Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rencana Hong Hua


__ADS_3

Hong Hua telah berada jauh di depan. Kakek tua itu terus berjalan tanpa sempat menengok ke belakang. Sekalipun begitu, namun dia tetap tahu bahwa Pendekar Merah masih mengikuti dirinya.


Dua orang pria bertubuh tinggi besar yang mirip seperti pria di setiap sudut lapangan tadi membukakan pintu masuk, Hong Hua segera masuk ke dalam.


"Persilahkan juga pemuda itu masuk. Setelah itu segera tutup pintu kembali. Jangan ada siapapun yang diizinkan masuk," ujar kakek tua itu kepada dua penjaga pintu tersebut.


Keduanya tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk perlahan pertanda mengerti.


Ruangan itu sangat besar juga mewah. Berbagai macam ornamen kelas atas terpampang di setiap sudut bahkan di dinding-dinding ruangan. Puluhan perabot bernilai tinggi juga tampak di sana.


Chen Li turut masuk ke dalam. Pemuda itu terkejut saat menyaksikan semua yang ada di dalam ruangan. Pemuda itu tahu dan mengerti tentang barang-barang yang bernilai tinggi.


Namun meskipun begitu, dia masih bisa untuk tetap menenangkan dirinya. Chen Li masuk perlahan, di lihatnya Hong Hua telah duduk di sebuah kursi megah bertahtakan intan permata.


Di lihat sekilas saja, siapapun bakal mengerti dan mengetahui bahwa kursi tersebut merupakan kursi yang sangat mahal. Bahkan mungkin harganya hampir mencapai jutaan keping emas.


"Duduklah," kata Hong Hua kepada Chen Li.


Pendekar Merah langsung duduk di kursi yang telah tersedia di sana.


"Ruangan ini sangat mewah," puji Chen Li.


"Ah, kau terlalu memuji. Ruangan ini justru sangat sederhana," jawab Hong Hua merendah.


"Sederhana bagimu, mewah bagi orang lain. Hemm, ternyata senior Hong benar-benar orang hebat,"


Hong Hua tertawa mendengar pujian itu. Walaupun usianya sudah tua, tapi jika ada orang yang memuji dirinya, dia selalu senang. Selalu bangga.


"Terimakasih. Aku merasa tersanjung," katanya sambil sedikit membungkuk.


Chen Li tersenyum. Dia tidak menjawab sama sekali.


Seorang pelayan datang membawa sebuah nampan yang berisikan makanan dan satu guci arak. Dia langsung menuangkan lalu kemudian di suguhkan kepada Chen Li.


"Terimakasih," katanya sambil tersenyum kepada si pelayan.


"Silahkan dinikmati nak, maafkan kalau aku tidak bisa menjamu dirimu dengan mewah,"


"Ini sudah jauh dari kata cukup," jawab Chen Li.

__ADS_1


Pemuda itu lantas segera meminum arak yang tadi diberikan si pelayan. Sebelum cawan tersebut menempel ke mulutnya, Chen Li sempat tersenyum.


Sebuah senyuman dingin. Sebuah senyuman yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain.


"Arak yang bagus. Ngomong-ngomong, apakah kita hanya berdua saja? Kenapa mereka tidak disuruh gabung sekalian kemari?" tanya Chen Li sambil memandang ke sekeliling ruangan.


Hong Hua terkejut sesaat. Tapi sesaat kemudian, dia malah tertawa lantang. Suara tawanya menggema ke seluruh ruangan.


"Hahaha … hebat, hebat, ternyata kau mempunyai mata yang sangat tajam. Aku sungguh kagum," puji Hong Hua kepada Chen Li.


Bocah yang dipujinya hanya tertawa simpul. Dia sama sekali tidak berminat untuk menjawabnya.


"Apakah kalian tidak mendengar perkataan sahabat mudaku ini? Kalau kalian mendengar, kenapa tidak segera keluar?"


Belum selesai perkataan tersebut, mendadak dari setiap sudut ruangan itu keluar belasan sosok manusia. Jumlahnya tak kurang dari delapan belas orang. Semuanya merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.


Usia mereka rata-rata sudah cukup umur. Paling muda mungkin berumur sekitar tiga puluhan tahun. Mereka merupakan pria dan wanita, semuanya mempunyai wajah yang dingin dan kaku.


