangan Tiga Warna. Semakin lama, api tersebut terlihat semakin besar dan siap melahap ketiganya.
Pusaran api mendadak terbentuk. Elemen angin dan api sudah menyatu. Dua elemen itu siap menebarkan kematian kepada lawan Pendekar Tanpa Perasaan.
Gelegarr!!!
Air itu tiba-tiba mengamuk. Seperti ombak di laut yang menerjang segalanya.
Begitu juga dengan air tersebut. Air itu mendadak berubah menjadi gelombang yang menakutkan.
Bayangan Tiga Warna terkesiap. Saat ini mereka berada di posisi yang tidak diuntungkan. Semua jalan keluar, semua ruang gerak, telah ditutup oleh lima elemen alam semesta.
Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan puncak kesempurnaan dalam pencapaian jurusnya.
Jurus itu teramat dahsyat. Juga teramat mengerikan. Saking hebat dan dahsyatnya, rasanya sulit untuk dilukiskan.
Alam semesta kembali berubah total seperti pada saat kedatangan Dewa Lima Unsur tiga tahunan lalu. Suara raungan naga terdengar amat mengerikan. Seperti seruan Raja iblis dari neraka. Seperti teriakan arwah penasaran.
Gelegarr!!!
__ADS_1
Wushh!!!
Tiga bayangan mendadak menerobos keluar. Mereka pun turut mengeluarkan puncak kekuatannya. Empat kekuatan para Dewa bertemu. Kekuatan itu mempunyai keistimewaan masing-masing. Kekuatan itu pun mempunyai perbawa tersendiri.
Empat ledakan yang sangat besar terus terdengar tanpa henti. Ledakan itu seakan mengguncangkan alam semesta dan seisinya. Bahkan mengguncangkan pula alam nirwana.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, Bayangan Tiga Warna telah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Perasaan.
Keempatnya segera melangsungkan sebuah pertarungan sengit yang amat dahsyat. Empat macam senjata pusaka berbenturan sangat keras. Keempat pemiliknya telah mengeluarkan kekuatan tertinggi mereka.
Hawa terasa sesak. Udara terasa habis. Semuanya bersatu dalam pertarungan hebat tersebut.
Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji masih menyaksikan pertarungan mereka di pinggir padang rumput itu. Keduanya melihat tanpa berkedip seolah mereka tidak mau kehilangan momen yang amat langka tersebut.
Baik Dewa Lima Unsur maupun Huang Taiji, keduanya sama-sama kagum saat melihat sepak terjang Chen Li. Pemuda yang menyukai warna putih itu seperti seekor harimau yang baru dilepas dari kandang setelah beberapa tahun di kurung.
Dia amat beringas. Amat ganas dan amat brutal.
Pemuda itu menyerang tanpa henti. Sekalipun tiga serangan maha dahsyat sekali mengancam dirinya, dia tidak pernah gentar. Meskipun jurus aneh dan menakutkan menginginkan nyawanya, Chen Li tetap tidak menyurut mundur.
Sebaliknya, pada saat semua serangan berbahaya tiba menghampiri dirinya, dia justru malah meneruskan langkahnya ke depan.
Seolah pemuda itu tidak melihat tiga serangan tersebut. Seakan dirinya tidak sedang melangsungkan pertarungan dahsyat.
Langkahnya ini menjadi bahan perhatian tersendiri bagi Bayangan Tiga Warna. Mereka tahu bahwa ini kesempatan terbaik, oleh seba itulah ketiganya menambah daya kekuatan serangannya.
Sayang, langkah mereka amat keliru. Apa yang mereka lakukan justru sebaliknya.
Tepat pada saat jarak Pendekar Tanpa Perasaan semakin dekat, secara tiba-tiba dia menghilang dari pandangan.
Pemuda itu seperti lenyap ditelan bumi. Tubuhnya tidak nampak. Pedang dan serulingnya juga tidak terlihat.
Yang ada hanyalah kilatan cahaya merah bergerak sangat cepat. Yang ada hanyalah kabar dari Malaikat maut.
Saat cahaya merah bergerak, saat itu juga suara robekan terdengar. Ketika cahaya merah berkelebat, ketika itu pula pertarungan sudah mencapai batas akhir.
__ADS_1