Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun


__ADS_3

Belum habis pantulan suara teriakan barusan, mendadak sebelas orang telah melesat keluar dari dalam bangunan tua tersebut. Kecepatan mereka seperti burung rajawali menyambar mangsa.


Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, sebelas orang berpakaian serba merah dengan lambang ular di punggung, telah berdiri menantang menatap jauh ke depan.


"Siapa pelakunya?" tanya salah seorang du antara mereka.


"Entah. Sebentar lagi dia akan datang, kita tunggu saja," jawab rekannya yang lain.


Semua orang kini sedang menanti siapa pelaku yang telah melemparkan enam mayat ke bangunan tempat mereka berdiam. Dalam hatinya, masing-masing orang tersebut sangat merasa kesal.


Sebab siapapun pelakunya, orang itu sudah kelewat batas dan tidak pantas untuk diberi ampunan.


Tidak berapa lama menunggu, yang ditunggu akhirnya datang juga. Seorang pria berpakaian serba biru bercahaya di tengah gelapnya Bukit Hitam. Kedua tangan orang yang belum diketahui tersebut terlihat seperti membawa sesuatu.


Begitu jaraknya hampir dekat, dia melemparkan sesuatu itu ke arah sebelas orang.


Mereka kaget. Sebab yang dilemparkan tadi adalah kepala orang-orang penjaga Bukit Hitam.


Amarah semakin memuncak. Satu orang berteriak lalu melancarkan serangan jarak jauh ke orang yang sedang berjalan tersebut.


Namun yang menjadi sasaran malah tenang-tenang saja. Dia masih terus berjalan dengan santai ke depan. Begitu melihat ada sinar meluncur ke arahnya, orang tersebut hanya mengibaskan tangan kanannya.


"Blarr …"


Ledakan terdengar saat sinar itu berhasil ditangkis. Batu hitam sebesar meja hancur menjadi serpihan kecil akibat benturan barusan.


Saat jarak antar pihak tinggal tiga tombak, orang asing itu baru menghentikan langkahnya.


Jalannya tenang. Tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dari sini saja bisa dipastikan bahwa orang itu bukanlah orang sembarangan.


Ya, tentu saja.


Kalau bukan Pendekar Halilintar, siapa lagi?"


"Siapa kau?" teriak seseorang saat sudah melihat ada orang lain di hadapannya.


"Pemimpinmu yang sudah tua bangka itu tahu siapa aku. Tanyakan saja kepadanya," jawab Shin Shui sambil menunjuk Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun dengan ekspresi wajah acuh tak acuh.


Orang yang baru saja bertanya langsung melirik pemimpin mereka, seolah dia ingin bertanya. Namun sayangnya tidak berani.

__ADS_1


"Dia adalah Shin Shui si Pendekar Halilintar," jawab Kiam Mo Kong tanpa menoleh sedikitpun.


Sepuluh orang yang bersamanya tersentak. Mereka sudah malang melintang dalam dunia persilatan. Dan setiap berkelana, nama Pendekar Halilintar selalu terdengar di telinga mereka.


Tak disangkanya hari ini mereka dapat bertemu langsung dengan sosok pendekar yang selalu ramai di perbincangkan itu.


'Jadi ini ya pendekar yang sangat terkenal itu. Hemm, penampilannya dan sosoknya memang sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh kebanyakan orang. Untuk apa dia datang kemari? Ah, masa bodoh mau apa juga. Yang penting aku bisa melihatnya secara langsung saat ini,' batin orang yang tadi bertanya tersebut.


Orang-orang yang ada di sana masih terdiam semuanya. Seolah mereka sedang mengukur sampai di mana kekuatan lawan. Terlebih lagi Shin Shui.


Dari tebakannya, setidaknya sepuluh pendekar tersebut merupakar Pendekar Dewa tahap tiga. Sedangkan untuk Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun, sudah mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh awal.


Pendekar Halilintar itu cukup terkejut sedikit. Untung bahwa keterkejutannya tidak terlihat oleh lawan. Dia masih yakin kepada kekuatannya untuk dapat mengalahkan mereka.


Namun kalau sampai mereka maju serentak secara bersamaan, maka situasinya akan berbeda lagi.


