Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kotaraja Kekaisaran Sung


__ADS_3

Ah Kui masih saja membungkam mulutnya. Orang tua itu beberapa kali menghela nafas dalam-dalam. Arak dalam guci dia tenggak beberapa kali. Beberapa potong daging pun sudah dia masukkan ke tenggorokannya.


Sepertinya dia sedang berpikir keras apakah akan menerima tawaran Chen Li atau tidak. Bagi orang lain, mungkin hal itu tampak sepele. Tapi bagi Ah Kui sendiri, justru malah sebaliknya. Hal tersebut malahan menyangkut hidup dan matinya.


"Apakah kau serius bisa menjamin hidupku aman?" tanya Ah Kui kembali, orang tua itu ternyata masih meragukan ucapan Pendekar Tanpa Perasaan.


"Kau masih meragukan ucapan dan kemampuanku?" tanya balik Chen Li sambil memandangnya dengan selidik.


"Aku sama sekali tidak meragukanmu, baik itu ucapan ataupun kemampuan,"


Bagaimana mungkin Ah Kui meragukan Pendekar Tanpa Perasaan? Meskipun dia baru berjumpa satu kali dengan pemuda itu, namun sedikit banyaknya Ah Kui sudah mengetahui siapa dan bagaimana wataknya.


Masalah ucapan Pendekar Tanpa Perasaan, pasti bisa dipertanggungjawabkan. Masalah kemampuan? Tentunya tidak diragukan lagi. Bahkan Ah Kui sendiri menyaksikan dan merasakannya sendiri.


"Kalau begitu, apalagi yang membuatmu ragu?"


"Hemm, baiklah. Kalau begitu aku setuju,"


"Jadi kau akan memberitahukan di mana markas pusat Organisasi Elang Hitam?" tanya Chen Li memastikan kembali.


"Benar, aku akan menunjukkan kepadamu,"


"Bagus, kapan kita akan pergi ke sana?"


"Besok. Setelah pagi-pagi sekali kita akan segera pergi ke sana,"


"Apakah markas pusat organisasi itu jauh?"


"Lumayan. Setidaknya butuh tiga hari agar kita sampai ke sana," kata Ah Kui memperkirakan.


Chen Li mengangguk puas. Semangat dalam dirinya bertambah berkobar. Perlahan namun pasti, tugas utamanya akan mulai dia laksanakan.


Dengan kekuatannya yang sekarang, apapun akan dia terjang.


Keduanya melanjutkan minum arak kembali. Satu krat daging segar itu hampir habis dilahap oleh mereka. Guci arak yang ke beberapa kali sudah dikeluarkan, takaran minum Chen Li hampir setara dengan setan arak.


Ah Kui sendiri awalnya merasa terkejut. Tak disangka ternyata Chen Li mempunyai takaran minum yang tidak biasa.


"Kalau disuruh adu minum arak, aku pasti tidak akan sanggup menandingi dirimu," kata Ah Kui disela-sela mereka minum.


"Hahaha, aku minum banyak hanya disaat-saat tertentu saja,"

__ADS_1


"Benarkah? Aii, aku kira kau pemuda yang kejam. Ternyata sebenarnya kau pemuda yang sangat ramah,"


"Ada saat untuk kejam, ada saat untuk ramah," jawab Chen Li sedikit tersenyum.


Ah Kui mengangguk tanda mengerti. Sebagai orang tua yang sudah kenyang akan pengalaman hidup, tentunya dia paham maksud dari perkataan pemuda tersebut.


Pada kenyataannya memang seperti itu. Ada saat untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya, ada pula saat untuk menyembunyikan siapa kita sesungguhnya.


Keduanya terus melanjutkan pesta minum arak di tempat tersebut. Tak ketinggalan Phoenix Raja juga ikut nimbrung.


###


Hari sudah pagi. Ah Kui dan Chen Li sudah bersiap-siap. Keduanya telah berada dalam kondisi yang jauh segar bugar dari hari kemarin. Wajah mereka cerah, secerah sinar mentari di pagi ini.


Chen Li telah mengganti pakaian, tapi warnanya masih tetap sama. Warna putih.


Sedangkan Ah Kui memakai pakaian berwarna biru tua. Wajah orang tua itu tampak lebih baik dari sebelumnya. Pandangan buruk terhadap Pendekar Tanpa Perasaan telah lenyap dan digantikan dengan pandangan baik.


