
Saat ini Shin Shui sudah berdiri si pinggir mayat Kiam Mo Kong si Datuk Ular Beracun. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Atau mungkin lebih tepatnya belum.
Tatapan matanya masih dingin. Wajahnya apalagi. Entah kenapa, kalau dia selesai mengeluarkan Jurus Pedang Cahaya, selalu ada rasa sepi tersendiri dalam dirinya.
Seolah Shin Shui tidak menjadi dirinya sendiri.
Dia merasa menjadi orang lain. Terkadang dia merasa bahwa dirinya adalah seorang pembunuh ulung yang sudah sangat berpengalaman.
Karena alasan itulah dia tidak mau mengeluarkan Jurus Pedang Cahaya setiap pertarungan. Kalau kondisinya tidak terdesak, jangan pernah berharap bahwa Pendekar Halilintar itu akan mengeluarkan jurus tersebut.
Shin Shui tidak mau merasakan sesuatu seperti ini setiap saat. Sebab kalau terlalu sering, bisa-bisa dia setres atau bahkan mungkin bisa juga gila.
Hal seperti ini hanya dia yang merasakannya. Bukan orang lain.
"Dasar tua bangka tak tahu diri. Kau pikir kekuatanmu tidak ada yang bisa menandingi? Hemm, sepertinya kau lupa tentang ujaran bahwa di atas langit masih ada langit," kata Shin Shui bicara sendiri bersama mayat yang sudah terkapar itu.
Mayat Kiam Mo Kong masih terlihat utuh. Bahkan darah yang keluar pun tidak terbilang banyak. Pakaiannya juga masih bisa dibilang utuh. Tidak semuanya rusak.
Tentu saja. Karena Shin Shui membunuhnya dengan Jurus Pedang Cahaya.
Sebuah jurus pedang yang sampai sekarang belum ada tandingannya. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana Shin Shui bisa melakukan gerakan secepat itu. Sebab semua yang melihatnya tidak pernah ada yang selamat.
Pendekar Halilintar membungkukkan badannya lalu mulai memeriksa semua isi kantong Kiam Mo Kong. Semua yang ada dia ambil.
Baik itu sumber daya, dan lain sebagainya. Sebelum pergi, Shin Shui memastikan terlebih dahulu tentang keberadaan di mana obat penawar yang dia butuhkan.
Setelah mendapatkan barang yang dicari, Pendekar Halilintar mengambil satu buah kain yang ada di sana. Di atasnya dia menulis dua kata.
"Pendekar Halilintar"
Hanya dua kata itu saja yang tertera di atas kain tersebut. Setalah itu, dia menaruhnya di atas tubuh Kiam Mo Kong yang terbujur kaku untuk menutupi.
Tujuannya hanya satu.
Supaya semua orang-orang yang ada di pihak Kiam Mo Kong mencari dirinya.
Bukan karena dia merasa hebat. Tapi karena Shin Shui ingin membereskan semuanya.
__ADS_1
Orang bilang, kalau membabat pohon, maka harus sampai ke akar-akarnya.
Dan itulah yang dilakukan Pendekar Halilintar.
Obat penawar sudah di tangan. Hasil jarahan sudah dipegang.
Saatnya untuk pulang kembali ke Gunung San-ong.
Dia segera melesat keluar dari Bukit Hitam. Tubuhnya meluncur deras bagaikan lesatan anak panah yang lepas dari busur. Hanya beberapa saat saja, Shin Shui sudah keluar dari hutan.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, dia langsung terbang bagaikan burung elang yang gagah perkasa. Udara malam yang dingin tidak menjadi hambatan.
Angin barat menusuk tulang. Suara burung mewarnai perjalanan sang Pendekar Halilintar. Jubahnya berkibar megah di bawah rembulan yang bersinar terang malam ini.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas kemudian, Shin Shui sudah berada jauh dari Bukit Hitam yang telah menjadi tempat.
Tempat kematian bagi Kiam Mo Kong.
###
Tiga hari telah terlewati lagi. Shin Shui sudah tiba di bawah Gunung San-ong. Dia langsung mendaki gunung menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai puncaknya.
San Ong dan Ong San.