Mungkin akan lebih sulit dan pertempuran berlangsung lebih sengit melebihi apa yang sudah dia bayangkan sebelumnya.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya seorang kakek tua.


Postur tubuhnya tidak terlalu istimewa. Bahkan dia kurus kering. Seperti halnya sebuah tengkorak tanpa daging. Kelopak matanya sedikit masuk ke dalam. Wajahnya tirus dengan jenggot cukup panjang.


Namun walaupun kelopak mata itu hampir ke dalam, tapi justru tatapan matanya sangat tajam. Seperti mata seekor serigala yang setiap saat siap menerkam. Ada sorot kebengisan dalam tatapan itu.


"Membunuhku? Kenapa kau harus membunuhku?"


"Karena kau memang pantas untuk dibunuh,"


Ya, dia sendiri tahu bahwa dirinya memang pantas dibunuh oleh siapapun juga. Sebab apa yang telah diperbuat sudah melewati batas wajar sebagai seorang manusia. Entah sudah berapa banyak orang tak bersalah dicabut nyawanya oleh dia.


Namun yang pasti, Kiam Mo Kong sudah siap jika memang ada orang yang berkata ingin membunuhnya.


Entah sudah berapa puluh orang pendekar yang berkata sama dengan Shin Shui. Mereka mengatakan ingin membunuhnya, tapi ketika bertarung, justru orang itu sendiri yang malah terbunuh.


Hanya saja situasi sekarang berbeda. Yang berkata ingin membunuh dirinya adalah seorang pendekar ternama. Semua orang mengenalnya.


Tentu saja ada alasan khusus di balik itu semua. Karena itulah Kiam Mo Kong menanyakan alasannya kepada Shin Shui.


"Baik, tidak masalah. Tapi tolong, sebutkan alasanmu mengapa ingin membunuhku,"

__ADS_1


"Bagus. Aku suka karena kau tidak takut mati. Kau telah mencari masalah denganku, karena itulah kau pantas mati di tanganku,"


"Kapan? Kita bertemu baru kali ini. Seumur hidup, aku belum pernah bertemu denganmu kecuali sekarang," tegas Kiam Mo Kong.


Tentu dia kebingungan saat Shin Shui berkata demikian. Karena seumur hidupnya, memang inilah pertama kali mereka bertemu.


"Kita memang baru bertemu. Dan kau tidak punya masalah denganku. Tapi beberapa waktu lalu, kau telah melukai seekor siluman kera putih sehingga dia terkena jurus Telapak Tangan Seribu Racun Bisa Ular milikmu,"


"Lalu, apa masalahnya dengamu?"


"Dia adalah sahabatku. Kedatanganku kemari ingin meminta obat penawarnya," tegas Shin Shui. Dia mulai tidak kuat menahan gejolak amarah yang sudah sejak tadi membara. Namun untuk menyerang, rasanya belum tepat sebab pihak lawan masih belum bersiap.


Kiam Mo Kong tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya sangat menyeramkan karena terkadang diselingi dengan desisan suara ular.


"Boleh, boleh saja. Tapi ada satu syarat,"


"Apa?"


"Kau harus bersujud kepadaku,"


"Keparat. Aku bicara serius," kata Shin Shui sedikit membentak.


"Aku lebih serius lagi,"


"Bangsat, kau memang ingin mati,"


"Kalau kau sanggup, silahkan,"


Selesai berkata, Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun langsung menyuruh sepuluh anak buahnya maju menyerang Shin Shui.


Tanpa diperintah dua kali, sepuluh orang itu telah maju ke depan melancarkan serangannya masing-masing.


Shin Shui sudah siap sejak tadi. Melihat sepuluh pendekar menyerang sekaligus, dia langsung mengeluarkan kekuatan halilintar yang mengerikan.


"Duarr …"


Langit bergemuruh keras. Seolah para Dewa sedang marah di alam nirwana. Awan yang kelam menjadi lebih jelas saat Pendekar Halilintar mengeluarkan kekuatannya. Kilatan petir menyambar bumi tiada hentinya.


Tubuh Shin Shui sudah diselimuti oleh aura biru terang yang berasal dari halilintar.

__ADS_1


Kalau dia sudah seperti ini, maka tidak akan ada lagi kata pengampunan bagi musuh.


Siapapun lawannya, dia pantas mati.


__ADS_2