Baginya, pemuda itu justru pemuda baik yang sangat langka.


Burung Phoenix Raja telah bertengger di tempat biasanya. Burung itupun tampak semangat. Pagi ini, entah sudah berapa banyak dia mengeluarkan suaranya yang sangat nyaring itu.


"Apakah kau sudah siap?" tanya Chen Li kepada Ah Kui.


"Sangat siap,"


"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang,"


Wushh!!! Wushh!!!


Keduanya langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Bayangan putih dan biru mewarnai udara di pagi hari. Hanya beberapa saat saja, mereka sudah berada jauh dari tempatnya semula.


Pendekar Tanpa Perasaan dan Ah Kui berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tahap sempurna. Mereka tidak terbang, terlebih lagi karena Ah Kui belum bisa terbang.


Para pendekar yang bisa terbang bebas seperti seekor burung hanya mereka yang sudah berkemampuan tinggi. Minimal mungkin Pendekar Dewa tahap tiga ataupun tahap empat. Sedangkan Ah Kui, saat ini hanya merupakan Pendekar Dewa tahap satu.


Oleh sebab itulah untuk menuju ke markas pusat Organisasi Elang Hitam, mereka hanya menempuh jalan darat.


Perjalanan keduanya dilakukan tanpa berhenti. Mereka berhenti hanya untuk melakukan hal-hal yang memang perlu dilakukan.


Sepanjang perjalanan, keduanya terus membicarakan berbagai macam hal sehingga hubungan mereka menjadi lebih dekat lagi.

__ADS_1


###


Hari sudah senja. Sinar matahari yang kemerahan menyorot ke muka bumi membuat seluruh alam semesta berwarna merah. Merah yang cerah. Merah yang indah.


Chen Li dan Ah Kui sedang berdiri tegak di pinggir sebuah tebing tinggi. Jauh di bawah mereka terdapat satu kota.


Kota itu sangat besar. Sangat indah dan sangat megah sekali. Seumur hidupnya, baru sekarang saja Chen Li melihat kota yang demikian megahnya.


"Itulah Kotaraja Kekaisaran Sung," kata Ah Kui sambil menunjuk ke kota tersebut.


"Benar-benar kota yang sangat luar biasa sekali," ujar Chen Li menatap kagum di balik topengnya.


"Di sana lah tempat markas pusat Organisasi Elang Hitam,"


Chen Li mengangguk pelan. "Di sana pasti terdapat banyak sekali tokoh-tokoh kelas atas,"


"Itu sudah pasti,"


"Kira-kira, berapa banyak tokoh kelas yang ada di dalam markas pusat itu?"


"Sekitar seratus tokoh kelas atas," jawab Ah Kui.


Pendekar Tanpa Perasaan tersentak untuk beberapa saat.


Seratus tokoh kelas atas ada di dalam markas pusat Organisasi Elang Hitam? Apakah dia mampu menghadapi mereka secara langsung? Benarkah dirinya akan sanggup?


Meskipun Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji sudah mengatakan bahwa dirinya telah menjadi pendekar tanpa tanding, tak urung hatinya sedikit bergetar juga. Alasannya tentu karena dia belum pernah mencoba sampai di mana puncak kemampuannya.


"Ternyata jumlahnya banyak juga,"


"Memang banyak. Sekarang bagaimana, apakah kita akan tetap akan ke sana?"


"Kita sudah jauh-jauh datang kemari, tentu saja kita akan tetap pergi ke sana," kata Chen Li meyakinkan hatinya.


"Baiklah, aku mengerti,"


"Sekarang kita pergi ke sana,"


Ah Kui menurut. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya lagi. Keduanya mengeluarkan ilmu meringankan tubuh sambil menuruni tempat tersebut.


Tepat pada saat matahari baru saja tenggelam, Chen Li dan Ah Kui baru tiba di pintu gerbang Kotaraja.

__ADS_1


Gerbang itu tampak megah. Prajurit yang berjaga di sana ada sekitar sepuluh orang banyaknya. Mereka memakai pakaian seragam lengkap dengan senjata dan tameng yang lengkap pula.


Ah Kui berada di depan, keduanya mulai berjalan menghampiri para prajurit penjaga tersebut.


__ADS_2