Dari tubuh masing-masing tokoh sungai telaga itu selalu merembes keluar satu kekuatan aneh sehingga membuat keadaan di dalam ruangan tersebut berubah drastis hanya dalam waktu sekejap mata.


Udara terasa sesak dan panas. Kekuatan itu menggulung lalu bertumpuk menjadi satu. Hawa kematian mendadak terasa kental.


Mulutnya masih tersenyum di balik topeng itu. Wajahnya masih ramah. Rambutnya berkibar untuk sesaat, padahal di ruangan tersebut tidak ada angin sama sekali.


Suasana hening. Tidak ada seorangpun yang bicara di antara orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Semuanya terdiam. Jangankan bicara, yang bergerak pun rasanya tidak ada.


Hong Hua tiba-tiba bangkit dari kursi megah miliknya. Dia berjalan turun ke depan kemudian segera berkata. "Nah Pendekar Merah, perkenalkan, mereka ini merupakan teman baikku. Orang-orang ini sengaja datang kemari untuk bertemu denganmu," ujarnya sambil memandang ke sekeliling orang-orang itu.


Chen Li mengernyitkan keningnya mendengar perkataan tersebut.


"Terimakasih senior semua, hal ini sungguh suatu kebanggaan bagiku. Tak disangka, ternyata di sini merupakan tempat berkumpulnya para tokoh kelas atas," ujar Chen Li dengan suara datar.


Belasan pasang mata memandang ke arahnya. Tatapan mereka dingin, seperti juga wajahnya. Tatapan mereka tajam, seperti juga tajamnya senjata masing-masing.


"Jadi kau yang disebut Pendekar Merah?" tanya seorang nenek tua sambil memiringkan kepalanya. Dia memandang Pendekar Merah dengan tatapan penuh selidik.


"Benar, orang yang dimaksud adalah aku sendiri,"


"Ternyata kau masih muda,"

__ADS_1


"Aku memang masih muda,"


"Tapi kenapa kau berani menghancurkan markas Organisasi Elang Hitam?" tanya si nenek tua lebih lanjut.


Chen Li mendadak tersenyum dingin. Sekalipun mereka belum berkata lebih lanjut, tapi pemuda itu telah mengetahui maksud dan tujuan yang sebenarnya.


"Karena aku tidak suka kepada organisasi itu,"


"Jadi karena alasan tidak suka, kau nekad menghancurkannya?"


"Tepat, sangat tepat sekali,"


Si nenek tua menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian berjalan dengan perlahan mengelilingi Chen Li.


"Senior Hong, semuanya sudah jelas, lalu kenapa kau tidak berterus terang kepadaku?"


Hong Hua mendadak memandangi Chen Li dengan tajam. Sebagai tokoh tua, dia tentunya dapat menebak arah bicara seseorang. Sebagai orang yang kenyang akan pengalaman, dia juga tahu maksud dari perkataan setiap orang.


"Tak kusangka kau sangat cerdas sehingga bisa menebak semuanya,"


"Aku belum mampu untuk menebak semua rencanamu, hanya saja aku sudah dapat sedikit meraba apa yang sedang kau rencanakan,"


"Kau sudah mengetahuinya sejak awal?"


"Tidak. Aku baru bisa menebak setelah dirimu membawaku kemari,"


"Hahaha … hebat, hebat, benar-benar pendekar muda yang hebat dan pintar. Menurutmu, apa rencanaku sebenarnya?"


"Kau sengaja membawaku kemari dan mengumpulkan para tokoh sesat ini karena ingin membunuhku," ucap Pendekar Merah.


Suaranya mendadak serak parau. Wajahnya juga dingin. Dia mulai memperlihatkan sifat aslinya.


"Tepat sekali. Tapi, kalau kau sudah tahu maksudku yang sebenarnya, lalu kenapa kau mau menolongku saat aku pura-pura keracunan?"


"Bukankah barusan aku sudah mengatakannya? Aku baru mengetahui rencanamu yang sebenarnya setelah tiba di tempat ini. Sebelumnya, aku menolongmu karena alasan kemanusiaan. Sedikitpun tidak ada rasa curiga bahwa kau merupakan musuh di dalam selimut," kata Chen Li datar.


"Hahaha … berarti rencanaku berjalan dengan mulus bukan?"


"Benar, tapi tidak seratus persen. Sebab aku lebih dulu mengetahuinya sebelum semuanya terjadi,"

__ADS_1


__ADS_2