Di dalam goa, Ong San langsung melesat keluar. Dia merasakan adanya kehadiran orang lain. Terlebih lagi karena merasa adanya energi besar.
Begitu mengetahui bahwa energi tersebut berasal dari tuannya, siluman kera putih itu langsung memburu menghampirinya.
"Tuan Muda, apakah obat penawar itu telah berhasil didapatkan?" tanya Ong San.
Suaranya masih parau seperti habis menangis. Bahkan walaupun wajahnya dipenuhi oleh bulu, tapi tetap terlihat kesedihan yang mendalam.
"Kenapa kau terlihat sedih? Apa yang sudah terjadi?" tanya Shin Shui tidak kalah penasaran.
"Keadaan San Ong semakin parah Tuan. Dari semalam hingga pagi hari ini, racun itu terus menerus menyiksa dirinya. Bahkan beberapa kali dia berusaha membenturkan kepalanya ke dinding goa,"
"Kalau begitu kita harus cepat ke sana. Masalah obat penawar, kau jangan khawatir. Aku berhasil membawanya," kata Shin Shui lalu kemudian segera menuju ke goa karena mendengar keadaan San Ong yang semakin parah.
__ADS_1
Begitu tiba di dalam, dia mendapati San Ong sedang merintih keras menahan rasa sakit tiada tara yang diakibatkan oleh Telapak Tangan Seribu Racun Bisa Ular. Tubuhnya menggigil kedinginan.
Beberapa kali dia berteriak karena tidak tahan akan rasa sakit yang dideritanya.
"San Ong, kau tenang. Tahan sebentar lagi, Tuan Muda sudah mendapatkan Serbuk Penghilang Racun Seribu Ular sebagai obat penawarnya," ucap Ong San yang tidak tega melihat kondisi saudaranya.
Shin Shui tidak tinggal diam. Dia langsung melakukan persiapan untuk memulai langkah pertama.
"Ong San, kau tahan San Ong supaya duduk bersila. Aku akan menyalurkan sedikit tenaga dalamku supaya mengurangi rasa sakitnya," kata Shin Shui.
"Baik Tuan Muda,"
Ong San langung melakukan apa yang dikatakan oleh Shin Shui. Setelah semuanya siap, proses penyembuhan dimulai.
Energi berwarna biru yang hangat perlahan mulai memasuki tubuh siluman kera putih itu.
San Ong yang tadinya tak kuasa menahan rasa sakit, kini perlahan mulai terlihat sedikit tenang. Suhu tubuhnya kembali normal seperti sedia kala.
Shin Shui menutup jalan darah di beberapa titik penting. Setelah itu, dia kemudian mencari bekas luka yang diderita oleh San Ong.
Saat berhasil menemukannya, Pendekar Halilintar segera menaburkan Serbuk Penghilang Racun Seribu Ular di bagian tubuh yang terluka tersebut.
Tubuh yang mengalami luka itu mengeluarkan asap ketika Serbuk Penghilang Racun Seribu Ular ditaburkan. San Ong menjerit lagi. Beberapa kali dia berteriak. Tapi Ong San tetap memegangnya supaya proses penyembuhan tidak gagal.
Beberapa saat kemudian, proses penyembuhan selesai. San Ong langsung tertidur pulas.
"Biarkan dia tidur. Jangan diganggu," ucap Shin Shui kepada Ong San.
Pendekar Halilintar melangkah keluar. Jalannya santai dan tenang. Dia duduk di atas batu hitam besar sebelumnya saat pertama kali datang ke sana.
Ong San menyusul tidak lama setelah dia duduk.
Keduanya masih diam. Belum ada yang bicara walau satu kata sekalipun. Arak sudah dikeluarkan dari Cincin Ruang.
Shin Shui minum arak dengan lahap. Tujuannya sekedar untuk meringankan beban pikiran yang dia rasakan saat ini.
Orang lain mungkin tidak akan tahu bahwa Pendekar Halilintar itu sedang menghadapi masalah besar. Sebab wajahnya tidak menggambarkan kebimbangan sama sekali.
__ADS_1
Namun walaupun orang lain tidak tahu, Ong San tetap tahu. Karena Ong San bukanlah orang lain.
"Tuan Muda, masalah apa yang sedang kau hadapi saat ini?" tanyanya setelah meneguk guci arak.